Bab 63

1287 Kata
Dua bulan kemudian Alana memandang gedung megah tempatnya berpijak, matanya berkaca-kaca seolah tak percaya dengan kebahagiaan yang dirasakan. Alana yang awalnya menolak cinta dan mengutuk untuk tak mengenalnya, kini akan memulai menapaki keindahan cinta. Hari ini adalah hari pertunangan Alana dan Diaz, dia melihat semua yang hadir berbahagia. Termasuk teman-teman kuliahnya. "Ngapain Kamu kesini." Alana berkata sinis saat Vanes menghampirinya. "Kamu boleh aja berbahagia karena berhasil mendapatkan Diaz, tapi Aku belum kalah Alana," ucap Vanes sinis. Alana bergeming, dia hanya melirik Vanes dengan ekor matanya. Percuma meladeni ucapan Vanes yang tak ada gunanya, dia tak ingin hati pertunangannya kacau karena perbincangannya dengan Vanes yang tak penting. "Aku salut sih sama Diaz, dalam sekejap dia berhasil merubah seorang Alana. Alana yang urakan dan pembangkang mendadak tunduk dengan Diaz layaknya pembantu pada majikannya." Alana mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Vanes. Ucapannya berhasil membuat emosi Alana naik ke ubun-ubun, untunglah Alana masih bisa menahan emosinya. "Andai saja Diaz lebih memilihku, dia tak akan menderita karena Aku sepenuh hati mencintainya. Sementara Kamu, cinta Kamu masih diragukan. Kamu bisa mencampakkan Diaz kapan saja," ucap Vanes mengejek Alana. "Aku tekankan sekali lagi ya. Aku sangat mencintai Diaz dan menerimanya sepenuh hati, apapun kelebihan dan kekurangannya akan kuterima." Alana berkata tegas seraya menatap Vanes geram. Vanes tersenyum sinis. "Aku sih nggak percaya Kamu mencintai Diaz sepenuh hati. Alasannya karena Kamu menjomblo bertahun-tahun dan nggak menerima cinta, nggak mungkin dong Kamu bisa menerima cinta dalam sekejap." Alana semakin geram dengan ucapan Vanes, perkataannya sungguh menyakiti hati Alana. Ingin rasanya Alana membungkam mulut Vanes jika hari ini bukanlah hari bahagianya. "Kenapa? Mau marah atau memukul Aku? Ayo silahkan, dengan senang hati," tantang Vanes merasa menang. "Kamu udah keterlaluan, Aku nggak bisa diam saja." Alana hendak melayangkan pukulannya ke pipi Alana, namun tangan Alana ditahan Diaz. Diaz bahkan merangkul Alana untuk menguatkan Alana, keromantisan Diaz itu membuat Vanes geram dan memalingkan wajah. "Alana sayangku, Aku nggak mau Kamu terpancing oleh ejekan orang yang sirik dengan hubungan asmara kita," ucap Diaz menyindir Vanes. "Tapi dia udah keterlaluan sayang, Aku serius mencintaimu. Tapi Vanes malah menganggap cintaku semu," sahut Alana kesal dengan Vanes. "Semua hal yang membahagiakan pasti mendapat banyak ujian, Kamu harus percaya Tuhan telah mempersiapkan tempat terindah untuk kita. Aku yakin, seseorang yang sirik dengan kebahagiaan orang lain menandakan orang tersebut tidak bahagia." Alana mengulum senyum mendengar ungkapan Diaz, ungkapan itu membuat Alana lega. Diaz memang benar, Vanes hanyalah iri dengan kebahagiaan dia dengan Diaz. Hal tersebut pasti lantaran Diaz lebih memilihnya dibanding Vanes. "Alana, apapun yang orang lain katakan dengan kebutuhan Kamu itu nggak benar. Walaupun kebaikanmu hanya satu kali, Aku siap kok menerima semua keburukanmu. Itu artinya apa? Artinya karena Aku mencintaimu dengan tulus." "So Sweet," ucap Alana merasa tersanjung, dia mendekap pinggang Diaz dan berhasil membuat Vanes cemburu. Sementara itu, Vanes memandang Alana dan Diaz geram. Kedua tangannya mengepal dengan rahang wajah yang tegang. Namun, Diaz menanggapinya dengan senyuman khasnya. Senyuman yang selalu diimpikan kaum Hawa. "Aku nggak terima dengan penghinaan ini! Kalian akan menyesal karena merendahkanku seperti ini," ucap Vanes murka. "Hei Vanes, kenapa baru sekarang merasa direndahkan? Bukannya sejak dulu Kamu udah direndahkan Alana di kampus," seru Diaz puas. "Diaz, Kenapa sih Kamu lebih milih Alana. Apa lebihnya dia dibanding Aku? Aku memiliki segalanya dan kita nggak perlu bekerja keras setelah menikah. Aku yakin harta dan kekayaan keluargaku nggak akan habis sampai 7 turunan, kenapa Kamu nggak milih Aku," ucap Vanes menyombongkan diri. "Vanes yang terhormat, Kamu harus tahu kekurangan dan alasan Aku tidak memilihmu itu banyak. Kamu mau Aku sebutin detail alasan ditolaknya cintamu?" "Iya," ucap Vanes singkat. Diaz menghela napas, dia memandang Alana yang tampak memperhatikannya aneh. Diaz yakin Alana ikut penasaran dengan ucapannya, hal tersebut tampak jelas dari raut wajah Alana dengan kening yang berkerut. "Oke, Aku jelaskan ya. Alasan ditolak pertama adalah Kamu tidak bisa memalingkan duniaku, Kamu nggak bisa balapan motor kaya Alana. Kalau Kamu bisa, mungkin Aku bisa pertimbangkan ditolak atau diterima karena masih bisa balapan bersama orang tercinta. Alasan kedua itu karena Kamu bukan Akan, Kamu nggak bisa menjadi Alana yang berhasil membuatku jatuh cinta. Dan yang ketiga, Aku sama sekali nggak mencintai Kamu." "Kamu jahat Diaz, Aku akan balas penghinaan ini." Vanes murka mendengar penjelasan Diaz yang menyakiti hatinya, dia memilih pergi dari gedung meninggalkan acara pertunangan Alana dan Diaz. "Kenapa Kamu tega bilang seperti itu sayang?" tanya Alana sedikit kecewa. "Aku paling nggak suka wanita yang ku puja dan kucinta dihina seperti tadi. Aku bisa baik saat orang lain baik kepadaku, namun Aku bisa kembali ke Diaz sebelumnya saat ada yang menyakiti Kamu Alana." Alana mengulum senyuman mendengar ucapan Diaz, dia tak menyangka Diaz begitu menghargainya. Alana pun memegang tangan Diaz dan memandangnya erat. "Aku berjanji akan menjaga cinta kasih kita sepanjang masa. Aku nggak akan goyah apapun badai yang menghalangi keindahan cinta kita," janji Alana mantap. Mendadak, Diaz bungkam. Dia belum sepenuhnya percaya mengenai ucapan Alana itu, dia tak yakin Alana bisa bertahan jika mengetahui penyakit Diaz. Alana mungkin akan membatalkan pernikahannya karena tak sudi menikahi laki-laki yang umurnya tak lama lagi. Pastinya Alana akan membiarkan Diaz sendirian, namun lebih baik seperti itu. Diaz bisa pergi dengan tenang jika Alana tak menangisinya. "Diaz, kita kesana yuk. Acara pertunangan mau dimulai," ajak Alana lembut. "Alana, Diaz, ayo dong. Ini acara pertunangan kalian tapi kalian malah berduaan terus." Alvaro berkata panjang setelah dia menghampiri Alana dan Diaz. "Iya, oya loe jangan lupa buat dokumentasi yang maksimal ya. Gue mau semua rangkaian acara pertunangan ini ada dalam foto maupun video," pinta Diaz, membuat Alana dan Alvaro bingung. Tak lama Keyla dan Vita pun datang, mereka tampak memegang kamera canggih untuk mengabadikan semua momen pertunangan Alana dan Diaz. Hal tersebut dimanfaatkan Diaz untuk meminta bantuan sahabat Alana itu. "Kalian juga ya, foto dan video semuanya dari awal sampai akhir," ucap Diaz tersenyum pada Keyla dan Vita. "Biasanya Aku selalu melihat kaum cewek yang rempong minta di foto dan video, eh di tahun 2022 ini melihat dengan mata kepala sendiri seorang cowok meminta semua acara pertunangannya di abadikan." "Jangan ada pengeditan dan di hapus. Kamu bisa menyimpannya ke dalam flashdisk. Ini flashdisk yang bisa Kamu pakai, itu sengaja Aku belikan dengan RAM besar," ujar Diaz mantap. Ucapan Diaz itu membuat Alvar, Alana dan kedua sahabatnya heran. Mereka heran karena tak biasanya Diaz bersikap seperti itu. Namun, mereka tak mengambil pusing karena tak ingin acara pertunangan bermasalah. "Diaz, Kamu tenang aja. Aku sama Keyla akan merekam semua kejadian di gedung ini sampai akhir, Kamu pasti puas saat melihatnya," ucap Vita mantap. "Oke, Aku akan kasih sesuatu jika pekerjaan kalian membuatku puas, m" sahut Diaz mantap. "Aku emang gagal mendapat informasi kejanggalan Kamu Diaz, tapi Aku nggak akan menyerah. Semakin kesini, Kamu semakin aneh. Aku nggak akan berhenti disini menyelidikinya," ucap Keyla dalam hati. "Ya sudah, ayo kita kesana Alana. Acaranya akan dimulai," ajak Diaz lembut. "Ayo sayang." Diaz menggenggam tangan Alana lembut, dia bahagia karena bisa melewati 2 bulan dan bisa melangsungkan pertunangannya dengan Alana. Ternyata dokter Anton benar, kemoterapi membuatnya hidup Diaz lebih lama. Walaupun efek samping kemoterapi mulai dirasakan, tetapi Diaz tak masalah. Baginya, kebahagiaan Alana lebih penting dibandingkan efek samping kemoterapi. "Aku nggak akan menyerah sampai disini Alana. Aku akan berjuang sampai akhir demi kebahagiaan Kamu, walaupun tubuhku semakin ringkih tetapi Aku siap. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu," ucap Diaz dalam hati. Sementara itu Alana tampak memandang Diaz penuh kebahagiaan, dia bersyukur acara pertunangannya lancar. Dia bahagia karena tak salah memilih laki-laki pendamping hidupnya. "Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuatku berjumpa dengan Diaz. Walaupun pertemuan awal Kami tak mengenakkan, tetapi berujung manis. Diaz bisa melengkapi semua kekuranganku, Diaz bisa menerima kelebihanku, Aku berharap pertunangan ini adalah langkah kebahagiaan menuju pernikahan Kamu kelak." Alana berkata dalam hati seraya memandang Diaz, dia menggeram tangan Diaz erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN