Cukup. Semua yang dia dengarkan sudah cukup membuat hatinya merasa tercabik. Raden Arya tidak ingin mendengar satu huruf pun lagi. Tidak dari mulut Sekar. Wanita iblis itu. Tidak dari mulut Pram. Lelaki mokondo yang hanya bermodalkan kelamin murahannya. Tidak dari kedua ular yang telah membuatnya buta selama ini. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya dengan wajah yang masih merah menanhan murka. Lalu— BRAAAAKK!!! Pintu kamar terpental keras, menghantam dinding. Engselnya nyaris copot, sekrupnya sudah bergeser ke posisi lain. Arya tidak peduli. Dia bisa menggantinya lagi dengan yang lebih bagus. Seperti ia yang hendak membuang para hama di depannya ini. Sekar menjerit kecil, “Arya?! A—A—” Pram tersentak, bangkit dari duduk—tapi terlambat. Arya sudah di sana. Wajah lelaki itu sudah

