Langit Istanbul tampak kelabu sore itu. Dari balik dinding kaca ruang kerja lantai atas Tanumaja Eurasia Office, Linggar berdiri dengan rahang mengeras. Setelan jasnya rapi, dasi terlepas dan menyisakan kemeja dengan satu kancing—tanda kekesalan yang tak bisa ia tutupi. “Apa gunanya timeline kalau terus saja molor begini, Jas?” suaranya berat, rendah, tapi jelas mengandung amarah yang ditahan. “Proyek Izmir seharusnya closing bulan lalu.” Rajas berdiri tegak di hadapannya, tablet di tangan. Ia menghela napas pelan—sudah hafal betul nada itu. Nada seorang pria yang ingin pulang, bukan sekadar ingin selesai bekerja. Memang beberapa bulan ini Linggarjati dihajar habis-habisan oleh proyek yang terus menerus di oerbarui. Yang awalnya hanya ingin menyelesaikan. Berujung menambah pekerjaan. Se

