"Sandra …!" Teriakan bernada penuh kekhawatiran membuatku yang tengah menahan sakit, menoleh ke arah sumber suara. Sosok pria paruh baya yang cukup familiar di mataku, berdiri dengan kaku di ambang pintu perumahan cluster dua lantai yang telah menjadi tempat tinggalku bersama suami tercinta selama beberapa bulan ini. "Om, tolong, Om." Aku merintih sambil memegangi perutku. Sungguh hatiku terasa nyeri membayangkan kalau sampai terjadi apa-apa pada janin yang tengah kukandung. Allah …. Kalau boleh hamba meminta selamatkanlah janin dalam kandunganku. Dengan d**a berdebar hebat aku terus berdoa dalam hati agar ketakutanku tak terjadi. "I-iya iya." Dengan cepat pria paruh baya yang wajahnya seperti diliputi perasaan, cemas luar biasa mengangkat tubuhku dan buru-buru membawaku masuk ke mo

