Alana kehilangan konsentrasi belajarnya, dia menutup buku tebal dulu hadapannya. Hal tersebut membuat Keyla dan Vita heran dengan sikap Alana. Bahkan beberapa kali Alana menggigit ujung kukunya, sepertinya Alana tengah memikirkan sesuatu.
"Alana, ada yang Kamu pikirin ya," tebak Keyla cepat.
Alana bergeming, dia menatap kedua sahabatnya nanar. Entah mengapa hatinya berdegup kencang dan memikirkan Diaz, Alana merasa Diaz tengah menghadapi suatu hal berat.
"Alana, kalau Kamu ada masalah cerita sama kita ya. Kita paling nggak suka liat Kamu kaya gini," ucap Vita ikut khawatir.
"Sebenarnya, Aku lagi mikirin Diaz guys. Nggak tahu kenapa Aku ngerasain takut uang teramat. Aku ngerasa Diaz tengah kesakitan."
"Kamu terlalu mikirin Diaz. Dia pasti lagi happy aja kok, percaya deh. Diaz itu sehat fisik dan mental, kalau dia penyakitan nggak mungkin dong jadi pangeran balapan," ucap Vita yakin.
Alana berusaha mempercayai ucapan Vita walaupun berat, sementara Keyla mendadak bungkam. Keyla teringat kejanggalan yang selama ini dia temukan pada Diaz, mulai dari Diaz yang sering mimisan sampai pertemuan Diaz dengan dokter Anton. Dan, sekarang Alana merasakan ada hal buruk terjadi pada Diaz.
"Ya Tuhan, kenapa Aku semakin mencurigai Diaz. Apakah Diaz menyembunyikan suatu hal besar mengenai kesehatannya?" Kayla berkata dalam hati seraya mengetuk-etuk bolpoin ke meja.
"Alana, udahlah nggak usah berpikiran yang enggak-enggak. Lebih baik Kamu fokus kuliah biar acara pertunangannya dengan Diaz lancar, dan saat pertunangan tiba bisa maksimal. Aku dan Keyla menjadi orang pertama yang paling bahagia," ucap Vita antusias.
"Amin, walaupun Aku udah tunangan sama Diaz jangan berubah ya. Aku mau kalian selalu menjadi penyemangat dan mendampingiku," ucap Alana penuh harapan.
"Pasti Alana, Aku sama Keyla nggak akan meninggalkanmu sedetikpun," janji Vita.
Alana dan Vita akhirnya tersenyum bersama karena persahabatan tetap terjalin manis walaupun salah satunya memiliki pasangan. Namun mereka heran dengan sikap Keyla yang tampak melamun, Alana yang mendapat lirikan Vita hanya mengangkat bahu sebagai pertanda dia tak mengetahui isi pikiran Keyla.
"Key, kenapa giliran Kamu yang melamun," ucap Vita penasaran.
Keyla terkejut mendengar ucapan Vita, dia bahkan menelan ludah karena Alana menatapnya dalam. Keyla benar-benar bimbang dan tak bisa tenang dengan asumsinya mengenai Diaz, dia harus mengetahui semuanya tentang rahasia Diaz.
"Eh, Hmm… Aku ada janji sama nyokap. Aku duluan ya," ucap Keyla membuat alasan. Dia memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Loh, katanya mau nginep disini?" tanya Alana heran.
"Ntar aja ya. Sorry banget ya, Aku buru-buru. Bye." Keyla mengulum senyum dan buru-buru pergi sebelum kedua sahabatnya melemparkan berbagai pertanyaan.
"Dasar aneh," lirih Alana.
Sementara itu, di rumah sakit tampak Diaz terbaring di brankar. Wajah Diaz tampak pucat dengan debaran jantung yang tak menentu usai melakukan kemoterapi. Diaz tak menyangka menjalani kemoterapi sangat melelahkan, padahal dia melakukannya hanya 3 jam. Diaz memilih berdiam diri di rumah sakit sebelum pulang, dia tak ingin sang mami atau Alvar mencurigainya.
"Sepertinya pusingnya udah hilang, mendingan Aku pulang sekarang. Udah setengah hari Aku nggak pulang, jangan sampai Mami atau Alvar curiga," ucap Diaz lirih.
Tak lama berselang, dua suster masuk membawa peralatan tensi darah dan semacamnya. Suster itu mengulum senyum pada Diaz seolah bangga dengan sosok Diaz yang tegar menghadapi cobaan yang menimpanya.
"Gimana keadaannya Mas, udah mendingan?" tanya seorang suster berhijab.
"Alhamdulillah udah mendingan suster, Saya mau pulang ya," ucap Diaz lembut.
"Sebentar ya Mas, Saya tensi sama cek suhu tubuh dulu," ucap suster satunya.
Diaz mengangguk, membiarkan dua suster itu melakukan pekerjaannya. Setelah itu, Diaz bangkit dan mengatur nafasnya yang memburu.
"Mau Kami ambilkan kursi roda?" tawar suster berhijab ramah.
"Nggak perlu Sus, Saya bisa berjalan sendiri kok," tolak Diaz halus.
"Baiklah, kalau begitu Kami permisi ya Mas. Jangan lupa jadwal kemoterapinya ya," ucap suster ramah.
Diaz mengangguk, dia menatap punggung suster yang menghilang setelah pintu ditutup. Setelah itu, Diaz keluar dengan kaki gemetar. Dia tak menyangka efek kemoterapi pertama kali namun berhasil melumpuhkan seluruh sistem saraf Diaz, namun Diaz berusaha menahannya demi Alana dan keluarganya.
“Diaz,” panggil Keyla seraya menghampiri Diaz.
Diaz menelan ludah melihat Keyla, mengapa Keyla masih di rumah sakit? Seharusnya Keyla sudah pulang karena sudah 4 jam lebih. Sementara itu, Keyla menatap Diaz tajam seolah mencari kebenaran di mata Diaz. Diaz tak mau kalah, dia tak ingin Keyla semakin mencurigainya.
“Key, harusnya kan Kamu udah pulang. Ngapain masih disini,” ucap Diaz berusaha tenang.
“Tadinya Aku udah pulang dan belajar barang Alana dan Vita, mendadak Alana kepikiran sama Kamu. Makanya, Aku berinisiatif kembali ke rumah sakit mencarimu. Ternyata benar, Kamu masih disini.”
DEG! Jantung Diaz berdesir hebat, dia tak menyangka Alana merasakan ketakutan dan kegelisahannya saat menjalani kemoterapi. Ya Tuhan, bagaimana jadinya jika Alana mengetahuinya. Sudah pasti menjadi kenyataan terburuk untuk hidup Alana.
“Awalnya Aku percaya nggak ada yang aneh, tetapi semakin kesini semuanya janggal. Semuanya penuh tanda tanya,” ucap Keyla memandang Diaz dalam.
Diaz mengetahui maksud pembicaraan Keyla, namun dia memilih tak mengetahuinya. Dia tak ingin kecurigaan Keyla semakin besar dan membuat rahasianya terbongkar. Diaz pun membiarkan Keyla melanjutkan ucapannya. Diaz ingin tahu sejauh apa Keyla mencurigainya.
“Aku curiga denganmu Diaz, Aku merasa ada hal besar yang disembunyikan dari Kami. Walaupun Kamu tak menunjukkan gejala besar, Aku masih sangsi dengan mimisan yang sering Kamu alami. Bahkan pertemuanmu dengan dokter Anton membuatku menyimpulkan ada rahasia besar,” ucap Keyla detail.
“Kamu ada-ada aja, nggak ada yang Kusembunyikan. Justru Aku punya kabar bagus untukmu,” sahut Diaz berusaha menutupi rahasianya.
“Jangan berkelit, Aku nggak sebodoh yang Kamu pikirkan. Aku yakin Alana juga penasaran dan nggak sepenuhnya percaya dengan ucapanmu, dia hanya menjaga perasaanmu. Dia nggak mau ada perselisihan pada hubungan kalian, tapi sebenarnya Alana penasaran.”
“Key, sumpah ya. Ucapanmu semakin ngelantur, nggak ada yang kusembunyikan dari kalian. Soal mimisan, Aku emang sering dari kecil. Soal dokter Anton, hmmm dia dokter keluarga salah satu keluargaku. Aku sering temui dia karena sering curhat dan dekat sama beliau,” ucap Diaz meyakinkan Keyla.
Keyla maju satu langkah menghampiri Diaz, dia tersenyum sinis memandang Diaz. Sikap Keyla itu sukses membuat Diaz menelan ludah gusar, sepertinya Keyla tak bisa dikendalikan lagi. Diaz khawatir Keyla orang pertama yang mengetahui rahasia besarnya.
“Key, Aku nggak bohong,” ucap Diaz lagi.
“Apapun akan kulakukan untuk sahabatku, kalau Kamu berani menyembunyikan hal besar maka Aku orang pertama yang mengetahuinya,” ucap Keyla tegas, membuat bukuk kuduk Diaz berdiri.
“Key, udah deh nggak usah ngaco gitu bicaranya. Seolah-olah Kamu lagi introgasi Aku yang melakukan kesalahan fatal dan nggak bisa dimaafin,” ucap Diaz mulai kesal.
“Nggak semua hal dilakukan dengan kesalahan fatal, banyak hal baik yang berujung kesalahan karena seseorang tak bisa berkata jujur. Dan, itu yang Kulihat dari Kamu. Aku merasa Kamu memendam soal kesehatanmu.”
Suara Diaz seakan tercekat di kerongkongan mendengar ucapan Keyla. Ternyata cukup jauh Keyla mengetahui rahasianya, jika dibiarkan maka Alana bisa mengetahuinya dan rencana pertunangannya akan gagal.
“Key, tolong jangan bicara asal. Aku nggak mau ucapanmu ini membuat hubunganku dengan Alana memburuk. Kalau sampai ada orang jahat bisa di manfaatin, memangnya Kamu pengen Aku dan Alana kembali bertengkar?” Diaz memilih menyudutkan Keyla sebagai cara membungkam Keyla, dia berharap Keyla bisa dikendalikan.
“Aku bukan wanita yang ceroboh yang mengumbar informasi tanpa sumber yang jelas. Aku akan mendapatkan berbagai sumber terpercaya sebelum mengeksekusinya,” ucap Keyla yakin.
“Maksudnya?”
“Aku akan selidiki kasus Kamu lebih lanjut, apapun caranya akan kulakukan. Tanpa atau dengan persetujuanmu.”
Diaz membelalakkan mata mendengar ucapan tegas Keyla, belum pernah Diaz melihat sikap Keyla setegas ini. Ternyata, dibalik sikapnya yang kalem ada sikap Keyla yang tak bisa ditentang.
“Diaz, kalau Kamu tidak menyembunyikan apapun maka nggak akan gentar. Bersiaplah, Aku mulai penyelidikan saat ini juga,” ucap Keyla yakin.
Diaz bergeming, tak bisa menjawab ucapan Keyla. Bahkan, Diaz hanya memandang Keyla yang berlalu pergi. Dia mengusap wajahnya frustasi, tak tahu apa rencana selanjutnya.
“Ya Tuhan, kenapa jadi gini sih. Gimana kalau Keyla temui dokter Anton dan menanyakan semuanya?”
Diaz gelisah memikirkan langkah apa yang akan dilakukan Keyla. Diaz pun menelpon dokter Anton untuk membicarakan hal itu. Sayangnya ponsel dokter Anton tak bisa dihubungi dan membuat Diaz uring-uringan.
“Dokter Anton kemana sih, harusnya angkat teleponku. Ternyata Keyla lebih menakutkan dibanding Alana saat mereka marah, harus gimana ini,” ucap Diaz gelisah.