98. Sebelum Terlambat

1083 Kata

  Guratan tanda-tanda yang semakin senja terlihat sangat jelas pada wajah Dewo Dewananta, keningnya berkerut, netra yang berwarna coklat muda itu kadang terlihat menyipit, menatap hampa jauh kedepan, menerawang, menerjang silaunya masa lalu yang sudah mulai memburam dan sirna, kini terasa nyata kembali. Dewo terus memandangi foto yang di kirimkan cucunya itu.    Baharudin Hamuk, dia kembali dengan membawa luka yang tertutup bara, kini bara itu mulai melahirkan suluh, dia datang dengan memboyong sejuta dengki yang dibalut apik oleh dendam.     "Eiiium Munir, coba kamu cek, ada hubungan apa antara Nyoman Wastanto dengan Baharudin Hamuk,  secepatnya kamu kasih kabar ke saya." Titah Dewo kepada Munir yang merupakan seorang Intel.    "Siap pak." Sahut Munir. Tak membutuhkan waktu yang lama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN