Langit sore mulai merona jingga ketika Raden Arya Maheswara melangkahkan kaki memasuki pendopo utama keluarga Maheswara. Suasana di sana terasa tenang, namun dingin. Udara sore membawa aroma teh melati yang biasa diseduh oleh Mbok Darmi untuk Eyang Adiguna — aroma yang selalu mengingatkan Arya bahwa rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat penghakiman moral bagi siapapun yang menentang nilai-nilai keluarga. Tempat dimana tetua mereka berada dengan membawa tata krama dan aturan yang ada. Langkah-langkah Arya terdengar berat di atas lantai marmer. Begitu sampai di serambi utama, ia melihat Eyang Adiguna sedang duduk di kursi goyangnya, mengenakan beskap abu tua, ditemani oleh Raden Ayu Kirana yang duduk di sisi lain meja, membacakan beberapa berkas. Ayu mendongak pelan, ma

