Raira membuka kelopak matanya pelan, yang pertama kali dilihatnya adalah Deva-kakak tertuanya. Ia tersentak kaget, ia bangun dari ranjang tapi di tahan oleh tangan Deva. Raira menelan saliva kasarnya, tangannya gemetar melihat wajah Deva yang memerah karena marah. "Bisa tinggalkan kami berdua," kata Deva berdiri dari duduknya. Tanpa berbicara dulu, mereka langsung keluar dari UKS meninggalkan Deva dan Raira berdua. Deva menatap Raira, Raira yang tahu sedang di tatap pun segera menatap lurus ke atas. "Seharusnya kamu menelpon saya terlebih dahulu, jika ada kejadian seperti ini menimpamu." Deva duduk kembali di samping Raira. "Aku-aku tidak mau menganggu pekerjaan kak Dev," ucap Raira pelan. Deva berdecak. "Setidaknya kalau bukan saya, bicaralah pada Aksya atau Rey." Raira memejamkan

