“Masih pusing, Karina? Saya sudah bilang ayo, kita ke rumah sakit saja,” cecar Reyhan. “Nggak usah, jangan so baik!” “So baik bagaimana? Mana mungkin saya tega, ayo, ke rumah sakit.” Karina berontak di saat Reyhan memaksanya untuk ke rumah sakit, berjalan lebih cepat menuju ke luar ruangan, sebisa mungkin Reyhan mengejar walaupun Karina berteriak tidak mau diikuti. “Jangan mendekat, aku nggak mau!” Karina pun berhasil berlari sekuat tenaga walaupun keadaannya saat ini lemas, dan tak bisa menahan rasa mual itu. Beberapa karyawan menyapa karena khawatir tetapi Karina tetap pergi dari kantor menuju jalanan. Reyhan pun tak tinggal diam, dia mencari-cari sampai akhirnya melihat Karina yang saat ini sudah masuk ke dalam taxi, dan pergi. “Kenapa kamu, Karina. Padahal saya sudah menuruti ke

