Raira berjalan sambil berpikir mau kemana ia untuk saat ini, ia menendang botol yang tergeletak di jalan. Ia menghembuskan nafas kasarnya. Raira sudah lolos dari kejaran orang tadi, ia takut orang yang mengejarnya tadi adalah orang suruhan kakaknya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan kembali lagi ke rumah itu dan ia juga tidak akan pernah kembali lagi ke rumah Missha. Ia tidak tahu kemana dirinya harus tinggal, luntang-lantung di jalanan seperti gelandangan. Bagaimana caranya ia berfikir, kalau pikirannya saja sudah di penuhi dengan kejadian tadi. Memang benar, dirinya tidak patut untuk disayangi sudah sepantasnya juga ia dibenci. Rasanya dunia ini memang tidaklah adil baginya. Ia juga merasa kalau hidup ini tidak ada artinya. Ia melamun sambil berjalan santai, tib

