Bab 59

1215 Kata
Diaz memacu motornya dengan kecepatan sedang, senyuman senantiasa menghiasi bibirnya. Dia masih membayangkan pertemuan semalam yang memberikan kebahagiaan tiada tara, kini Diaz bertekad menemui Dokter Anton untuk membuat perubahan besar demi kebahagiaan Alana. Sayangnya sebuah motor ninja menyalip Diaz dan menghadangnya. Diaz pun terpaksa menepikan motor dan membuka helmnya. "Brian," seru Diaz malas karena ternyata si pengendara motor itu adalah Brian dan berjalan ke arahnya. "Apa yang sebenarnya loe rencanakan? Kalau loe nggak tulus mencintai Alana, tolong tinggalkan dia." Brian menatap Diaz geram, sorot matanya seperti elang yang hendak menerkam mangsanya. "Jangan asal nuduh. Gue sangat mencintai dan menghormati Alana, Gue akan melakukan apapun untuk kebahagiaan dia." Brian tersenyum kecut. "Kalau gitu, tinggalkan dia karena Alana lebih pantas untuk Gue. Gue bisa kasih perhatian dan apapun yang nggak bisa Loe berikan." "Loe salah! Gue lebih baik untuk Alana. Bahkan sebentar lagi Kami akan tunangan, untuk itulah Loe harus jaga jarak dengan Alana. Gue nggak rela wanita yang Gue cintai deket sama cowok muka dua kayak Loe." "Loe nggak bisa mengancam Gue, selama janur kuning belum melengkung masih aman. Gue bisa dapetin Alana tanpa loe persetujuan Loe." Amarah Diaz mendadak memanas, sementara tangannya mengepal karena ucapan menohok Brian. Laki-laki itu membuat emosi Diaz naik ke ubun-ubun, ingin rasanya Diaz mendaratkan kepalan tangannya di wajah Brian jika tak ingat nasihat Alana. "Gue rasa Alana nggak sepenuh hati menerima cinta Loe, dia melakukan itu sebagai rasa terima kasih karena mungkin merasa berhutang budi." Diaz mulai kehilangan kontrol, dia tak terima Brian terus menghinanya. Alhasil, Diaz melayangkan tinjunya ke bibir Brian dan mengukir darah di bibir Brian. Sementara Brian bergeming, dia hanya melemparkan senyuman sinis yang berhasil membuat Diaz Kimball melayangkan tinjunya. "Terus aja Loe pukul Gue, ini menandakan Loe belum berubah dan bisa menjadi celah Alana meninggalkan Loe." "Gue rasa nggak Ada urusan lagi diantara kita. Permisi." Diaz memilih pergi karena tak sanggup menghadapi Brian. Dia sadar Brian tengah memancing kemarahannya, Brian bisa saja mengadu domba Diaz dengan Alana dan memicu perselisihan. Untuk itulah Diaz buru-buru mengenakan helm dan menancap gas menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Diaz langsung mengetuk pintu ruang praktek Dokter Anton karena sudah membuat janji. Diaz melemparkan senyum pada Dokter Anton yang duduk di ruang kerjanya. "Selamat pagi Dok." Diaz berkata rumah, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Dokter. "Selamat pagi, ada angin segar apa Kamu menemui Saya sepagi ini. Biasanya Kamu paling sulit diajak ketemu," ucap Dokter Anton penasaran. "Aku bersedia melakukan kemoterapi Dok," ucap Diaz cepat, namun berhasil membuat Dokter Anton bernapas lega. "Baik, Saya akan mengatur jadwal kemoterapi Kamu. Kamu bisa mengajak orang tua atau orang tercinta lainnya." "Tidak! Aku ingin melakukannya sendirian. Cukup suster dan Dokter Anton yang mengetahui rencana kemoterapi ini." "Jadi keluargamu belum mengetahui kebenarannya?" Dokter Anton mulai tegang, dia masih penasaran dengan kejujuran Diaz yang belum Jelas. Diaz menggigit bibir bawahnya kejam, dia sudah menduga Dokter Anton akan menanyakan hal itu. Namun, Diaz sudah menyiapkan semua jawaban untuk mengantisipasi berbagai pertanyaan Dokter Anton. "Diaz," panggil Dokter Anton sekali lagi. "Keputusanku masih sama, mereka nggak perlu tahu kebenarannya. Aku akan berusaha sembuh dan menjalani rintangan kemoterapi sendirian." "Tapi itu kurang maksimal, justru kehadiran keluarga dan orang yang Kamu cintai menjadi penyemangatmu melakukan kemoterapi. Saya yakin dukungan mereka berpengaruh besar untuk kesembuhanmu." "Nggak perlu kehadiran mereka Dok. Aku bisa menjalani kemo tanpa kehadiran mereka, Aku bisa Dok," ucap Diaz optimis. Dokter Anton menghela nafas berat karena Diaz tak bisa diajak kompromis. Dokter Anton akhirnya menyerahkan semuanya pada Diaz, yang terpenting dia bersedia menjalani kemoterapi. "Gimana Dok? Dokter setuju dengan syarat ku kan." Diaz malah balik menyudutkan Dokter Anton. Baiklah. Kita lakukan kemoterapi dua hari lagi," ucap Dokter Anton yakin, lalu menulis jadwal kemoterapi Diaz. "Makasih ya Dok." Diaz menghela nafas lega karena Dokter Anton menyetujui persyaratannya. Dia akan berusaha sembuh agar umurnya lebih lama dan bisa membahagiakan Alana. "Ya sudah, Aku pulang dulu ya Dok. Masih ada urusan lain," ucap Diaz bangkit dari tempat duduknya. "Iya, persiapkan diri dan kesehatanmu ya. Jangan sampai berubah pikiran," nasihat Dokter Anton bijak. Diaz mengangguk seraya mengulum senyum. Dia melangkah keluar dari ruangan dokter, sayangnya Diaz malah berpapasan dengan Keyla. Pertemuan itu membuat Diaz dan Keyla bergeming karena larut pada pikirannya masing-masing. "Key, Kamu ngapain di rumah sakit?" Diaz akhirnya memulai obrolan setelah beberapa menit terdiam, dia tak ingin Keyla curiga dengan kedatangannya. "Aku ada urusan. Kamu sendiri, ngapain ke ruangan Dokter Anton? Bukannya dokter Anton itu spesialis penyakit dalam ya. Memangnya Kamu ada riwayat penyakit dalam?" DEG! Ucapan Keyla langsung menohok jantung Diaz sehingga dia tak mampu berkata-kata. Dia tak percaya Keyla langsung mengintrogasinya dengan pertanyaan sulit. Lalu, alasan apa yang harus Diaz berikan agar Keyla tak curiga. "Diaz, apa benar Kamu memang lagi sembunyiin sesuatu?" Keyla kembali melayangkan pertanyaan sulit yang membuat Diaz bungkam. "Aku kesini nganter temen yang kontrol. Dia ada masalah serius dan minta Aku nemenin dia, makanya Aku sempetin kesini sebagai ungkapan persahabatan," ucap Diaz ragu. "Terus, mana temennya?" tanya Keyla lagi. "Masih ada di dalam kok, dia lagi konsultasi sama dokter." Keyla tampak ragu dengan jawaban Diaz, dia tak puas dan merasa ada yang Diaz sembunyikan. Namun, Diaz malah menggandeng Keyla dan duduk di lobby. "Ngapain Kamu malah ngajak Aku duduk disini? Aku masih banyak urusan," ucap Keyla kesel. "Sebentar, Kamu udah tahu kan semalam adalah pertemuan berhargaku sama Alana." "Pastinya, semalaman Alana nelpon sama Aku dan Vita dan cerita panjang soal momen pertemuan itu. Saking panjang nya, Aku sama Vita sampai ketiduran di sambungan telepon," ucap Keyla membayangkan sikap antusias Alana mengenai pertemuan Alana dengan Diaz semalam. "Wah, artinya Alana bahagia bisa tunangan sama Aku?" Keyla mengangguk. "Sangat bahagia. Selama ini Aku dan Vita berjuang agar dia membuka hati untuk cinta seorang laki-laki, Kamil melakukan apapun sebisa Kami. Sayangnya Alana keukeuh nggak mau mengenal cinta karena trauma masa lalunya. Tapi, setelah ketemu Kamu dan Kak Brian bisa. Dan, akhirnya Kamu berhasil memenangkan hati Alana walaupun awalnya Alana menyukai Kak Brian," kenang Keyla mengulum senyum. "Aku juga denger itu, bahkan keangkuhan Alana yang jaim dengan laki-laki membuatku penasaran dan ingin mengenal dia lebih dalam. Dan terbukti, Alana telah memalingkan duniaku dan buat Aku sangat mencintai dia." "Makanya Aku mohon, jangan pernah sakiti Alana dan biar kan dia sedih. Alana berhasil melewati masa sulitnya untuk membuka hati, kalau Kamu sampai menyakitinya pasti akan beda. Belum tentu Alana bisa bahagia dan mau membuka hati lagi." Diaz bergeming, namun hatinya berjanji tak akan menyakiti Alana. Untuk itulah dia menerima tawaran dokter Anton melakukan kemoterapi, dia berharap keputusannya itu bisa memperpanjang usianya. Diaz bahkan berharap usahanya bisa menghilangkan penyakit yang sudah menggerogoti tubuhnya. "Apa Kamu bisa berjanji, Diaz?" Keyla kembali melayangkan pertanyaan karena tak ada jawaban dari Diaz. "Aku janji nggak akan khianati Alana karena sangat mencintai dia. Aku akan berusaha menjadi kekasih, suami dan ayah yang baik untuk buah hati Kami kelak," janji Diaz mantap. "Makasih ya. Kalau gitu Aku duluan." "Hati-hati ya." Keyla mengangguk lalu menyampirkan tasnya ke bahu. Dia beranjak dari tempat duduknya dan sesekali menoleh memandang Diaz heran. "Aku semakin yakin ada rahasia besar yang Diaz tutupi. Mungkinkan Dokter Anton mengetahui rahasia besar itu?" Batin Keyla lalu pergi. Sementara itu, Diaz lega karena Keyla tak mencurigai kedatangannya menemui dokter Anton. Namun Diaz merasa Keyla masih curiga, lain waktu dia akan lebih hati-hati. Jangan sampai orang yang dia kenal menaruh curiga kedatangannya ke rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN