Bab 58

1370 Kata
Keluarga Alana dan keluarga Diaz duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah dua keluarga itu, sementara Alana dan Diaz saling melempar pandangan manis dan membuat Alvar tampak iri karena tak memiliki pasangan. "Baik Bu, langsung saja ya. Kedatangan Kami kesini, Kami ingin membicarakan acara pertunangan Diaz dan Alana. Kami ingin semuanya acara sesuai kesepakatan bersama, untuk itulah Saya meminta pendapat Bu Rista dan Alana perihal hal ini," seru Bu Maria lembut. "Saya sih terserah Diaz dan Alana saja. Sebagai orang tua, Saya hanya ingin putri Saya satu-satunya bahagia. Alana bebas menentukan tanggal pertunangan dan pernikahannya," sahut Bu Rista lembut. "Alana, Diaz, bagaimana menurut kalian?" Bu Maria memandang Alana dan Diaz mencari jawaban, raut penasaran tampak jelas di wajahnya. Sementara itu, Alana dan Diaz saling memandang karena tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, mereka tampak nervous dengan pertemuan sakral ini sehingga mulut mereka seakan mengatup dan kehilangan kosakata. "Percuma Tante tanyain mereka. Toh mereka lagi asik pandang-pandangan," celetuk Alvar, membuat Alana dan Diaz melotot ke arahnya. "Ya sudah, bagaimana kalau pertunangan di langsungkan dua bulan lagi. Bulan ini Alana ada ujian semester 2 kan?" Bu Maria akhirnya mengusulkan, apalagi dia tahu Alana akan menghadapi ujian semester bulan ini. "Iya Tante, Aku ada ujian dan bisa menghambat kalau pertunangan dilakukan bulan ini. Kalau gitu, Aku setuju 2 bulan lagi," ucap Alana mengulum senyum. "Nah, kalau Kamu gimana Diaz?" Bu Maria balik memandang Diaz. "Aku sih terserah kalian aja. Sekarang pun Aku siap," ucap Diaz enteng. Ucapan Diaz yang seadanya membuat Alana geram, laki-laki itu masih bisa bergurau pada pertemuan sakral ini. Diaz memang menyebalkan, Diaz sama sekali tak canggung dan memilah kosakata. Namun, Alana tak bisa memungkiri kalau tingkah laku Diaz membuatnya jatuh cinta. "Baiklah Bu, Saya juga setuju pertunangan 2 bulan lagi. Saya di keluarga Alana akan melakukan semaksimal mungkin agar acara pertunangan berjalan lancar," ucap Bu Rista bijak. "Amin, Kami juga akan melakukan sebaik mungkin. Pastinya, Diaz harus mempersiapkan semuanya dan lebih dewasa dalam bertindak." Bu Maria melirik Diaz dengan ekor matanya, dia ingin sang putra lebih dewasa dan memilah kosakata dalam berbagai pertemuan. "Mami, kok ngomongnya gitu sih di depan tante Rista. Aku mau Mi," ucap Diaz berbisik ke Bu Maria. "Kenapa harus malu? Sebentar lagi Bu Rista jadi mertua Kamu, otomatis Kamu memanggilnya Mama. Makanya Kamu harus dewasa dan pandai menjaga sikap," seru Bu Maria, membuat Diaz tak bisa menjawab. Sementara Bu Rista tersenyum melihat ekspresi wajah Diaz, Diaz menampakkan wajah malu. Namun, dia yakin tidak salah memilih Diaz menjadi suami Alana. Bu Rista yakin Diaz bisa menjaga dan melindungi Alana dengan cara apapun. "Oya Bu, nanti saat acara pertunangan temanya soft aja ya. Aku kurang suka dengan tema rame, apalagi kalau warnanya rame," ucap Alana dengan hati-hati. "Loh kok tanya Tante? Semuanya Kamu Diaz yang pilih Nak. Tante hanya mengantar kalian berdua ke berbagai toko untuk membeli semua perlengkapan," sahut Bu Maria mengulum senyum. Perkataan Bu Maria membuat Alana terlonjak kaget. Dia tak percaya Bu Maria sebaik itu sampai menyerahkan semua konsep pertunangan padanya dan Diaz, padahal kan Bu Maria orang terpandang dan kebanyakan berkuasa mengatur acara besar. "Pertunangan itu adalah kebahagiaan Kamu dan Diaz, itu milik kalian Nak. Untuk itulah, Kami sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan penjual yang terbaik. Semuanya kalian yang pilih." "Ya Allah, Makasih banyak ya Bu. Aku jadi nggak enak." Alana merasa tak enak, apalagi Bu Maria adalah rektor di kampusnya. "Jangan sungkan. Oya satu lagi, jangan panggil Saya Bu. Kamu boleh memanggilnya saat di kampus, selebihnya kan Saya calon mertua Kamu," pinta Bu Maria, membuat Alana tersipu malu. "Baiklah Tante, sekali lagi makasih ya Tante. Aku bahagia dan beruntung banget memiliki calon mertua kaya Tante," ucap Alana bersyukur. "Sama-sama sayang, Tante juga bersyukur kamu bertemu dengan Diaz. Kehadiranmu memberikan efek positif untuk Diaz, dia bisa berubah karena Kamu." "Bukan Aku yang ubah Diaz Tante, tapi Diaz sendiri yang bertekad merubah kepribadiannya. Tanpa tekad dan kemauan tinggi, Diaz nggak mungkin bisa berubah." Alana tersipu malu karena sanjungan Bu Maria, namun dia mencoba menjaga dirinya agar tak larut. "Ya sudah, bagaimana jika kita makan malam. Urusan konsep dan penunjang pertunangan bisa dibicarakan sambil jalan, intinya kita melangsungkan pertunangan 2 bulan lagi," ucap Bu Rista menengahi. "Iya Bu, Saya setuju," sahut Bu Maria. "Mari semuanya, kita menikmati makan malamnya." Bu Rista bangkit dari tempat duduknya, berjalan bersama menuju ruang makan. Di ruang makan, Alana duduk berhadapan dengan Diaz. Keluarga Diaz memperhatikan aneka menu lezat dan buah-buahan, bahkan sajian yang dihidangkan menggugah selera. "Ini harum masakannya sedap banget Tante, Tante yang masak ya," seru Alvar antusias. "Ini Aku yang bantuin Mama masak," ucap Alana riang sebelum sang Mama menjawab ucapan Alvar. "Serius Kamu? Memangnya Kamu bisa masak?" Diaz ikut penasaran dengan obrolan masakan, dia merasa ada sisi lain yang belum diketahui tentang Alana. Alana bingung harus menjawab apa, dia menoleh memandang wajah sang Mama yang tampak menahan senyuman. Alana menggigit bibir bawahnya, dia serba salah harus menjawab apa. Jika jujur tak bisa memasak, sudah pasti malu di depan Bu Maria. Namun, jika berbohong akan berujung panjang. Bagaimana jika kelak Bu Maria memintanya memasak. "Alana, walaupun Kamu belum bisa masak nggak papa kok Nak. Banyak kan istrinya nggak bisa masak tapi pernikahannya langgeng, yang terpenting tetap semangat dan nggak putus asa belajar. Tante yakin Kamu bisa masak," ucap Bu Maria lembut, membuat hati Alana lega. "Iya Tante, mulai sekarang Aku akan belajar masak. Aku mau kelak suamiku makan masakanku, Aku nggak mau dong suamiku ntar makan di luar terus karena bisa mengundang masalah," sahut Alana membuat semua orang terkekeh, kecuali Diaz yang merasa terintimidasi. "Kenapa jadi aneh gitu sih liatin Aku. Aku nggak mungkin menghianati istriku, emangnya Aku laki-laki apaan." Diaz tahu semua orang tengah menyudutkannya dengan tatapan aneh, dia tak mau dicap sebagai pembuat masalah di pernikahannya kelak. "Cie, sadar diri juga loe. Loe tenang aja karena gue percaya loe nggak bakalan menjalin hubungan dengan cewek lain, loe bisa jatuh cinta aja lama kan. Butuh bertahun-tahun, untungnya ketemu Alana. Coba kalau nggak ketemu, gue nggak jamin loe sekarang udah bucin," ungkap Alvar terkekeh. "Diam loe!" "Sudah-sudah, jangan berdebat gitu dong. Ayo cicipi makannya." Bu Rista menengahi. Dia tersenyum bahagia mendengar obrolan manis di meja makan rumahnya, dia merasa bahagia karena baru kali ini rumah makan di rumahnya tampak ramai dan meriah. Semua orang pun menikmati makan malam penuh suka cita. Seusai makan malam, Alvar dan Bu Maria memilih pulang. Namun Diaz izin ingin menghabiskan waktu bersama Alana, Diaz mengajak Alana bersantai di halaman rumah Alana. Mereka saling melempar senyuman kebahagiaan karena bahagia akan menjadi sepasang suami-istri. "Sayang, Kamu bahagia kan mau tunangan sama Aku?" tanya Diaz sekali lagi. "Tentunya sayang. Aku sangat bahagia, bahkan kalau diizinkan mau kok langsung nikah sekarang juga," sahut Alana menatap Diaz. "Mana boleh, semuanya ada aturannya dong. Aku juga sebenarnya pengen kayak gitu, tapi nggak bisa." Alana menghela nafas lega, dia memandang langit yang menampakkan keindahan malamnya. Gugusan bintang dan bulan malam ini tampak cantik, membuat Alana bahagia menatapnya. "Alana, Aku mau ngomong sama Kamu." "Ngomong apa?" Diaz tampak gusar memulai ucapannya, dia ragu dan khawatir menyakiti hati Alana. Jujur, Diaz ingin yang terbaik untuk Alana dan ingin memberikan kebahagiaan untuk Alana di sisa hidupnya. "Kamu mau ngomong apa?" Alana memegang tangan Diaz, membuat Diaz terlonjak kaget. "Apa Kamu mencintaiku dengan tulus?" "Kok nanyanya itu sih? Kalau Aku nggak tulus mencintaimu, mana mungkin setuju melangsungkan pertunangan. Aku tulus dan sangat mencintaimu, Diaz," ucap Alana yakin. "Aku juga teramat mencintaimu, tapi Aku cuma manusia biasa yang bisa salah dan ceroboh. Seandainya suatu saat Aku buat kesalahan fatal, apa Kamu mau maafin Aku?" Diaz mulai serius, sorot matanya sayu memandang Alana. "Pintu maafku selalu terbuka untukmu. Aku nggak akan marah walaupun Kamu nyakitin Aku," sahut Alana mengulum senyum. "Janji?" Diaz mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Alana. "Janji." Alana mengapit jari kelingking Diaz, lalu memandang Diaz dalam. Diaz pun memandang Alana dalam, hatinya lega karena Alana bisa memaafkannya walaupun dia melakukan kesalahan. Hal tersebut membuat Diaz senang dan percaya Alana tak akan terpuruk setelah mengetahui penyakit Diaz. Namun, malam ini Diaz berjanji akan berjuang demi kebahagiaan Alana. "Aku nggak mau Kamu kecewa Alana, Aku akan buat perubahan besok. Semua itu semua cinta kita, Aku nggak mau Kamu menderita di saat hari pernikahan Kita," ucap Diaz dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN