Nevan memasuski Basecamp Reveelix. Terlihat banyak anggota Reveelix yang sudah hadir di basecamp. Basecamp ini adalah pemberian dari Nevan, karena Nevan ingin anggota Reveelix nyaman saat diskusi bersama.
"Kenapa lo ada masalah?" tanya Vano yang melihat raut wajah Nevan yang sedikit berbeda.
"Alastar ngajak balapan," jawab Nevan dengan tatapan tajamnya.
"Yaudah terima aja, bukannya udah biasa lo balapan sama mereka?" tanya Gefi, sambil memakan mie goreng buatannya.
Bunda is calling....
"Siapa?" Tanya Vano
"Bunda,"
"Angkat aja bos siapa tahu penting, gak biasanya nyokap nelfon," ujar Ozil salah satu anggota Reveelix.
"Males,"
"Jangan gitulah bos. Biar gimana pun itu masih nyokap lo juga," ucap Ozil memberi tahu.
Dengan terpaksa Nevan mengangkat telfon dari Bundanya, yang selama ini ia hindari.
"Halo,"
"Hallo Nevan, lusa nanti kamu pulang yah, Bunda sama Ayah mau ngomong sama kamu," ucap Bunda Nevan the point
"Aku gak bisa Bun,"
"Bunda gak mau tahu, lusa kamu harus pulang, Bunda sama Ayah mau ngomong hal penting sama kamu," ucap tegas Bunda Nevan.
"Oke," balas Nevan singkat dan mematikan telfonya sepihak.
"Kenapa boss?" tanya Ozil
"Bunda mau ngomong penting," jawab Nevan.
"Tumben, gak biasanya nyokap mau ngomong serius," celetuk Gefi menatap Nevan, yang hanya mengendikan bahunya tidak tahu.
"Terus Alastar, jadinya ngajak duel kapan?" tanya Farhan yang juga anggota dari Reveelix.
"Besok malam," jawab Nevan.
"Jam?" tanya Gerald.
"Kayanya jam 12 malam " jawab Nevan. Anggota Reveelix mengganggukan kepalanya menjawab
...
Di lain tempat Neyra baru saja terbangun dari tidurnya, tidak terasa Neyra tertidur hingga menjelang magrib. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu.
Selesai melaksanakan rutinasnya Ia turun dari kamarnya Sehabis sholat magrib dan Menuju dapur untuk membantu Mamanya memasak makan malam.
"Mama," panggil Neyra
"Iya kenapa sayang?" tanya Fina
"Papa udah pulang belum?" tanya Neyra masih mencari Papa.
"Ngapain cari Papa, rindu ya? baru juga ditinggal tadi pagi, udah rindu aja," ucap Papa Neyra - Ferdi ,Yang baru menuruni tangga untuk menemui putri satu-satunya.
"Papa," teriak Neyra memeluk Papa tersayangnya.
"Kenapa saying, hm?" tanya Ferdi membalas pelukan sang anak.
"Kangen," jawab Neyra.
"Baru aja ketemu tadi pagi udah kangen aja, gimana nanti kalau kamu udah nikah," ujar Ferdi melepaskan pelukan antara Papa dan anak.
Neyra menghela nafasnya "Apaan sih Pa. Neyra itu baru kelas 11. Belum waktunya untuk Neyra nikah,"
Papa Neyra menganggukkan kepalanya "Iya deh iya,"
"Neyra. Ney yuhuu lo di mana," teriak Kevin.
"Neyra, Abangmu yang ganteng membahana ini ingin mengembalikan earphone milikmu," teriak Kevin mendramatisir.
"Ney. di mana lo," teriak Kevin.
"Aelah Ney. Lo pikir gak capek nyarin lo di rumah sebesar ini,"
"Makanya jangan punya badan kecil. Gak keliatan kan," omel Kevin.
"Woy Neyra lo dimana si?,"
"Apaan sih lo Bang berisik tahu gak," kesal Neyra, mendengar teriakan Kevin yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
"lo sih, d panggilin juga, b***k ya lo," tunjuk Kevin.
"Yahh tapi jangan teriak juga," kesal Neyra.
Kevin mengulurkan tangannya
"Hmm, nih earphone lo, Makasih,"
"Hmm,"
Kevin menatap Neyra tak percaya "Hmm doang? Dijawab makasih kek apa kek. Lah ini hm doang,"
"Cerewet banget sih lo. Kayak cewek," ucap Neyra.
"Adek durhaka lo,"
"Udah-udah, Mama udah siappin makan kesukaan kalian. Yuk makan," Ucap Fina menengahi.
Keluarga Neyra menyantap makanan dengan hening tidak ada yang membuka suara kecuali dentingan sendok dan piring mendominasi ruangan. Hingga suara bariton Ferdi memecahkan keheningan di ruangan bercat putih itu.
"Neyra," panggil Ferdi
"Iya kenapa pa?" tanya Neyra
"Lusa nanti kita ke rumah teman Papa, kamu ikut yah," jawab Ferdi menatap sang anak
"Harus banget ya Neyra ikut?" tanya Neyra lagi.
"Iya. ada yang mau Papa omongin, tapi nanti di rumah teman Papa, kamu juga pasti bakal tahu," ucap Ferdi menjeda Ucapannya, "Papa harap kamu gak bikin Mama sama Papa kecewa,"
"Emang ada apa sih?" Tanya Neyra.
Kevin manatap Neyra Sendu, ia tidak tega dengan Adiknya, Tetapi Kevin tidak bisa membantah sang Papa. Ia tahu Keputusan Papanya pasti yang terbaik untuk Neyra. Kevin sudah tahu apa yang akan Papanya lakukakan. Ia hanya bisa diam. Tidak berani membantah.
"Udalah dek ikutin aja apa yang Papa bilang, lo gak mau kan bikin Mama sama Papa kecewa kan?"
Neyra menganggukkan kepalanya, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi "Iyaudah deh,"
"Ohh iya Bang. Gue mau ke toko buku. Temenin gue yah," ucap Neyra sambil mengunyah makannya.
"Apasih yang gak buat adek gue tercinta," balas Kevin.
...
Sesuai janji Kevin, Disinilah ia dan Neyra di toko buku langganan Neyra. Kevin sudah menduga pasti Neyra ingin membeli novel.
"Bang yang bagus yang mana?" tanya Neyra
"Terselah lo. Gue gak ngerti gue soal buku,"
"Ah udalah gak guna nanya sama lo," celetuk Neyra.
"Dasar cewe," gumam Kevin
"Kevin," suara panggilan, mengalihkan pandangan Kevin, Kevin menatap seseorang yang berada di hadapannya "Revano,"
"Akhirnya kita ketemu lagi," ucap Revano menyeringai.
Kevin menatap tajam Revano "Mau apa lo?" tanya Kevin.
"Tenang dong. Gue gak pengen apa-apa kok. Santai aja kalau sama gue,"
Neyra memegang pergelangan tangan Kevin "Bang ayo. Gue udah selesai,"
Revano menatap gadis yang berada di belakang Kevin "Bang? Adek lo dong berarti. Cantik juga. Boleh dong gue dekatin,"
"Lo sentuh dia. Lo berhadapan sama gue," tunjuk Kevin dengan tatapan tajamnya.
Neyra menatap cowok yang berada di hadapan Kevin. Baru pertama kali ia melihat Kevin yang berubah menjadi menyeramkan seperti ini.
"Bang ayo," dengan cepat Neyra menarik pergelangan tangan Kevin lalu pergi ke kasir untuk membayar buku yang dibelinya.
Tidak butuh waktu lama untuk Neyra membayar bukunya. Neyra langsung memasuki mobil yang dikendarai Kevin.
"Dia siapa bang?" tanya Neyra.
"Lo gak perlu tahu," jawab Kevin. Neyra mengangukkan kepalanya menjawab. Tidak berani bertanya lebih kepada kakaknya.
"Kalau lo ketemu sama dia. Lo hindarin kalau perlu lo jauhi," ucap Kevin tegas.
"Kenapa?"
"Jangan ngebantah," Neyra mengangukkan kepalanya lagi "Iya,"
Neyra tidak ingin abangnya Kevin marah terhadapnya, walau rasa ingin tahunya begitu dalam.
tentang siapakah Revano? Sepertinya nama Revano bukan nama yang asing yang terdengar di telinganya. Nevan terus bertanya-tanya sambil menatap keluar jendela melihat lampu jalanan malam yang indah untuknya.