“Hmm, kita lihat nanti, oke? Kamu istirahat dulu, Dinda.” “Mas, aku mohon jawab, aku nggak mau pulang sama kamu kalau belum dapat jawaban, apapun jawabannya, aku akan terima, Mas.” “Benar? Apapun jawabannya?” tanya Reyhan. Adinda langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Reyhan, dia benar-benar penasaran dengan jawabannya, tidak bisa dinanti-nanti lagi. “Dengar, dari dulu sampai saat ini, saya memang masih mencintai kamu, ya, walaupun sekarang cinta itu sudah terbagi untuk Karina,” ucap Reyhan dengan lantang. “Ohhh, gitu, ya, Mas?” “Kenapa? Tidak percaya? Saya sudah mencintai kalian berdua dengan sangat adil, bukan? Nafkah pun tiap bulan selalu adil,” cecar Reyhan. “Tapi, sayangnya nafkah batin nggak, Mas.” “Maksud kamu apa, Dinda? Kamu mau gitu hmm?” Adinda lagi dan lagi memberan

