Pamit

2174 Kata
"Hari ini kukatakan,aku menyerah" "Mama lihat sekarang!! Papa mau ngusir Keyra dari rumah. Papa ga peduli lagi sama keyra. Sekarang Mama puas kan!!" Bentak Keyra pada Mama Vita yang sedari duduk di ruang tamu bersama Andre. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Mama binggung. Bahkan dia tau kenapa putri nya itu marah-marah tidak jelas padanya. "Kakak juga. kakak puas kan? kakak puas Keyra akan segera pergi dari rumah ini!! Keyra bakal pergi dan kakak berkuasa di rumah ini,iya kan kak?" Bentak Keyra lagi pada Andre. "Kamu kenapa Keyra?Tanya Andre lagi bingung."Datang-datang marah-marah ga jelas, kamu kenapa hm?" "Kalian kenapa sok polos huh? Keyra tau kalian bilang semuanya sama Papa, biar Keyra di usir dari rumah.iya kan Ma,kak??" Tanya  keyra dengan nada yang tinggi. Tapi tetap tidak ada sebutir air mata pun yang lolos dari mata coklat milik Keyra. "Kamu ngomong apa sih Keyra? Mama ga ada ngomong apa-apa sama Papa kamu. Kamu ini kenapa sih,nak.." "Mama ga usah bohong. Keyra tahu Mama juga benci sama Keyra dan sekarang Keyra akan pindah sekolah,Mama pasti puas!!! Karena anak pembawa sial ini akan pergi." Ujar nya dengan lautan emosi memuncak. "Mama ga ada bilang sama Papa,Keyra. Bahkan Mama selalu menyelamatkan kamu dari semua kelakuan buruk kamu"Sambung Andre membela. "Jadi darimana Papa tau kalau ga dari Mama, kak?" Keyra frustasi. "Papa tau semua Keyra. Dan kamu sudah tahu kan alasan Papa mindahin kamu sekolah?  Kamu ga usah mengelak lagi,semua tentang kamu Papa,tahu. Papa tau kamu ke klub, Papa tahu kamu melakukan bullying di sekolah, Papa tahu kamu di hukum karna selalu melawan guru dan Papa juga tau kamu sering bolos." Ucap Papa penuh penekanan. Dari arah tangga ia berjalan mendekati ketiganya. "Papa tidak mau kamu jadi begini Keyra.Dan kamu harus pindah sekolah,terima keputusan Papa. Semua yang Papa tahu tentang kamu bukan dari Mama ataupun kakak mu, Andre.  Pengawasan Papa untuk kamu, jangan berpikir kamu bebas selama ini. SEKARANG waktunya,selama ini Papa diam atas kelakuan kamu,Keyra dan  kesalahan terakhir, Papa tidak bisa memaafkan kamu lagi." Ucap Dean tegas. "Jangan berpikir kamu bebas selama ini, Keyra. Bahkan sejengkal saja kamu ingin meninggalkan rumah ini Papa tahu," "Dan ingat satu hal,kamu akan mulai sekolah di sekolah barumu minggu depan.Papa harap, kamu jangan terkejut dengan tempat tinggal kamu nanti disana. Nikmati harimu hari ini,"Ucap Papa lalu berlalu meninggalkan mereka. Mama menangis tersedu-sedu setelah mendengar penuturan suaminya. seandainya dia bisa mendidik Keyra dengan baik, mungkin putrinya itu tidak akan pergi darinya. Dia lupa siapa suaminya, sekarang Keyra sudah terjebak dan harus menerima akibatnya. "Sekarang kalian sudah puas kan!! Keyra akan segera pergi dan ingat suatu yang pergi tidakpernah berniat untuk kembali," "Dan Keyra harap kalian ga akan terkejut nantinya. Keyra masih tetap bertahan atau mungkin Keyra ga akan pernah kembali untuk selamanya," Hanya dengan begitu, Keyra pergi meninggalkan Mama dan Andre. **** Keyra turun ke lantai satu setelah agak lama mengurung diri di kamar. Menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa,mengabaikan Andre,Papa Dean dan Mama Vita yang sedari  menatap pergerakannya. Keyra terus berjalan tanpa menatap mereka. Sampai saat ucapan Papa menghentikan langkahnya. "Kamu tidak perlu sekolah hari ini,"Ucap Papa begitu singkat. Keyra memutar bola matanya jengah walau begitu ia tetap saja berjalan membuka gagang pintu hendak keluar rumah. "Apa kamu tidak dengar Papa?" Ujar Papa dengan suara keras hingga menghentikan acara makan mereka semua. "Keyra pindah sekolah itu minggu depan dan sekarang bukan minggu depan kan?" Ucap keyra penuh penekanan. Pakaian sekolah yang ia kenakan sudah begitu rapi, Keyra tetap bersekukuh melawan perintah Ayahnya. "Masuk kamar, Keyra. kamu tidak perlu sekolah hari ini," Ujar Papa lagi dan langsung beranjak dari tempat duduknya. "Pa---"Ucapan Keyra terputus saat Papa Dean keluar dari rumah dan mengabaikan nya. Sebatas lalu lalang seakan Keyra tak ada disana. Keyra mendengus kesal. Dia tau apa yang akan terjadi jika berani membantah perintah Ayahnya. Keyra tak cukup mental,ia cukup tahu tipekal seperti apa Ayahnya itu. "Sayang kamu ke kamar aja ya,"Suruh Mama sambil mengelus bahu Keyra langsung di balas tatapan intens dari Keyra. "Keyra benci Mama, sangat-sangat benci!!" Menepis kasar tangan Mama Vita. Lalu gadis itu pergi. Satu kata yang sangat menusuk buat Mama Vita. Sekali lagi, Keyra berhasil membuat Mama Vita meneteskan air mata. Seolah tak terjadi apa-apa, Keyra begitu lihai menaiki anak tangga menuju kamarnya hingga sesaat suara benturan keras terdengar. Keyra membanting pintu kamarnya. **** Keyra menjatuhkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Pikiran nya kacau,bagaimana mungkin Papa Dean serius akan memindahkan Keyra ke Jakarta. Dan satu lagi "Jangan terkejut sama tempat tinggal mu nanti" Ucapan Papa melayang-layang di benak Keyra. Apakah Papa Dean akan membuat Keyra tinggal di asrama? Intinya Papa seperti ingin membuang Keyra. Hanya itu yang bisa Keyra pikirkan saat ini. "Papa pikir Keyra SEMANDIRI itu APA!! sampai harus pindah sekolah ke Jakarta?" Teriak Keyra tiba-tiba. Entah kemana ia bisa mengeluarkan segala resah gelisah yang menyerang secara tiba-tiba seperti ini. Keyra berpikir sejenak. Syara? Satu nama yang melayang-layang di benaknya. Bagaimana mungkin Keyra bisa meninggalkan Syara? Syara satu-satu orang yang mengerti akan Keyra dan Syara-lah satu-satunya orang yang sefrekuensi dengan Keyra. Keyra tak bisa hidup tanpa Syara. "Chat kali ya?" Batin Keyra. Sambil mengambil ponselnya dari atas nakas. "Tapikan sekarang masih jam pelajaran!!" Pikir Keyra lagi. "bodoh!!Yakali si Syara masuk kelas. palingan bolos juga tuh anak,"Tambah Keyra lagi dan sekarang ia seperti orang gila yang sedang memikirkan sesuatu. "Pulang sekolah jumpa di cafe biasa. Ada yang mau gue omongin sama Lo" Keyra mengirimi Syara pesan,tak lama ponselnya berdering lagi. Layar penampilkan nama Syara disana. "Lo di mana? gue tungguin sampai keringat dingin nih di rooftop!!"  Walau hanya sebuah kata-kata, Keyra dapat menangkap bagaimana wajah memelas Syara saat ini. Lagi, Keyra merasa dicabik-cabik. Akankah Keyra sanggup mengutarakan segalanya pada Syara? Dan akankah Syara bisa menerimanya? "Seperti tebakan, gue tahu Lo bolos lagi kan" Keyra membalas pesan Syara secepat mungkin. "Ya iyalah!! btw Lo dimana sih? ga sekolah Lo? Sakit Lo ya?? Bilang dong dari awal, jangan buat gue menunggu lama hahah. Lo tahu kan,gue suka kangen sama Lo?"   Balasan barusan kini berhasil meruntuhkan pertahanan Keyra. Keyra menangis, menangis dalam diam. Benar,Syara adalah pengaruh besar dalam hidupnya. " Gue ga sakit kok,gue tunggu nanti ya. INGAT jangan bolos!! belajar sana. Sampai ketemu nanti," Secepatnya Keyra mengalihkan topik pembicaraan. Melempar ponselku lalu berbaring telentang. Keyra menghembuskan nafas panjang.Hari ini Keyra merasa dirinya seperti putri yang terkurung dan membutuhkan pertolongan segera. Terbiasa hidup di dunia luar, kebebasan merupakan ciri khas dari Keyra. Jam masih menunjukkan angka 09:00.  Menunggu Syara pulang sekolah masih agak lama. "Gue harus keluar hari ini," Tekad Keyra sambil bersiap- siap.Dibalutkan Hoodie,celana jeans hitam dan jangan lupa dengan masker hitam. Sekarang Keyra terlihat seperti seorang penculik di film anak jalanan.  Keyra menuruni tangga dengan mengendap-endap. Papa Dean sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu. Andre tentunya juga sudah berangkat kuliah.  Sekarang di rumah hanya ada Mama,urusan yang mudah untuk Keyra. "Mau ke mana Keyra?" Tanya Mama yang baru saja keluar dari kamarnya. Tepat dugaan. Keyra mendengus kesal "Cafe" Jawab Keyra singkat padat dan amat jelas. "Papa kan ga ngizinin kamu keluar Keyra," Ucap Mama halus selalu sabar pada putrinya itu. "Ga perduli" Sambil terus turun menelusuri tangga. "Papa tahu kemanapun kamu melangkah, kamu ga lupa kan siapa itu Papa mu? Mama ga mau kamu terus di marahin sama Papa, jangan keluar ya nak,"Ucap Mama dengan wajah yang berkaca-kaca. "Keyra tidak akan lama lagi di sini jadi tolong izinkan Keyra pergi nenangin diri keyra untuk terakhir nya,"Ucap Keyra penuh penekan. Tentunya dengan wajah memelas bahkan Keyra ahli dalam membuat Mama nya sedih hingga tak sanggup menolak permintaan nya. "Kamu cepat pulang ya sayang, jangan lama-lama nanti Mama yang ngomong sama Papa,"Ucap Mama mengijinkan. Keyra langsung pergi tanpa menghiraukan ucapan Mamanya. Dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan. Benarkan, Mama bukan perkara yang sulit. ****** Setelah menunggu lama akhirnya Syara muncul dari balik pintu Cafe,setelah mendapatkan pesan bahwasanya Keyra sudah menunggu di cafe tempat mereka sering menghabiskan banyak waktu. "Bolos?" Tentu saja, ini belum waktunya pulang sekolah dan Syara sudah berada di sini. Entah bagaimana cara gadis itu melakukan semuanya. "Bolos lagi cerita nya?"Tanya Keyra saat melihat kedatangan sahabat nya itu. Syara cepat-cepat duduk dihadapan Keyra, wajahnya begitu cerah dengan butiran keringat turun di dahi nya. "Yoi. Kalau bukan bolos, ngapain gue di sini," ucap Syara enteng, seperti biasanya. "Woi pakaian Lo!! kenapa Lo!! Sakit cacar hah?" Tanya Syara sambil tertawa renyah setelahnya, melihat penampilan Keyra rasa-rasanya Syara ingin tertawa sekaligus menangis. "Udah ketawa nya huh?"Balas Keyra kesal,sambil memutar bola matanya jengah "Santai aja kali Keyra," Syara memicingkan matanya. "Oh,ya!! Kita mau ngapain sebenarnya? Kangen Lo sama gue?" "Yakali!! Lo tuh yang sering kangen sama gue!!" Runtuh Keyra. "Ngaku deh Lo,ga usah malu-malu haha..." Syara merapikan rambutnya yang tadinya amat berantakan. "Gue mau ngomong serius,Sya" Ucap Keyra dengan wajah datar.  "Serius amat sih!!" Syara masih belum paham. "Lo mau nembak gue pake acara seriusan gitu?" Ucap Syara asal  "Gue serius, Sya" "Yaudah ngomong aja ngomong." Ucap syara sambil meminum coklat Oreo milik keyra.  "Gue mau pindah sekolah" Ucap Keyra spontan. Tanpa ba-bi-bu, karena memang tujuan utama Keyra adalah mengucapkan ini bukan menambah luka dalam bagi Syara. Berhasil membuat Syara tersedak karena ucapan Keyra barusan. "Kemana? Yaudah ayo,gue juga bosan sekolah disitu." Syara masih tetap berpikir positif. "Ke sekolah tetangga, lumayanlah cowok-cowok disana ganteng-ganteng hahah, cocoklah sama gue," Sambung Syara. "Gue serius, Sya. Gue mau pindah sekolah," Tekan Keyra. "Yaudah ayo, barengan" Syara tak kalah menekan kata-katanya. "Ke Jakarta, Sya. Lo mau ikut sama gue?" Lalu Keyra menimpali pertanyaan pada Syara. Sedikit sulit berbicara serius pada Syara. "Gila Lo ya!! Ga lucu tau becanda nya!!" Balas Syara berusaha tetap santai. "Gue serius Sya,"Balas Keyra lagi dan lagi. Syara mencari sudut kebohongan dari wajah sahabatnya, tentunya ia tidak menemukannya sedikitpun tidak ada celah disana.Keyra tidak pernah seserius ini, katakan bahwa semua ini hanyalah kebohongan!! Tolong katakan!!  "Bilang kalau semua ini becanda Key!! Ga asik Lo!!' Sungut Syara mulai termakan suasana. "Engak, gue serius. Dan jujur gue juga ga suka dengan hal ini Sya---tapi gue bisa apa?" ujar Keyra jujur. Keyra menghela nafas pelan. Hatinya merasa tidak enak, melihat perubahan raut wajah Syara. "Bahkan belum genap enam bulan kita sekolah disana dan Lo mau pindah?" Pertanyaan besar bagi Syara,ia sungguh tak menyangka pembicaraan dengan Keyra bisa seserius ini. "Gue juga ga mau Sya tapi gue ga bisa!! Ini perintah dari Papa dan gue ga bisa nolak lagi,Sya."Balas Keyra. "Maafin gue Sya, maafin gue. Tolong jangan benci gue, tolong Sya---" "Tapi kenapa Keyra? kenapa tiba-tiba pindah tanpa kejelasan kayak gini?" Tanya Syara "Lo mau ninggalin gue sendiri huh? Biar gue ga punya teman lagi gitu?" Tanya Syara lagi. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja. seorang Syara menangis? Bukankah Syara yang sering membuat orang menangis? Dan alasan menangis nya adalah Keyra? "Papa udah tau semuanya,Sya. Papa udah tahu gue sering bolos, bullying dan terakhir perkara ke Klub kemarin," Ucap Keyra berusaha tegar. Keyra tetap berusaha normal. Menatap sekeliling Cafe untuk menghindari kontak mata dengan Syara.Keyra tidak bisa melihat air mata itu, rasanya Keyra juga ingin menangis. Syara tidak sanggup berkata-kata lagi. Syara berpikir alasan Keyra-nya akan pergi adalah dirinya. "Kalau itu alasan nya, gue yang akan ngomong sama bokap Lo. Lo ga salah, ini semua salah gue. Gue yang ngajak Lo ke Klub kemarin dan Lo ga lakuin apa-apa disana. Ayo Keyra ayo!! kita bilang ke bokap Lo sekarang juga!! Ayo Keyra,Lo ga harus pindah. Ini semua salah gue," Paksa Syara sambil menarik tangan Keyra dan tak lupa air matanya yang menolak untuk berhenti. "Lo kok jadi nangis sih Sya?" Tanya Keyra intens. "Sudahlah,Sya. Semua sudah terlambat. Papa ga akan mengubah pikirannya--- satu hal yang perlu Lo tahu---ini semua bukan salah Lo" Tekan Keyra mengingatkan."Ini semua murni kesalahan gue, Sya" Ucap Keyra pelan. "Keyra,Lo mau pergi gitu aja!? Lo ga mau berusaha,HAH!! LO MAU PERGI GITU AJA??"   "Sya!! Gue sudah berusaha sejak kemarin tapi ga ada gunanya, Sya. Semua terjadi begitu saja dan..dan---ini pantas gue dapetin,gue memang jahat Sya!!!  Mau ga mau kita harus menjalani nya, gue akan tetap pergi"Ucap Keyra berusaha menahan air matanya. Dan apa ini!! Bahkan Keyra sangat kuat hari ini tapi siapa yang tahu hati Keyra yang terdalam? Keyra selalu berpura-pura tegar. Siapa yang rela kehilangan? "Mungkin ini juga saat terakhir kita untuk bertemu,Syara. Gue akan berangkat dan gua ga tahu kapan pastinya,intinya dalam minggu ini gue benar-benar akan pergi," Lanjut Keyra. "Jangan benci gue ya,Lo bakal tetap menjadi orang yang paling gue sayangi." "Gue harap Lo kuat, Syara. Jalani hari Lo seperti biasanya,kita berjuang sama-sama,Lo disini dan gue di sana, sampai bertemu di suatu hari yang bakal kita ukir kembali,"  "Sya,Lo tetap yang terbaik buat gue. Jangan lupain gue ya. Gue harap kita bisa bertemu lagi," "Gue pergi ya" Dua kata yang sangat menusuk hati Syara. jika kalian berpikir kehilangan seorang pacar itu sangat sakit, mungkin kalian belum pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang sahabat yang selama ini selalu ada buat kita. "Dan sekarang kisah ini telah usai, kita menatap langit yang sama dengan cuaca yang berbeda" Sampai bertemu di titik terbaik menurut TAKDIR. Sampai bertemu di suatu hari nanti, Syara. Happy reading Siap untuk bab selanjutnya??? Jangan lupa berikanlah hati kalian untuk cerita ini Sampai jumpa lagi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN