Di rumah, Diaz tengah mempersiapkan diri datang ke rumah Alana bersama keluarganya. Diaz menatap dirinya di cermin, meyakinkan dirinya sudah tampan mengenakan pakaian formal. Tak lama kemudian, senyuman indah terukir di bibir Diaz sebagai asupan kekuatan untuk dirinya.
"Aku harus yakin ini jalan yang terbaik. Aku mau bahagiakan Alana di sisa hidupku, kalau Aku jauhin dia dan pada akhirnya Alana mengetahui kebenarannya pasti lebih sakit. Tapi dengan pernikahan ini bisa membuat Alana bahagia walaupun hanya sesaat," ucap Diaz lirih.
"Kamu udah siap Nak?"
Bu Maria membuka pintu kamar Diaz, dia tersenyum memandang putranya yang tampak tampan dan dewasa. Bu Maria bahkan menitikkan air mata sehingga Diaz khawatir, Diaz menghampiri sang mami dan membelai punggungnya.
"Mami kenapa nangis? Atau Mami nggak sepenuhnya menyetujui acara ini," tebak Diaz tak enak hati.
"Enggak Nak. Justru Mami sangat bahagia dan nggak sabar liat kesayangan Mami, jagoan Mami menikah. Mami cuma nggak nyangka aja Kamu udah dewasa. Selama ini Mami menganggap Kamu sebagai bayi mungil Mami, kesayangan Mami yang manja. Ternyata sekarang Kamu akan menikah."
Diaz mengulum senyum getir, hatinya terasa sakit mendengar ucapan sang mami. Bahkan, Diaz tak tega dengan nasib sang Mami saat dirinya di panggil Tuhan.
"Untuk itulah Aku mau menikah muda biar Mami ada temannya. Mami bisa mengobrol dan tidur bareng Alana, Mami nggak akan kesepian walaupun Aku nggak ada."
"Heii, kenapa malah ngomongnya kayak gitu. Memangnya Kamu mau ninggalin Mami?"
"Enggak Mami sayang, maksud Aku luas kok. Bisa aja kan Aku punya bisnis besar dan bolak balik ke luar negeri, otomatis Aku akan ninggalin Mami sama Alana. Nah, saat itulah Mami bisa tinggal sama Alana."
"Kamu memang hebat, pikiranmu udah merambah ke bisnis ya."
"Harus dong Mi, sebentar lagi Aku jadi seorang suami dan calon ayah. Untuk itulah Aku harus berpikiran dewasa biar anak sama istriku bahagia," ucap Diaz percaya diri.
"Iya Nak. Mami akan mendoakan kebaikan untukmu sepanjang usia Mami, Mami ingin putra Mami selalu bahagia dan dijauhkan dari segala penderitaan dan penyakit."
"Amin ya Allah." Diaz berkata bergetar lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sebagai pertanda agar doa sang Mami dikabulkan Tuhan.
"Oya Nak, sebelum kita ke rumah Alana kita bicara sebentar ya," ucap Bu Maria, lalu duduk di tepi ranjang Diaz.
Sementara itu, Diaz gusar karena sang mami mendadak serius. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan sang mami? Apakah ada kecurigaan mengenai penyakit Diaz? Atau sang mami mendengar desas-desus lain?
"Diaz, sini duduk," pinta Bu Maria seraya menarik tangan Diaz agar duduk disampingnya.
"Eumm…. Mami mau ngomongin apa sih?" tanya Diaz gusar.
"Mami ingin kelak Kamu jadi suami siaga untuk Alana. Untuk itulah Mami mau denger beberapa pengakuan dari Kamu sebelum Bu Rista melemparkan berbagai pertanyaan harapan pada Kamu."
Diaz menoleh, memandang wajah sang mami yang semakin serius. Jujur, hati Diaz bergetar hebat karena sang mami lebih dahulu melontarkan berbagai pertanyaan. Belum lagi, saat di rumah Alana. Bagaimana caranya Diaz menghadapi pertanyaan calon mertua.
"Apakah Kamu tulus mencintai Alana?" tanya Bu Maria berkata tegas.
"Aku tulus mencintai Alana, Ma. Aku hanya ingin membahagiakan Alana dan menghapus semua dukanya. Apalagi dulu Aku udah buat dia menderita," ucap Diaz yakin, membuat Bu Maria terbelalak kaget.
"Dulu Kamu buat Alana menderita? Maksudnya?" tanya Bu Maria penuh selidik.
"Ya hmm… pertemuan pertama Aku sama Alana kan nggak baik Mi. Aku geser popularitas Alana di kampus, Mami tahu sendirilah seperti apa Alana di kampus," jelas Diaz mengelabui Bu Maria.
"Oh karena itu. Tapi, Mami justru berterima kasih sama Kamu. Sebelum bertemu Kamu, Alana bersikap seenaknya dan jauh dari kata seorang wanita berhati lembut dan penyayang. Tapi, setelah bertemu Kamu dia berubah. Artinya, Kamu memberikan dampak positif buat Alana. Makanya Bu Rista setuju sama pernikahan kalian," seru Bu Maria bahagia.
"Aku akan lakuin apapun demi kebahagiaan Alana Mi. Walaupun Aku harus berkorban, Aku siap," janji Diaz mantap.
Bu Maria menghela nafas lega, ternyata putranya itu sudah berpikiran dewasa. Kini, Bu Maria tak khawatir lagi walaupun Diaz menikah muda pasti bisa menjadi sosok suami dan ayah yang baik.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Alvar pasti udah nungguin di mobil," ajak Bu Maria.
"Ayo Mi."
Bu Maria dan Diaz pun keluar dari kamar Diaz, mereka menyusuri ruangan di rumahnya menuju halaman rumah. Setelah mengunci pintu rumah, Bu Maria masuk ke jok belakang. Sementara Diaz duduk di jok depan menemani Alvar.
"Gila, satu jam gue nungguin loe di mobil. Loe di kamar ngapain aja sih, udah kaya cewek yang dandannya super lama," gerutu Alvar menatap Diaz kesal.
"Jangan salahin gue dong. Tadi Mami ngajak ngobrol," ucap Diaz tak mau disalahkan.
"Alvar, maafin Tante ya udah buat Kamu nunggu lama. Ntar Kamu boleh minta apapun deh," ucap Bu Maria dari jok belakang.
Ucapan Bu Maria sontak membuat wajah Alvar berubah sumringah. Alvar menoleh memandang Bu Maria mencari kepastian ucapan Bu Maria.
"Percaya sama Tante. Apapun," ucap Bu Maria sekali lagi.
"Oke Tante. Makasih sebelum ya," sahut Alvar mengulum senyum.
"Dasar, wajah-wajah gratisan," sindir Diaz.
"Bodo. Yang penting gue happy."
Alvar bahagia karena bebas meminta apapun pada Bu Maria, tak berselang lama dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Sementara itu, Diaz memandang lurus. Dia tak sabar bertemu dengan Alana di pertemuan sakral ini. Pertemuan ini mencuri seluruh pikiran Diaz, Diaz harus mempersiapkan diri menghadapi pernikahannya nanti. Jangan sampai rangkaian acara pernikahan berantakan karena keluhan sakit Diaz, dia tak ingin orang lain curiga dan akhirnya bersimpati padanya.
"Oya, Loe nggak lupa cincinnya kan?" Alvar memastikan bahwa Diaz tak meninggalkan cincinnya di rumah, walaupun bisa diambil tetapi itu menandakan hal kurang baik.
DEG!
Deretan gigi Diaz bergemeletuk, wajahnya seketika memanas dengan rona wajah yang pucat pasi. Bagaimana bisa Diaz lupa membawa cincin yang akan diberikan pada Alana, padahal cincin itu adalah cincin keturunan dari keluarganya terdahulu. Seorang laki-laki di keluarga Diaz harus membawa dan memakaikan cincin pada gadis terpilihnya saat merencanakan lamaran dan pernikahan.
"Diaz, Kamu nggak lupa kan Nak?" Bu Maria ikut panik, dia tak berharap Diaz lupa membawa cincinnya.
"A-aku lupa Mi," sahut Diaz lunglai.
"Ya Allah, kenapa loe sampai lupa sih. Harusnya loe masukin tuh ke saku. Masa di kamar berjam-jam bisa lupa bawa cincin," ucap Alvar kesal.
"Tadinya udah gue masukin ke saku. Tapi tadi gue ke toilet," sahut Diaz berkeringat.
"Ya sudah, mendingan kita lanjutin perjalanan ke rumah Alana. Masalah cincin, kita sampaikan besok saja. Kalau putar balik nggak mungkin karena udah jam 8 malam, keluarga Alana pasti udah menunggu." Bu Maria menengahi, dia tak ingin membuat Diaz ikut gelisah.
"Baiklah Tante," sahut Alvar, lalu melirik Diaz kesal.
Sementara itu, Diaz bergeming. Dia hanya memandang lurus perjalanan dengan sedikit kabut asap sisa hujan. Diaz tak menyangka dia akan melupakan cincin, harusnya dia memastikan apakah cincin itu sudah dibawa atau belum. Ya Tuhan, pertanda apakah ini? Apakah pernikahan ini memang tak mendapat restu Mu dan kurang baik untuk kedepannya?
"Aku nggak boleh pesimis, Mami bilang nggak papa. Ini cuma kesalahan sepele aja, Aku nggak boleh disangkut-pautin sama kebutuhan. Apapun yang terjadi, Aku harus berusaha membahagiakan Alana dengan menikahinya," ucap Diaz dalam hati.
"Diaz, Kamu nggak usah mikirin macam-macam ya. Mami yakin semuanya akan baik-baik aja, percaya sama Mami ya." Bu Maria seolah tahu suasana hati Diaz, dia tak ingin putranya berpikiran yang tidak-tidak.
Diaz menoleh ke belakang, menatap wajah sang mami yang meneduhkan. Sorot mata Bu Maria berhasil meluluhkan hati Diaz dan membuatnya lebih tenang.
"Iya Mi, makasih ya udah semangatin Aku."
"Iya Nak. Mami akan selalu ada buat Kamu dan nggak akan biarin Kamu sendirian menghadapi masalah, Mami rela mengorbankan apapun demi Kamu. Walaupun Mami harus bertaruh nyawa, Mami ikhlas."
Lagi-lagi ucapan sang mami membuat hati Diaz menangis, dia tak bisa membayangkan bagaimana ceritanya jika sang mami mengetahui kebenarannya. Namun, Diaz berjanji berusaha kuat. Dia akan bertahan demi orang-orang yang dicintainya.
Sementara itu, mobil yang dikemudikan Alvar masuk ke halaman rumah Alana. Dari dalam mobil, Diaz menatap rumah Alana. Dia akan memberikan kebahagiaan untuk penghuni rumah itu.
"Ayo Nak," ucap Bu Maria lembut, lalu keluar dari mobil.
Diaz dan Alvar pun keluar dari mobil. Mereka bertiga berjalan ke ambang pintu rumah Alana, Alvar memencet bel yang terpasang di sisi pintu. Tak butuh waktu lama, Alana membuka pintu. Kedatangan Alana yang mengenakan dress berwarna cream dengan rambut yang di curly dan make-up tipis membuat keluarga Diaz terpaku.
"Sumpah cantik banget, kalau aslinya kayak gini sih gue juga mau," ucap Alvar lirih, mengundang senyuman manis Alana.
Sementara Diaz memperhatikan Alana dari ujung high heels sampai ujung kepala. Penampilan Alana saat ini jauh berbeda dari penampilan Alana. Walaupun Diaz tak menampik kecantikan Alana, namun dia khawatir Alana terpaksa tampil cantik demi Diaz. Jika benar, sungguh hal tersebut sangat menyakiti hati Diaz.
"Alana, Diaz, kalau gitu Tante sama Alvar masuk dulu ya. Kamu bisa ngobrol dulu sama Diaz." Bu Maria memilih membiarkan Alana berinteraksi dengan Diaz, apalagi dia tahu Diaz sepertinya ingin melontarkan ucapan.
"Iya Tante, silahkan," sahut Alana lembut.
Diaz pun memperhatikan sang mami dan Alvar masuk. Sementara Alana meraih tangan Diaz, Alana sadar Diaz terkejut dengan perubahan penampilannya.
"Kamu nggak usah merasa bersalah, Aku bahagia kok dengan penampilan ini."
"Bohong. Buktinya, Kamu tersiksa saat Brian minta Kamu jadi feminim. Lalu, kenapa sekarang Kamu jadi feminim," cerca Diaz meminta penjelasan Alana.
"Aku melakukan ini spesial untuk pertemuan sakral kita. Aku ingin malam ini menjadi saksi keindahan dan kenangan berkesan, makanya Aku bersedia dandan cantik. Toh, cuma beberapa jam kan."
Diaz mengernyitkan kening seolah menelaah maksud Alana. Detik berikutnya, dia mencubit hidung Alana gemas. Sontak Alana kesakitan dan balik mencubit pinggang Diaz.
"Sakit tau," ucap Diaz menahan tawa.
"Biarin, Kamu pasti mau ledek Aku kan."
"Nggak sayang. Masuk yuk, Aku udah nggak sabar pengen cepet-cepet resmiin kapan kita tunangan dan nikah," ajak Diaz, lalu meraih tangan Alana.
Alana pun mengulum senyum, dia memandang wajah tampan Diaz. Dia tak menyangka akan menjadi istri Diaz beberapa waktu lagi, pastinya hari itu adalah hari paling membahagiakan di dunia.