Chapter eight

1111 Kata
Mendengar ucapan Bundanya. Membuat Nevan beranjak dari duduknya. "Apaan sih Bun. Bunda gak bisa gitu dong sama Nevan. Nevan gak apa-apa, kok kalau Ayah sama Bunda jarang pulang atau pun gak pulang sekalian. Nevan tau Bunda sama Ayah sibuk kerja, Nevan gak apa-apa kalau gak bisa rasain kasih sayang Ayah sama Bunda. Satu hal yang perlu Bunda tahu, Aku gak mau dijodoh-jodohin kayak gini. Aku punya jalan hidup sendiri, Bun. Kalau pun aku nikah, aku hanya mau nikah sekali seumur hidup, dan itu dengan perempuan pilihan aku." ucap Nevan tidak suka dengan pilihan Bundanya. Ini pertama kalinya seorang Nevan berbicara panjang lebar dengan Bunda dan Ayahnya. "Nevan. Ayah gak pernah ngajarin kamu ngomong gitu sama orang yang lebih tua," bentak Raka dan Ayah Nevan. "Ini juga karena Ayah dan Bunda. Aku gak mau dijodoh-jodohhin kayak gini.” "Ayah gak mau tahu, pokoknya kamu harus terima perjodohan ini. Gak ada penolakan." ucap sang Ayah menatap Nevan tajam. Resti menarik tangan anaknya untuk duduk kembali di sampingnya. "Bunda mohon sama kamu kali ini turutin mau Bunda sama Ayah. Bunda hanya minta itu dari kamu Van. Bunda mohon sama kamu. Ini kali pertamannya kan Bunda minta sesuatu dari kamu. Bunda mohon." Tangis Resti, memohon kepada anaknya. la yakin keputusan yang ia ambil pasti benar. Ini pertama kalinya Nevan melihat Bundanya menangis di hadapannya. Membuatnya tidak tega menatap sang Bunda. "Tapi Bun, Nevan belum siap, Nevan masi sekolah Bun, pasti ada waktunya buat Nevan nikah, gak sekarang," ucap Nevan lembut membujuk Bundanya. "Van Bunda hanya mau kamu nikah. itu aja kok. Gak masalah kalau kamu masih sekolah. Kan yang punya sekolah juga Ayah kamu. Kamu gak bakalan dikeluarin juga," balas Resti marah seraya baranjak meninggalkan putranya. Namun langkahnya terhenti kala mendengar ucapan Nevan. Nevan menghela napasnya pasrah. "Oke. Nevan turutin apa mau Bunda. Kalaupun Nevan nolak, Bunda dan Ayah pasti bakalan kekeh buat ngejodohin Nevan." Resti segera memeluk anak tunggalnya. "Makasih, Nak." Nevan sama sekali tidak menjawab ucapan Bundanya, hanya membalas pelukan sang Bunda. "Nanti malam kamu siap-siap yah. Colon istri kamu bakalan dateng," ucap Resti. Nevan menganggukan kepalanya. melihat Bundanya tersenyum mumbuat hatinya merasa hangat melihatnya. ... "Neyra," panggil Fina. Ini kali ketiga ia memanggil Neyra enggan mendapatkan jawaban. "Kenapa Mah?" tanya Kevin yang melihat Mamanya menggedor-gedor pintu kamar Neyra. "Itu sih Neyra lagi tidur apa gimana ya. Dari tadi Mama panggilin gak nyaut-nyaut, atau lagi di kamar mandi kali," balas Fina menatap Kevin. "Buka aja pintunya mah," ujar Kevin. "Di kunci Vin, tadi udah Mama coba," ucap Fina mencoba membuka pintu kamar Neyra. Kevin mengedikkan bahunya. "Yaudah mungkin tidur kali." "Nanti Neyra lupa lagi kalau mau ke rumah teman Papa," ucapnya menatap Kevin.  Kevin menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Gak bakalan Neyra lupa. Ini juga baru jam lima." "Mama gak yakin." "Yakinin aja Mah," jawab Kevin meledek mamanya. "Kamu yah," tunjuk Fina, "Hehe sorry Ma. Yaudalah biarin aja." Fina mengangukkan kepalanya. "Nanti kamu aja yang bangunin Neyra. Jangan lupa, kamu juga harus ikut," ucapnya menunjuk ke arah Kevin. "Iya Mama." ...   18.00 Kevin berjalan ke kamar Neyra. Membangunkan Adiknya yang dikiranya tidur, ternyata sedang menonton drakor "Dek, Adek, Neyra. Ney woyy bangun lo. Kebo banget sih," teriak Kevin menggedor-gedor pintu kamar Neyra. "Pake kunci serep aja kali yah. Ahh b**o banget sih gue kenapa gak dari tadi aja sih. Emang oon banget si, Vin." gumam Kevin berjalan ke laci meja yang terletak di samping pintu kamar Neyra. Ceklekk... Kevin melihat Neyra masih berkutat dengan laptop miliknya sambil memakai earphone-nya. "Pantesan aja dia gak dengar," gumam Kevin berjalan mendekati Neyra. Neyra belum menyadari keberadaan Kevin, karna terlalu serius menonton. Kevin manarik earphone yang ada di telinga Neyra. "Woy lo dari tadi dipanggilin ternyata asik nonton drakor," teriak Kevin tepat di telinga Neyra. "Duhh! sakit tau gak kuping gue," ucap Neyra, mengelus-elus telinganya. "Yehh lo tuh, di panggilin dari tadi sama Mama, tau-taunya malah asik nonton drakor. Durhaka lo sama Mama. Awas nanti dikutuk jadi batu, tahu rasa lo," balas Kevin menakut-nakuti Neyra. "Sana samperin Mama," ucap Kevin berjalan keluar kamar Neyra. "Abang gak tahu diri lo," teriak Neyra membuat Kevin terkekeh mendengarnya. Neyra beranjak dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga berniat meminta maaf karena tidak mendengar mamanya yang sedari tadi memanggilnya. "Mama," panggil Neyra. "Eh Ney kok belum siap-siap sih. Udah mau jam tujuh, loh ini. Bentar lagi kita berangkat. Buruan gih mandi," ucap Mama Neyra. Neyra menundukkan kepalanya Membuat Fina kebingungan. "Maafin Neyra Mah. Tadi Neyra gak dengar, Mama panggillin Neyra," "Gak papa sayang." jawab Fina tersenyum lembut. "Lho, Ney kok belum siap-siap sih. ini udah mau jam berapa loh?" ucap Sang Papa berjalan dari arah belakang Neyra "Iyah. Ini Neyra mau siap-siap dulu. Kalau gitu. Aku ke kamar dulu Pa, Ma." balas Neyra berjalan kembali ke kamarnya. Fina dan Ferdi menganggukkan kepalanya. Tak butuh waktu lama untuk Neyra turun dari kamarnya, ia sudah siap dengan dress brokat pilihan Mamanya, tanpa lengan dipadukan dengan tas, dan heels yang senada dengan dress miliknya. Ia berjalan menuruni tangga menghampiri Mama dan Papanya. "Ma.pa." panggilnya Fina menatap sang anak dari atas hingga bawah. "Cantik banget sih anak Mama." "Iya dong," balas Neyra tersenyum. "Ini beneran lo?" tanya Kevin tak percaya yang melihat gadis yang berada di hadapannya. "Iyalah. Gimana? Cantik kan gue." Neyra memutar tubuhnya, menunjukan balutan dress yang dikenakannya. "Masih cantikan Marian Jolla," ledek Kevin. "Papa," rengek Neyra, meminta pembelaan dari Papa. "Udah ah! Kalian ini berantem terus. Sekarang kita berangkat aja, nanti telat loh," ucap Ferdi menatap kedua anaknya beserta istrinya. ...   Sesampainya di tempat tujuan. Neyra membuka pintu mobil dan berjalan di tengah-tengah Mama Papanya. Ting Tong.... Terlihat Wanita paruh baya membukakan pintu rumah untuk tamu spesialnya. "Ehh Jeng, udah datang," ucap wanita paruh baya bernama Rasti. "lya jeng," balas Mama Neyra. "Ehh yaudah masuk dulu yuk," ucapnya seraya menyuruhnya masuk. Mama Neyra mengangukkan kepalanya lalu berjalan masuk diikuti Neyra dan Kevin. Terlihat pria paruh baya sedang duduk di meja makan dengan tenang dan tersenyum ke arah Papa Neyra. "Apa kabar, Fer? Sudah lama tidak bertemu," sapanya. "Kabar Baik," balas Papa Neyra. "Eh ini Anak kamu, yah?" tanya Pria dengan pakaian rapi di depannya. "Iyah," jawab Ferdi "Wah sudah besar ya. Padahal dulu masih kecil banget lho Neyra," ucap Wanita bernama Rasti seraya memeluk Neyra. Resti mempersilahkan Neyra dan keluarga untuk duduk di bangku meja makan. "Yaudah duduk dulu." "Oh iya anak kamu mana. Kok gak keliatan?" tanya Fina. Menatap perempuan yang seumuran denganya. "Bentar lagi dia turun kok. Biasa anak laki," jawabnya. Terdengar suara langkah kaki berjalan menuruni tangga, menuju meja makan. Telihat lelaki itu memakai jas berwarna navy dengan celana yang senada dengan jasnya. Dipadukan dengan sneakers putih yang di pakainya. Membuatnya terlihat tampan dan elegan. ...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN