Pagi, 06.15
Neyra sudah siap dengan seragam sekolahnya Garuda Bangsa. Ia turun ke bawah untuk menemui Mamanya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Mama," panggil Neyra mencium pipi kanan Fina.
"Kenapa sayang?" tanya Fina
"Neyra bantu yah,"
"Gak usah, kamu duduk aja, bentar lagi udah mau selesai kok," ucap Fina menyuruh Neyra untuk duduk di meja makan yang sudah tersedia. Neyra menurut, dan berjalan menuju meja makan. Ia melihat Kevin menuruni tangga sambil menenteng almameter kuliahnya.
"Kelas pagi, Bang?" tanya Neyra.
"Yoi dek. lo berangkat bareng gue aja, gimana?" tanya Kevin menduduki bangku sebelah Neyra.
Neyra menggelengkan kepalanya. "Gak usah Bang. Gue udah ada janji sama Ayna, katanya sih, dia mau jemput gue," jawab Neyra menatap Kevin.
"Yaudah deh Nanti pulang gue aja yang jemput," ucap Kevin.
"Jangan lama-lama, lumutan gue nungguin lo," balas Neyra.
"Yee, yang ada lo tuh gue udah di depan nungguin lo, lonya aja yang lama," kesal Kevin.
"Siap bos! iya gak akan lama," balas Neyra tersenyum manis kepada sang Kakak.
"Ehh Abang udah bangun, tumben biasanya bangunnya siang," ucap Fina yang baru datang dari arah dapur, sambil membawakan roti bakar buatannya.
"Ihh Mama. Bangun pagi salah, bangun siang juga salah," balas Kevin mencibirkan bibirnya sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
'Iya deh iya, anak cowo kok ngambek, malu dong," goda Fina menertawakan anaknya, Kevin menatap sang Mama kesal, Fina terkekeh karena senang menggoda anaknya.
"Ohh iya Ney, kamu jangan lupa yah, besok dandan yang cantik," ujar Fina.
"Harus banget ya Ma dandan, kan cuma ketemu doang masa harus dandan juga sih," ucap Neyra menatap sang Mama. Neyra Merasa ada yang di sembunyikan oleh Mama dan Papanya.
"Iya dong sayang, jangan lupa yah kamu pake dress. Nanti Mama yang siapin dress-nya," balas Fina menatap balik anak perempuan satu-satunya.
"Haaa dress ? Kok ribet banget sih Ma, cuma ketemu dong seribet itu. Ada yang Mama Papa sembunyiin ya dari aku?" tanya Neyra menatap lekat Mamanya.
"Nanti juga kamu tahu," jawab Fina.
"Makan dulu roti bakarnya," suruh Fina.
Neyra mengangukkan kepalanya "Iya,"
Tinn.. tinn..
"Dek kayaknya itu Ayna deh," ucap Kevin sambil memakan roti bakarnya yang tersisa sedikit.
Dengan cepat Neyra berlari sembari memakan roti bakarnya yang tersisa sedikit. "Berantakan banget sih lo makannya," teriak Kevin yang entak masih di dengar Neyra atau tidak.
...
Ayna bersandar di mobil miliknya. Menunggu sang empunya rumah keluar. Tak berselang lama Neyra keluar dengan dengan muka yang sedikit ditekuk karena Mamanya yang membuat dirinya penasaran.
"Kenapa lo, muka di tekuk gitu. Jelek tau gak," ledek Ayna.
"Gak kok. Kuy berangkat, nanti kita telat," titah Neyra seraya memasuki mobil Ayna yang di balas anggukkan.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di Garuda Bangsa. Kini mobil Ayna memasuki gerbang sekolah. Setelah menemukan parkiran yang pas, mereka berdua berjalan di koridor sekolah menuju kelas XI IPA 3 yang berada di lantai dua. Di anak tangga terakhir Neyra sedikit oleng karena ikatan tali sepatunya yang terlepas. Dan...
Brukk
Sedetik kemudian ia tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Anehnya ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia tersadar ternyata ada seseorang yang menahannya dari belakang.
"Ne..van."
Betapa kagetnya Neyra. Ternyata yang menahannya adalah Nevan. Mereka saling menatap. Nevan menatap dibagian bibir Neyra lalu mengangkat tangannya dan membersihkan sisa-sisa coklat yang berada di bibir Neyra. Ayna membelalakkan matanya tak percaya. Hingga suara Ayna menghentikan tatapan mereka.
"Ekhem."
"Eehh sorry," ucap Neyra. Reflex Nevan melepaskan tangannya dari pinggang Neyra. Membuat Neyra salah tingah.
"Ma...kasih," ucap Neyra terbata-bata.
Nevan menganggukkan kepalanya dan berdeham.
"Yuudah gue duluan. Yuk Na," ucap Neyra berlari menuju kelasnya. Tanpa Neyra sadari Nevan tersenyum tipis.
...
Nevan memasuki kelas XI IPS 2. Terlihat sahabat-sahabtanya yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Gefi yang mulai mengeluarkan seribu satu gombalannya kepada cewek-cewek di kelasnya. Vano yang sedang memainkan game online - nya. Gerald yang menulis proposal entah untuk apa proposal itu. Tanpa pikir panjang Nevan berjalan ke mejanya. Ia memakai earphone ke telinganya, malas mendengar gombalan buaya darat yang duduk di belakangnya.
"Sin Sinta," panggil Gefi kepada bendahara kelasnya yang bohay.
"Hmm,"
"Aa mau kasi pertanyaan dong ke eneng jawab yah. Jadi, jadi apa yang bikin seneng?" tanya Gefi.
"Jadiin lo rempeyek," jawab sinta mentertawakan Gefi. Gefi melongo melihat Sinta yang masih mentertawakannya. "Au ah gak asik lo," kesal Gefi menatap Sinta yang masih mentertawakannya
"s**l," Teriak Vano. Teriakan Vano membuat seluruh siswa-siswi menatapnya heran.
Vano menatap Gefi kesal. "Lo sih! Jadi kalah kan gue,"
"Assalamualaikaum anak-anak, baiklah kita lanjutkan materi kita yang kemarin." Bu Rema memasuki kelas membuat para siswa-siswi berlarian duduk di bangku masing-masing.
Dengan cepat Vano menyimpan ponselnya di saku celana. Lalu memperhatikan Bu Rema yang berada di hadapannya. Sudah dua puluh menit, Bu Rema menjelaskan. Semua murid memperhatikan Bu Rema dari tadi. Tapi tidak dengan murid yang duduk di pojok barisan ke dua, yang sibuk dengan earphone yang terpasang di telinganya dan memainkan benda pipih miliknya, tanpa mendengar penjelasan guru yang berada di depan kelas. Bu Rema menyadari jika salah satu muridnya tidak memperhatikannya menerangkan materi. Bu Rema berjalan mendekati Nevan. Nevan sama sekali tidak menyadari Bu Rema yang berjalan ke arahnya.
"Ssst Sst Van," bisik Gerald di telinga Nevan. Nevan sama sekali tidak memalingkan kepalannya dari benda pipih di genggamannya.
"Woy Nevan, sstt Van woy," panggil Vano dari belakang.
"b**o lo pada, mana bisa sih Nevan dengar. Orang dia lagi pakai earphone," ucap Gefi menatap mereka berdua bergantian. Gerald segera menarik earphone milik Nevan dengan paksa sebelum Bu Rema semakin mendekat.
"Apaan sih lo," kesal Nevan memalingkan kepalanya menghadap Gerlad. Tanpa Nevan sadari Bu Rema sudah berada tepat di sampingnya. Gerald mengarahkan kepalanya ke Bu Rema, memberi tahu Nevan jika Bu Rema sedang berada di sampingnya. Nevan segera mengalihkan pandangannya menghadap Bu Rema. Ia tampak biasa saja melihat kedatangan Bu Rema yang berada di sampingnya sekarang.
"Kamu ya Nevan, setiap masuk kelas saya, pasti kamu tidak mendengarkan apa yang terangkan di depan tadi," teriak Bu Rema jengah dengan sifat Nevan yang selalu tidak memperhatikannya di saat jam pelajaran berlangsung.
"Sekarang kamu keluar dari kelas saya. Bersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini sekarang juga!" perintah Bu Rema menunjuk pintu keluar kelas. Tanpa pikir panjang Nevan beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
Bu Rema hanya bisa menahan emosi melihat anak dari pemilik sekolah Garuda Bangsa. Karena Nevan tidak bisa di jadikan teladan bagi murid lain walau statusnya adalah anak dari pemilik Sekolah Garuda Bangsa.
Nevan berjalan di koridor menuju rooftop sekolah. Ia tidak pernah melaksanakan setiap hukuman yang di berikan untuknya. Ia menduduki sofa usang yang ada di rooftop melihat pemandangan yang menenangkan pikirannya. Sambil menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Nevan kangen Bunda dan Ayah yang dulu," gumam Nevan pelan.