Haura tahu, ia seharusnya tidak memulai. Entah apa yang ia pikirkan hingga ia berbuat demikian. Sekarang Yongtae tidak mau melepaskannya sama sekali. Bahkan sekedar untuk ambil napas pun, kesulitan. Saat Haura berusaha menjauh, Yongtae kembali meraihnya lagi. Haura takut, tapi ini seratus persen salahnya. Bruk! Haura mengaduh kecil, saat punggungnya menghantam karpet dengan cukup kuat. Yongtae kini berada di atas tubuhnya. Haura menelan ludahnya, kemudian ancang-ancang untuk melepaskan diri. Namun sebelum ia sempat melakukan itu, tubuh Yongtae tiba-tiba ambruk di atasnya, dengan kepala berada di samping wajahnya, hingga Haura bisa merasakan ujung hidung Yongtae yang menyentuh pipinya. Dengan perlahan-lahan Haura menoleh untuk melihat Yongtae. Ia rupanya tertidur, ah, entah tertidur ata

