"Bagaimana aku bisa berlari ditengah badai yang menerjang hidupku"
"Lo gapapa Sya?" Tanya Keyra saat ditengah jalan Syara tiba-tiba mumuntahkan banyak alkohol, dan tentu sangat berbau dan menyengat dipenciuman Keyra.
Keyra memarkiran mobil di jalanan yang sedikit sepi agar Syara bisa membuang sisa-sisa alkohol dari perutnya.
Uwekk......
Syara memuntahkan banyak Alkohol ke baju Keyra, sebelum Keyra berhasil membawa Syara keluar dari mobil untuk memuntahkan semuanya.
"Syara mahhh jorokkkkkkk" Oceh Keyra kelewat jijik.
"gini kan jadi gue yang bau." Keyra mendengus pelan, menatap nanar bajunya. Setelah itu mau tak mau gadis itu pasrah saja.
menancapkan gas mobil nya segera menuju rumah Syara. Setelah mengantar Syara pulang,Keyra langsung menuju rumah,tak ada minat untuk membeli cemilan terlebih dahulu seperti yang sering Keyra lakukan.
Mengetahui jam sudah menunjukkan angka 20:00 Keyra panik sendiri.
Da sudah telat pulang dari jam biasanya. Tidak masalah dengan Mama dan kakak nya karena mereka begitu mudah untuk Keyra lawan namun yang Keyra takutkan adalah papanya, Dean.
Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata,jujur kali ini Keyra benar-benar takut.
Keyra memasuki rumahnya. Dengan keadaan yang compang-camping. Keyra bersyukur mobil Papa nya belum ada di garasi,itu berarti Papa belum pulang.
****
"Keyra dari mana saja kamu? lihat sudah jam berapa ini?
sudah berapa kali Mama bilang,anak cewek ga baik pulang kemalaman. Baju kamu juga compang-camping semua!! Ya ampunan Keyra!! Kau tahu peraturan ga sih?? Kalau sampai Papa kamu lihat,habis kamu!!" Mama Vita yang sedari berdiri di depan rumah menanti putri bungsu nya yang tak kunjung datang mulai mengeluarkan u*****n.
Ia sungguh khawatir mengingat Dean akan segera pulang dan Keyra belum juga kembali. Vita tahu, Dean adalah tipe Ayah yang tegas, jika ia menemui Keyra belum ada di rumah semalam ini,habislah riwayatnya.
Keyra hanya mendengus pelan dan mengabaikan ocehan Mama nya. Berjalan santai kedalam rumah seolah Mama tidak ada di sana memberi ia nasehat.
"Keyra kamu dengar Mama tidak?" Bentak Mama Vita yang mulai kesal dengan sifat Putri nya itu. Harga dirinya di injak-injak, Keyra mulai melebihi batas.
Andre yang mendengar keributan itu langsung turun kebawah dan melihat betapa buruknya penampilan adiknya itu.
Sampai-sampai pulang malam seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Sedari Andre hanya sibuk belajar di kamar. Tanpa tau bahwa Keyra belum pulang ke rumah,sedangkan Mama Vita tidak mau mengganggu Putra nya itu, kalau sudah berurusan dengan tugas dan pendidikan.
Mama tahu betapa beratnya tugas mahasiswa tingkat akhir, Mama tidak akan menambah beban Andre dengan mengatakan bahwa adiknya Keyra tak kunjung pulang.
Sembari menuruni anak tangga dengan gontai "Keyra kamu minum alkohol?"Tanya Andre intens setelah mencium aroma yang tidak asing untuknya Keyra. Tak menyangka, sekali lagi Andre merasa gagal menjadi seorang kakak laki-laki untuk Keyra.
"Gak"Jawab Keyra datar. "Nampak bener Lo ga pernah minum alkohol,gabisa bedain minum sama terkena tumpahan minuman menjijikkan itu," Pada kalimat terakhir, Keyra membiarkan ucapan itu terdengar olehnya saja.
"Udah ah,lebay!" Keyra hendak melanjutkan langkahnya sampai saat mendengar bentakan Mama Vita,ia berhenti.
"Ini jelas-jelas bau Alkohol Keyra," Kakak laki-laki itu berusaha sabar. "Kamu kenapa sih,dek.." suara Andre terdengar frustasi.
Andre saja belum pernah mencoba minuman itu bagaimana mungkin Keyra melakukan hal yang sekuat tenaga Andre hindari di zaman sekarang ini.
"Kamu ga klub kan---dek?" Tanya Andre dengan suara memelan. Tak ada jawaban, Keyra kembali acuh tak acuh terhadap Andre dan Mama yang mulai menangis.
"Kamu ke klub Keyra?" Tanya Mama Vita dengan intonasi yang datar namun sangat menyeramkan. Wanita itu bergerak mendekati Keyra.
"Keyra jawab Mama, kamu pergi ke klub?" Lagi, Mama Vita melontarkan pertanyaan yang sama.
"Keyra, sekali lagi Mama tanya. Kamu pergi ke klub?" Untuk pertanyaan kali ini, tangan malam mulai mengepal.
"Pergi sama siapa kamu? Ngapain kamu kesana?"
"KEYRA JAWAB!!! Jual diri kamu?? Kurang uang yang Mama berikan? Mau jadi apa kamu hah!! ANAK KURANG AJAR, GA TAHU DI UNTUNG KAMU!!" Ucap Mama dengan kemarahan yang memuncak. Dibelakang Andre berusaha menahan Mama yang hendak melayangkan sebuah vas bunga.
"Keyra!!"
PLAK!!!
"Apaaan sih Ma!! Iya, Keyra ke klub. Kenapa emang??" Ucap Keyra dengan nada menantang.
Plak....
plak...
plak......
Tamparan keras mendarat di pipi Keyra bertubi tubi. "Kenapa kamu lakukan ini Keyra?" Bentak Mama Vita. "Kenapa kamu nak, kenapa?? Dosa apa Mama sama kamu huh? Apa salah Mama Key...apa Key.." Mama terisak-isak.
"Mama apaan sih?" Decak Keyra. "Keyra ke Klub tapi Keyra ga minum,Ma. Mama kenapa sejak dulu ga pernah mendengarkan penjelasan Keyra dulu sebelum bertindak. Mama ga tau apa-apa tentang Keyra, jadi Mama ga berhak nampar Keyra," Suara Keyra penuh penekanan. Sambil memegang pipinya yang memerah, gadis itu mengalihkan pandangannya dari Mama. Hatinya terluka melihat Mama sesedih ini dan itu karena ulahnya.
Keyra langsung pergi meninggalkan Mama dan Andre. Menangis terisak menuju kamar.
Di temani Andre yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, Mama hampir saja ambruk. Karena tentunya Andre sangat menyayangi Keyra, lantas apa yang bisa ia lakukan dalam posisi ini?
Andre tahu Keyra adalah anak yang baik namun sesuatu telah mengubahnya. Sesuatu yang masih Andre tidak mengerti.
****
Sinar matahari memasuki celah jendela kamar Keyra yang terlihat anggun. Gadis itu tidak berniat untuk bangun walau kicau burung dan sengatan matahari pagi menusuk kulit wajah nya. Semalam Keyra sangat lelah hingga hari ini, rasanya seluruh bagian tubuhnya hampir retak.
Hari ini hari Minggu,tidak ada aturan untuk bangun pagi dan berangkat sekolah. Keyra tentu mengunakan seluruh waktunya untuk merebahkan tubuh mungilnya.
Suara ketukan pintu mengganggu tidur manis gadis berambut sebahu itu. "Non Keyra, di panggil tuan ke ruang kerja nya sekarang. Non Keyra sudah bangun kan?" Ujar Mbok Asih tenang. Mbok Asih merupakan pembantu rumah tangga keluarga Keyra.
Hampir lima menit ia berdiri seperti orang linglung didepan kamar Keyra, antara diabaikan atau memang pemilik kamar belum bangun. Intinya, Mbok Asih tidak berani menginjakan kaki di kamar Keyra.
Hanya sebatas didepan pintu, Mbok Asih takut gadis itu marah hingga kejadian beberapa bulan yang lalu terulang. Singkatnya, Mbok Asih sempat di usir dari rumah oleh Keyra. Begitulah Keyra memperlakukan orang-orang dirumah nya.
"Nona Keyra, bangun Non" Panggil Mbok Asih lagi.
"Dipanggil Tuan keruang kerja non," Suara Mbok Asih lebih kuat dari sebelumnya. "Udah jam 10:00 lho, bangun Non,"
Keyra berusaha membuka matanya, menstabilkan cahaya matahari yang masuk penglihatannya. Remang-remang ia langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk hingga pusing tiba-tiba merajalela.
"Non Keyra!" Panggil Mbok Asih sekali lagi.
Mengeliat lelah, Keyra memegangi kepalanya yang amat pusing."iya Mbok, nanti Keyra datang yaa..." Jawab Keyra dengan suara serak dan kembali menutup matanya. Baru saja ia ingin kembali keposisi tidur, suara Mbok Asih kembali terdengar.
"Sekarang Non Keyra,nanti Tuan marah lho,dari tadi tuan nyariin Non Keyra," Elak Mbok Asih. Ia hapal betul bagaimana sifat anak majikannya itu.
Keyra menghela nafas panjang "Iya-iya Keyra datang nanti,lima menit lagi Mbok. Key cuci muka dulu, tolong bilangin ke Papa" Ujar Keyra malas dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
*****
Keyra memasuki ruang kerja Dean, Ayahnya. Tanpa mengetuk pintu atau sepatah kata, gadis itu langsung duduk di depan meja Dean. Dean sejak tadi hanya sibuk dengan laptop nya, sampai-sampai pria itu tidak menyadari kedatangan Keyra.
Keyra pun hanya diam sambil memainkan ponsel nya. Tidak mungkin seorang Keyra membuka topik pembicaraan pertama,ya!? kecuali jika dengan Syara.
Tak lama Dean akhirnya menyadari bahwa Keyra sudah berada di hadapannya"Sudah datang kamu Key," Ucap papa Dean, masih menatap ke arah laptopnya.
"Hm,"
Papa Dean menghela nafas panjang. Sambil menutup laptopnya secara perlahan"Keyra letak kan ponsel nya, tolong" Suruh Papa dengan mimik serius.
Keyra merasa ada yang tidak beres,seperti ada aroma-aroma pertikaian selanjutnya.
Meletakkan ponsel nya,lalu beradu tatap dengan papanya. Keyra masih terlihat santai berbeda dengan jantungnya yang sudah berdegup kencang.
"Gimana sekolahnya Key? Lancar bukan?" Papa bertanya,ia meneguk teh manis hangat hingga habis setengah.
Keyra menaikkan bahu sebagai jawaban. "Lancar-lancar aja" Jawabnya.
Hanya dengan begitu Dean kembali mengangguk-angguk paham. "Mau menjelajahi pergaulan dengan lebih bebas lagi?" Lagi, Papa membiarkan Keyra pusing akan pertanyaannya. Ambigu, terlihat gadis itu mulai mengerutkan keningnya.
"Maksud Papa?" Keyra malah melontarkan pertanyaan kembali.
Kini Dean yang menaikan bahunya, menjadi kekesalan sendiri untuk Keyra. Jangan ajarkan Keyra peka karena itu bukan bagian dari hidupnya.
"Papa hanya menawarkan,mau ga?" Papa tersenyum lebar.
"Ga jelas." Keyra mencabik. "Papa mau ngajak Keyra liburan?"
"Kurang lebih seperti itulah, Keyra mau?"
"Tentu, Keyra butuh refreshing. Kemana?" Tanpa sadar Keyra sudah terjatuh dalam perangkap Papa Dean.
"Papa sudah memikirkan matang-matang tentang pendidikan kamu selanjutnya Keyra, putriku.Papa harap kamu mau menerima keputusan Papa," Tanpa ba-bi-bu, Dean langsung melontarkan pernyataan yang sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Baginya ini cukup berat tapi masa depan Keyra adalah yang utama.
Keyra hanya diam tidak mengerti. Jantung nya berdetak kencang, bukankah Papa ingin mengajaknya liburan? Lalu mengapa ucapan Papa seolah-olah ingin---Ada hal buruk yang akan menanti Keyra saat ini. Keyra langsung memperbaiki posisi duduknya.
Berdehem pelan "Kita mau liburan kemana Pa? Pendidikan? Liburan ke Finlandia,Pa? Iya Keyra tahu disana pendidikan bagus banget tapi bukankah Austria jauh lebih baik untuk dikunjun--"
"Kamu akan pindah sekolah," Ucap Dean. Butuh sepersekian detik untuk Keyra mencerna ucapan Papanya.
"Apa!!!"Ucap Keyra spontan sambil berdiri dan memberikan tatapan intens, hendak protes dengan Papa Dean.
"Papa ga usah aneh-aneh deh," Keyra tak habis pikir.
"Dengar kan Papa dulu Key," Ucap papa Dean dengan tegas dan dingin. Ucapannya sangat serius terlihat dari tatapannya yang tidak seperti biasanya.
"Kamu akan melanjutkan sekolah di Jakarta. Dengan pendidikan dan fasilitas yang bagus lagi," Lanjutnya. "Kamu suka menjelajahi pergaulan anak remaja zaman sekarang bukan? Maka begitu pergilah ke Jakarta,kau bebas disana" Ucap Dean.
"Engak Pa, Keyra ga mau pindah. Siapa juga yang mau menjelajahi pergaulan bebas zaman sekarang,aneh Papa!!" Keyra tertawa kecil, menganggap ucapan Dean hanyalah sebuah candaan untuk menguji Keyra.
Keyra tahu Dean tak bisa jauh darinya, Keyra tahu Dean sangat menyayanginya dan Keyra tahu Dean tak bisa hidup tanpanya. Katakan jika sebuah ini hanyalah sebuah candaan.
"Candaan Papa ga lucu, yakali Keyra pindah,"
"Papa tidak sedang becanda!!"
Keyra terdiam cukup lama. "Papa serius? Papa mau Keyra pergi dari rumah ini?"
"Tidak ada bantahan dan tidak ada penolakan. Kamu akan tetap pindah sekolah dan surat pindah mu akan segera Papa urus. Minggu depan kamu akan mulai sekolah disana, ditempat barumu " Jelas Papa. Kali ini Keyra tak bisa menemukan bibit sebuah candaan disana.
"Engak Pa engak!! Keyra ga mau pindah, Keyra mau tetap disini. Pa, Keyra---"
"Akan lebih baik di sana Keyra. Kamu tidak mendapatkan pendidikan yang bagus disini, kamu terlalu terobsesi dengan harta dan martabat sampai-sampai tidak memperdulikan pelajaran lagi."
"Papa ga jelas banget!!" Keyra berdiri sambil memukul meja. "Pergaulan bebas, pendidikan, terobsesi, harta, martabat sebenarnya apa yang Papa inginkan??"
"Keyra ga pernah terobsesi dengan harta,Pa" Keyra tersenyum miris dengan suara memelan. "Apa papa ga salah ngomong? Papa yang terobsesi dengan pangkat dan jabatan Papa sampai-sampai Papa mau buat Keyra pindah sekolah untuk pendidikan yang lebih bagus."
"Semua sekolah itu sama Pa,"Ucap Keyra
"Tapi kamu yang berbeda Keyra, jangan bertingkah seolah kamu pihak yang tersakiti disini. Jangan bertingkah seolah Papa tidak mengerti akan kamu DAN JANGAN BERTINGKAH SEOLAH SEMUA YANG KAMU LAKUKAN SELAMA INI TIDAK PAPA KETAHUI," Bentak Dean.
"PAPA MEMANG GA PERNAH BISA NGERTIIN KEYRA, KALIAN SEMUA GA PERNAH BISA NGERTIIN KEYRA!!" Dan sekarang gadis itu telah berani membentak Papanya untuk pertama kalinya.
"Kamu tau Papa kan Keyra," Dean berusaha sabar. "Tidak ada penolakan dalam kamus papa. Mau tidak mau, setuju tidak setuju kamu akan tetap pindah sekolah."Putus Papa Dean. Dean berusaha agar tidak termakan emosi pada putrinya itu, walau untuk pertama kalinya putrinya membentak seperti itu.
"Pokok nya Keyra ga mau Pa. Keyra akan tetap sekolah disi---"
"Mulai besok kamu tidak usah sekolah lagi. Papa akan urus surat pindah mu segera"Potong Dean sebelum Keyra melanjutkan ucapannya.
"Pa---Key ga mau Pa. kalau Keyra ada salah sama Papa,Keyra minta maaf,bukan gini caranya Pa---" Akhirnya gadis itu menitikkan air mata. Rasanya ada yang hilang dari dalam hidupnya
"Papa mau buang Keyra? Papa ga peduli lagi sama Keyra?? Papa ga sayang lagi sama Keyra?"
"KEYRA!! Sekali Papa bilang pindah, kamu tetap pindah!! tidak ada penolakan. Dengar itu!! Bentak Papa Dean marah. "Sekarang keluar dari ruangan,Papa"
Keyra hanya diam dengan amarah yang memuncak,seraya memukul meja keras ia berlalu keluar dari ruang kerja Papa nya. "Keyra benci sama Papa, Keyra benci!!"
Lantas apa yang bisa diucapkan oleh anak yang hancur keluarganya?
*****
Happy reading and publishing, siap menunggu untuk bab selanjutnya?? Jangan lupa berikan cinta kalian. Aku mencintai Kalian semua