Bandara Istanbul pagi itu diselimuti hawa dingin yang mulai menggigit. Musim gugur hampir usai—pepohonan di luar kaca besar terminal internasional telah meranggas, dan langit kelabu menandai datangnya winter yang sebentar lagi akan menguasai kota. Linggar berdiri tegak di depan jendela kaca, tangan kirinya masuk ke saku mantel hitam panjang yang membalut tubuh tinggi tegapnya. Darah campuran yang mengalir di nadinya membuat pesonanya tak terbantahkan—rahang tegas khas Jawa berpadu dengan garis wajah Timur Tengah yang dingin dan berwibawa. Setiap langkahnya selalu menarik perhatian, tanpa dia sadari itulah pesonanya. Rajas berdiri sedikit di belakang, menenteng tablet dan beberapa map penting. Tanpa menoleh, Linggar bersuara. Datar dan tegas. “Kau tahu bukan apa yang harus kau selesaikan

