"Mama … El kangen." Aku menggumam dalam tangis. Bayang wajah cantik wanita yang pergi 12 tahun lalu, membayang lagi di kepala saat diriku kembali merasa jika dunia ini terlampau kejam dan jauh dari kata adil untuk seorang Elfara Adriana. Aku yang masih saja terisak, dibuat tersentak saat pintu kamar terbuka selang sepuluh menit sejak dia meninggalkanku dengan hati penuh luka. Dengan bermacam hinaan dan caci maki berkali-kali yang dilayangkan padaku. Sambil mengusap air mata dengan punggung tangan, aku buru-buru memalingkan wajah dan membalikkan badan dengan cepat saat menyadari sepasang mata itu tak berhenti menatapku. "Apa kau ingin menghabiskan waktu sepanjang malam hanya untuk menangis?" tanyanya terdengar dingin dan jauh dari kesan ramah, ketika langkahnya semakin dekat menghampirik

