Tengah malam pun tiba, Deva sama sekali tidak bisa menutup matanya malam ini, bagaimana tidak, pekerjaan selalu menuntut dirinya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia merentangkan tangannya, melepaskan sejenak semua pikiran yang ada di benaknya. Deva bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjannya. Soal, Aksya ia tidak bisa mengurungnya sampai pagi, ia tidak tega adiknya masuk kerumah sakit jiwa hanya karna hukumannya. Deva masuk kedalam kamar Aksya, terlihat Aksya yang meringkuk di lantai dengan rambut yang sangat berantakan. Deva melepaskan borgol yang melingkar dilengan Aksya, dia menangis, sama sekali tak menyadari kedatangannya. Ia mengangkat tubuh Aksya ke atas ranjang, tangan Aksya sangat dingin dan tubuhnya bergetar. Deva mengerti kalau adiknya

