Bab 60

1282 Kata
Alana tengah bersantai bersama Vita di halaman rumah, kedatangan Brian membuat Alana dan Vita saling memandang. Alana pun bangkit dan mengulum senyum pada Brian yang berjalan ke arahnya. "Halo Kak, apa kabar?" sapa Alana hati-hati, dia khawatir salah mengucapkan kalimat karena Brian tampak letih. "Alana, apa benar Kamu akan bertunangan dengan Diaz." Brian memilih to the point dibanding berbasa-basi, tentunya membuat Alana terkejut karena rencana itu sudah di dengar Brian. "Iya Kak, rencananya 2 bulan lagi. Kalau boleh tahu, dari mana Kak Brian tahu soal itu," ucap Alana hati-hati. "Tadi, Aku ketemu Diaz dan dia kasih tahu. Kenapa kalian bertunangan secepat itu Alana, seharusnya menunggu Kamu jadi sarjana." Alana mengulum senyum, dia berusaha tenang walaupun hatinya sudah Panas. Alana tak ingin bersitegang dengan Brian karena menghargai Brian. "Ini nggak adil Alana. Kamu campakkan Aku begitu saja setelah Kamu memberikan lampu hijau. Mendadak, Kamu buru-buru nikah dengan orang lain." "Bukannya Aku nggak menghargai Kamu Kak. Tapi inilah jalan yang kupilih, Aku yakin ada jodoh terbaik yang menantimu. Aku yakin itu," ucap Alana bijak. "Tapi Aku cintanya sama Kamu, Aku Tanya menginginkan dirimu." Brian masih tak terima dengan rencana pertunangan Alana, bahkan emosinya mendadak tinggi. Alana sadar Brian sakit hati karena dia lebih memilih Diaz. Namun, dia tak bisa membohongi dirinya. Alana pun memilih menghindari Brian sebelum kemarahan laki-laki itu memuncak. "Oya Kak, maaf ya Aku tinggal dulu. Aku lagi masak." "Alana, Aku belum selesai bicara." "Maaf Kak, permisi." Alana mengulum senyum ragu, lalu masuk bersama Vita. Dengan berat hati dia menutup pintu dan memperhatikan Brian dari tirai jendela yang sedikit dia buka. "Kenapa Kamu malah menghindari Kak Brian? Harusnya Kamu hadapi dan minta maaf. Aku yakin Kak Brian bisa menerima ini," ucap Vita ikut memperhatikan Brian yang tampak uring-uringan. "Ini bukan waktu yang tepat Vit. Kak Brian masih diselimuti kemarahan. Dia semakin membenciku jika pembicaraan di lanjutkan." "Iya sih keliatan banget Kak Brian sakit hati. Terus rencanamu apa biar dia nggak benci Kamu?" Alana menghembuskan napas panjang, jujur dia belum mengetahui langkah selanjutnya untuk berdamai dengan Brian. Dia khawatir salah mengambil tindakan dan membuat permasalahan semakin pelik. Alana akhirnya melanjutkan aktivitasnya di dapur, dia berusaha belajar memasak telur rendang sebagai latihan menjadi Istri Diaz yang cekatan. Sementara Vita yang sedari tadi memperhatikan Alana hanya menahan tawa. "Vit, kalau nggak mau bantuin masak mending keluar dari dapur deh. Rusak konsentrasi aja," gerutu Alana. Dia tampak merebus beberapa telur dengan ragu. "Aku kan lagi bantuin Kamu masak. Nggak sabar pengen cicipi telur balado Kamu," ucap Vita semangat. "Kalau mau cicipi, tolong ulek bumbunya dulu ya." "Mana bisa, kan yang jago masak Keyla. Kita tunggu Keyla aja," saran Vita mengulum senyum. "Ya nggak bisa dong, Aku yang belajar masak dan pengen ahli memasak buat calon suamiku tercinta. So, Aku nggak mau menyerah." "Iya deh yang lagi semangatnya masak buat calon suami." "Hai." Keyla masuk ke dapur tanpa semangat. "Key, Kamu kenapa?" tanya Alana khawatir. "Tau tuh, dateng-dateng muka ditekuk gitu. Memangnya Kamu habis ngapain sih." Vita ikut berkomentar karena penasaran dengan sikap Keyla. Keyla memandang Alana dan Vita bergantian, dia menggigit bibir bawahnya kejam. Apakah dia harus menceritakan pertemuannya dengan Diaz yang menemui dokter Anton atau tidak. Jika dia bercerita, Alana pasti akan kepikiran dan melemparkan berbagai pertanyaan pada Diaz. Bagaimana jika itu merusak rencana pertunangan Alana dan Diaz. "Key, Kamu ada masalah?" Alana menepuk bahu Keyla, sorot matanya memancarkan ke khawatiran. "Aku lagi malas aja guys, pengen ketemu Alvar tapi dia nggak peka," ucap Keyla berbohong. "Oh karena Alvar toh. Udah tenang aja, Aku bakal bantuin Kamu biar Alvar kagum sama Kamu. Semarang, bantuin Aku masak terus kita ke rumah Diaz." "Oke." Alana, Keyla dan Vita saling tos dan menguatkan. Kemudian, mereka memasak dengan suka cita. Mereka bahkan menghias masakan dengan unik pada wadah tempat makan, walaupun keadaan dapur seperti kapal pecah tetapi Alana bahagia bisa belajar memasak untuk Diaz. Kini, ke 3 sahabat itu pun bergegas ke rumah Diaz menggunakan Taxi online. Butuh waktu beberapa menit sampai di rumah Diaz, sesampainya di rumah Diaz mereka disambut Diaz yang tengah melepas sepatu di halaman rumah. "Diaz, Kamu habis pergi?" Alana langsung berkomentar melihat Diaz mengenakan jaket dan tengah melepas sepatu. DEG! Diaz menelan ludah gusar, dia tak tahu Alana akan menemuinya. Dia melirik Keyla yang sama-sama menaruh curiga, mungkinkan Keyla menceritakan pada Alana mengenai pertemuannya di rumah sakit? Jika benar, hal tersebut bisa menjadi masalah besar karena Alana bisa curiga kembali. "Diaz," panggil Alana semakin penasaran. "Sayang, Aku tapi pergi sebentar ke temen kuliah. Kamu nggak bilang sih mau kesini." Diaz terpaksa berbohong, dia memegang tangan Alana lalu membelai rambut Alana. Sementara Keyla menelan ludah mendengar ucapan Diaz. Diaz berbohong mengenai kepergiannya, namun mengapa dia berbohong. "Aku nggak nyangka Diaz bohong sama Alana. Sebenarnya apa yang dia bicarakan dengan dokter Anton sampai nggak mau jujur. Apakah Diaz memandang menyimpan rahasia besar?" Keyla berkata dalam hati. Dia penasaran apa yang sebenarnya Diaz sembunyikan. "Ya sudah nggak papa yang penting Kamu jangan pernah bohongi Aku ya. Apapun dan keadaanmu, harus kasih tahu Aku karena itu lebih baik," ucap Alana mengalah. "Pasti sayang, Aku nggak mungkin membohongi wanita yang teramat Aku cintai," sahut Diaz lembut seraya mencubit hidung Alana games. Alana terkekeh bahagia. "Oya, Aku belajar masak khusus buat Kamu. Kamu cicipi ya." "Wah, calon istriku udah belajar masak aja. Ya sudah, ayo masuk dan kita nikmati sama-sama." Alana mengangguk, matanya berbinar-binar menampilkan kebahagiaan. Sementara Diaz menggandeng Alana masuk ke dalam diikuti Keyla dan Vita. Mereka duduk di sofa ruang tamu. "Sayang, ayo cicipi. Kalau enak bilang, kalau nggak enak juga bilang dan jangan ngetawain Aku ya," ucap Alana mengulum senyum, memamerkan deretan giginya yang lurus dan putih. "Oke. Aku cobain ya." Diaz mengulum senyum, lalu mengambil sendok dan memotong telur balado. Setelah itu, dia melahap dan merasakan rasa telur balado buatan Alana. Ekspresi wajah Diaz mengunyah membuat Alana dan kedua sahabatnya bingung mengartikannya. Apakah telur baladonya enak atau tidak. "Nggak enak ya Sayang," ucap Alana pasrah. Diaz bergeming, dia membiarkan telur balado di mulutnya terlumat dahulu. Kemudian, meminum air mineral di atas meja. Barulah Diaz memandang Alana dan menggenggam tangannya. "Masakan Kamu enak banget sayang. Makasih ya Kamu udah capek-capek masak buat Aku," ucap Diaz lembut. "Sama-sama. Kalau gitu, Aku mau cicipi ah," sahut Alana bersemangat. "Jangan, katanya telur baladonya khusus buat Aku. So, Kamu atau mereka nggak boleh mencicipi. Semuanya buat Aku." Alana terkekeh dengan komentar Diaz, dia bahagia bisa menjadi kekasih Diaz. Diaz berhasil menggantikan kerapuhan Alana menjadi kebahagiaan yang sejati. Alana bahkan tak sabar menjadi istri Diaz yang menemaninya 24 jam penuh. "Wah lagi pesta makanan kok Gue nggak di bagi sih." Alvar yang turun dari lantai dua langsung duduk di samping Diaz, manatap telur balado yang tampilannya menggugah selera. "Loe ngapain kesini sih," gerutu Diaz. "Emangnya nggak boleh. Gue minta dikit ya, laper belum makan." "Ini khusus buat Gue. Loe nggak berhak minta," tolak Diaz cepat. "Bodo!. Alvar tak mengindahkan ucapan Diaz, dia merebut kotak lauk dan memakan telur balado. Seketika, Alvar melepehkan telur balado itu dan meminum air mineral sampai habis. Sikap Alvar sontak membuat Alana dan sahabatnya saling memandang heran. " Sumpah asin banget, shape yang masak sih?" ucap Alvar masih mau muntah. "Diaz, Kamu bohong ya. Kamu bilang enak, ternyata asin." Alana kecewa dengan kebohongan Diaz, padahal Alana membutuhkan kejujurannya Sebastian that pembelajarannya memasak. "I-itu Alana, Aku kan," ucap Diaz terbata-bata. Alana menampakkan wajah kecewa, dia pun memilih pergi. Sontak membuat Diaz geram dengan Alvar yang tak bisa menjaga etika. "Ini semua gara-gara Loe, Alana Jade ngambek kan," ucap Diaz menyalahkan Alvar. "Ya Gue nggak tahu lagi ada Alana belajar masak," sahut Alvar tak mau disalahkan. "Minggir." Diaz menendang kaki Alvar, kemudian berjalan cepat keluar menyusul Alana. Sementara Keyla dan Vita memandang Alvar geram lantaran ikut kecewa dengan sikap Alvar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN