Bab 61

1236 Kata
“Alana, tunggo dong. Kamu nggak bisa ngambek gitu dong,” goda Diaz seraya mengejar langkah Alana di halaman rumah. Diaz khawatir Alana marah yang berujung perselisihan rencana pertunangan. “Kamu udah membohongiku, Kamu bilang masakanku enak dan nggak keasinan. Nyatanya, Alvar sampai mau muntah makan telur balado buatanku,” ucap Alana kesal, dia memilih menunggu Taxi online di depan gerbang rumah Diaz/ “Itu hak Alvar berkata apapun, yang penting Aku tetap pada pendirianku. Menurutku, makanan calon istriku enak bukan dari rasanya. Aku melihat kelezatan makanan buatanmu dari proses memasak dan usaha Kamu memasak.” Alana bergeming cukup lama, memang tak sepantasnya Alana melampiaskan kemarahannya pada Diaz. Memang hak Diaz memuji atau mengkritik masakannya, seharusnya Diaz bisa jujur mengenai cita rasa masakan Alana agar Alana menjadikannya pembelajaran dan tetap berusaha memasak. “Oke, Aku tahu Aku salah. Tapi plis, jangan marah ya. Apa yang kulakukan hanya ingin membahagiakanmu sayang.” “Diaz nggak salah Alana, Gue yang salah.” Alana dan Diaz terkejut mendengar suara Alvar. Mereka melihat Alvar berjalan menghampirinya bersama Keyla dan Vita, raut wajah mereka menampilkan kebahagiaan sebagai persahabatan. Hal tersebut membuat hati Alana luluh dan memandang Diaz erat seraya mengulum senyum. “Jadi, Kamu maafin aku kan?” tanya Diaz memastikan. “Iya sayang, maafin Aku ya udah buat Kamu sedih.” Diaz mengulum senyum, kemudian meraih tangan Alana dan mendaratkan bibirnya di permukaan tangan Alana. Hal tersebut membuat Alana bahagia, sementara Keyla dan Vita tampak iri dengan keromantisan Alana dan Diaz. “Sayang, Aku pulang dulu ya. Taxinya udah datang,” pamit Alana saat melihat Taxi online pesanannya datang. “Cancel aja ya,” pinta Diaz memelas. Alana menggeleng kuat, kemarahannya memang sudah pudar. Namun niatnya untuk pulang tak bisa diindahkan karena dia ada urusan dengan sang mama, Alana tak mungkin mengingkari janjinya dengan sang mama. “Maafin Aku sayang, Aku tetap pulang ya. Mama minta ketemuan untuk berbincang dengan keluarga Mama perihal pertunangan kita.” Diaz menggigit bibir bawahnya karena dia pun memiliki urusan lain. “Baiklah, Kamu hati-hati ya. Jangan terlalu capek.” “Iya sayang, makasih ya. Kamu istirahat gih.” “Tenang aja, Aku pasti istirahat kok.” Alana mengangguk, lalu naik Taxi online bersama Keyla dan Vita. Kini, giliran Diaz dan Alvar yang masih di tempatnya, Diaz segera pamit sebelum Alvar memberikan banyak pertanyaan, “Loe mau kemana lagi?” “Gue ada urusan sebentar, tetap jaga rumah ya. Bye.” Diaz segera menikahi motor andalannya dan mengenakan helm dengan desain trendi. Alvar berusaha mencegah kepergian Diaz karena Bu Maria memesan agar Alvar menjaga Diaz, Diaz tak boleh keluar rumah karena suhu badannya tinggi. “Diaz, plis jangan pergi ya. Ntar gue yang dimarahin nyokap loe,” ucap Alvar menghalangi motor Diaz. “Minggir, Gue ada urusan penting.” Diaz tak mengindahkan ucapan Alvar, dia malah memainkan gasnya sampai Alvar ketakutan akan ditabrak. Namun Diaz malah menggoda Alvar dengan memainkan gas dan menancap gas, saat itulah Alvar menghindar. Hal tersebut membuat senyuman Diaz mengembang dan segera melesat ke jalanan Ibukota. Dalam perjalanannya, Diaz membayangkan pertemuannya dengan Alana yang berwarna. Dari pertemuan pertama mereka sampai saat ini yang membuat Diaz bahagia, dia tak bisa menyakiti Alana dan memupuskan harapan Alana menikah. Untuk itulah Diaz bertekad menemui dokter Anton sekarang juga. "Aku harus ketemu dokter Anton sekarang, kemoterapi harus dilakukan sekarang juga," ucap Diaz mantap. Diaz kembali memacu motornya, mendadak kepalanya berputar-putar dan membuat Diaz hampir kehilangan keseimbangan. Bahkan darah segar keluar dari hidung Diaz. "Aku harus kuat, penyakit ini nggak boleh menang dan menguasai tubuhku. Demi Alana, Aku akan melakukan apapun." Diaz kembali memacu motornya, tak berapa lama dia sampai di rumah sakit. Diaz merasakan tubuhnya letih dan hampir tumbang, namun dia menahannya dan berjalan cepat ke ruangan dokter Anton. Diaz melihat dokter Anton tengah praktik dan banyak pasien mengantri. "Gimana ini? Aku nggak mungkin menunggu antrian sebanyak itu. Kemoterapi harus dilakukan sekarang juga." Diaz tampak berpikir keras, sejurus kemudian dia nekat masuk walaupun seorang suster mencegah Diaz masuk. Diaz menghadap dokter Anton dengan wajah pucat pasi, sementara darah terus mengalir dari hidungnya. Sontak hal tersebut membuat dokter Anton panik. "Ya Allah Diaz, kenapa bisa seperti itu? Kamu belum minum obat ya." Dokter Anton bangkit dan memapah Diaz, membantu menidurkannya di brankar. "Obat-obatan terlalu lama Dok. Aku nggak bisa menunggu lagi, kemoterapi harus dilakukan sekarang juga sebelum hari pertunanganku tiba. Aku nggak bisa seperti ini di depan Alana." "Baiklah, kita lakukan kemoterapi sekarang juga." "Makasih ya Dok." Dokter Anton menghampiri suster yang menemaninya praktik. "Suster, tolong tunda jadwal praktek Saya karena ada keadaan darurat. Sama, Saya minta beberapa suster menemani Saya ke ruang kemoterapi ya." "Baik Dok," sahut suster lembut lalu melaksanakan perintah dokter Anton. "Diaz, ayo ikut Saya," ucap dokter Anton lembut. Diaz mengangguk, dia pun mengikuti dokter Anton menuju ruang kemoterapi dengan sisa kekuatannya. Diaz menguatkan dirinya sendiri agar bertahan melakukan kemoterapi, dia tak ingin meninggal hari ini dan membuat Alana hancur. Sesampainya di ruang kemoterapi, Dokter Anton dan beberapa suster tampak mempersiapkan berbagai peralatan medis untuk kemoterapi Diaz. Hal tersebut membuat Diaz menitikkan air mata, dia merasa takut melihat berbagai peralatan medis yang canggih itu, dia sendirian dan tak ada satu orangpun yang menguatkannya. Mendadak, bayangan Alana hadir di samping Diaz dan menorehkan senyuman di bibir Diaz. "Kenapa Kamu nangis sayang?" tanya Alana lembut seraya memegang tangan Diaz. "Aku takut Alana, ini pertama kalinya Aku disini. Di tempat medis yang menakutkan ini." "Justru ini tempat terbaik untukmu, disini Kamu bisa sembuh dan nggak menghindariku lagi. Kamu harus berani dan semangat menjalani serangkaian kemoterapi, Aku nggak mau Kamu gagal dan merusak rencana indah pernikahan kita." "Tapi takut, Aku sendirian disini dan nggak tahu cara ini yang terbaik atau tidak." "Percayalah, Aku nggak akan biarin Kamu sendirian. Aku selalu menemanimu disini." Alana berkata lembut, lalu menempelkan permukaan tangan kanannya di d**a Diaz. Seketika Diaz tersenyum dan menggenggam tangan Alana di dadanya. Kini, Diaz semakin percaya diri menjalani kemoterapi. Walaupun dia ketakutan, tetapi berusaha melakukan yang terbaik untuk Alana. "Aku janji Alana, Aku akan menjalani kemoterapi sebaik mungkin demi Kamu dan calon anak kita kelak dan demi semua orang terdekatku," janji Diaz. "Janji ya nggak akan menyerah. Apapun yang terjadi harus optimis dan yakin sembuh." Alana menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Diaz, meminta Diaz berjanji. "Pasti, Aku nggak akan buat Kamu kecewa." Diaz mengaitkan jari kelingkingnya. Mereka pun saling melempar senyum dengan mata yang bertemu. "Diaz, ayo." Ucapan Dokter Anton membuat Diaz terkejut, namun dokter Anton tersenyum melihat Diaz sudah siap menjalani kemoterapi. "Aku siap Dok, bantu Aku untuk sembuh ya." Diaz bangkit dan menguatkan dirinya, dia tak akan mengingkari janjinya pada Alana. "Baik, mari ikut Saya." Dokter Anton membawa Diaz ke berbagai peralatan medis kemoterapi. Jantung Diaz berdegup kencang, bahkan debaran dan ketakutan kali ini berbeda jauh dari suasana di balap motor. Ruangan yang serba putih dengan hawa sangat sejuk membuat tulang Diaz seakan lunglai. Untunglah dokter Anton dan beberapa suster menenangkan Diaz. Dokter Anton pun memandu Diaz melakukan kemoterapi tahapan awal dengan berbagai peralatan medis yang membuat siapa saja melihatnya miris. Sementara Diaz hanya bisa pasrah dan berdoa pada Tuhan, dia berharap usahanya ini tak sia-sia. Dia hanya ingin membahagiakan orang-orang tercintanya dengan kesehatannya. Diaz tak menyalahkan Tuhan atas masalah yang deritanya, Namun dia berharap Tuhan bersedia mengangkat penyakit itu walaupun bertahap. "Ya Allah ya Robbi, hamba mohon angkatlah semua penyakitku. Aku hanya ingin kesempatan hidup untuk orang yang kucintai. Aku akan berusaha menjadi lebih baik," ucap Diaz dalam hati di tengah menjalani kemoterapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN