Bab 64

1214 Kata
Alana dan Diaz bahagia karena acara pertunangan berjalan lancar, mereka berhasil menyematkan cincin di jari masing-masing. Bahkan, keluarga besar Diaz memberikan ucapan selamat pada Alana dan Diaz. Hal tersebut membuat Alana menangis haru, dia tak menyangka keluarga besar Diaz menghargainya dan bahagia karena Diaz mendapatkan Alana. Sementara Diaz yang melihat pujaan hatinya menangis, segera mengusap air mata Alana. "Sayang, kenapa Kamu nangis? Kamu menyesal tunangan sama Aku?" tanya Diaz tak bersemangat. Alana mengulum senyum, lalu menghapus air mata yang menetes di pipinya. Dia memegang tangan Diaz dan memandangnya erat. "Justru Aku bahagia mendapatkan Kamu dan keluargamu yang menghargaiku dan menyayangiku. Selama ini Aku belum pernah di sayang seperti ini, bahkan untuk di sayang ayahku saja mustahil." "Aku nggak akan membuatmu sedih, apapun yang terjadi Aku akan bahagiakan Kamu. Walaupun Aku harus berkorban, Aku siap Alana," ucap Diaz mantap. "Makasih ya sayang." "Alana." Brian menghampiri Alana dan Diaz dengan melemparkan seulas senyum. Hal tersebut membuat Diaz jengah dan enggan melihat Brian. "Kak Brian, makasih ya Kak udah dateng," ucap Alana ramah. "Aku datang untukmu Alana, apapun yang terjadi Aku tetap menghargaimu. Walaupun Kamu sudah menjadi milik orang lain, Aku akan selalu ada buatmu," ucap Brian mantap. Ucapan Brian berhasil menyulut emosi Diaz, Diaz sampai mengepalkan tangan. Alana yang mengetahui Diaz cemburu, segera menggandeng tangan Diaz seraya melemparkan senyuman. "Oya Kak, Kak Brian bisa menikmati semua hidangan disini. Aku harap Kakak respect sama acara ini ya, kalau begitu Kami permisi dulu ya Kak." Alana memilih menghindari Brian, dia tak ingin Diaz semakin marah. "Iya, Kamu yang bahagia ya Alana. Kalau Kamu nggak bahagia, Aku nggak akan tinggal diam," ucap Brian seraya melirik ke arah Diaz. Diaz semakin murka, dia hendak menghampiri Brian. Untunglah Alana segera menarik Diaz menjauh, Alana menyodorkan segelas orange jus pada Diaz untuk menenangkan hatinya. "Minum dulu gih, biar pikirannya lebih tenang," ucap Alana lembut. "Brian keterlaluan! Bisa-bisanya dia berubah di acara pertunangan kita. Aku nggak terima, ini sebuah penghinaan besar." Diaz meletakkan gelas yang orange jusnya diminum sedikit, sorot matanya memancarkan kebencian pada Brian. "Udahlah sayang, nggak usah dipikirin perkataan Kak Brian. Yang terpenting kita sudah bahagia." "Tapi dia keterlaluan. Aku nggak terima dia berulah." "Sayang, plis jangan kebawa emosi ya. Aku nggak mau acara pertunangan kita ada yang cacat, bukannya Kamu mau seluruh rangkaian acara di abadikan? Bagaimana kalau teman-teman kita videoin kemarahan Kamu ini, memangnya bukanlah sebuah cacat perfect?" Alana mencoba menenangkan Diaz, dia tak ingin pujaannya hatinya tersulut kemarahan. Diaz bergeming, dia ingat ucapannya mengenai dokumentasi pertunangan. Apa yang dikatakan Alana benar, bagaimana jadinya jika Alana memutar video pertunangannya kelak saat Diaz sudah meninggal. Hal tersebut bisa membuat Alana sedih karena Diaz andil mengacaukan pertunangan. Diaz akhirnya mengalah, dia melemparkan senyuman pada Alana. "Makasih ya udah ingetin Aku, maafin Aku sayang udah buat Kamu sedih," ucap Diaz lembut. "Nah gitu dong. Yaudah, sekarang kita makan yuk. Laper nih," ajak Alana riang. Diaz mengangguk, dia meraih lengan Alana menuju area makan. Mendadak kepalanya berputar-putar, bahkan Diaz merasakan seluruh tubuhnya letih dan seolah kehilangan seluruh kekuatannya. Diaz berusaha menguatkan dirinya agar Alana tak mengetahui kelemahan tubuhnya. "Sayang, Kamu kenapa?" tanya Alana khawatir karena mendadak wajah Diaz pucat. "Aku nggak papa kok sayang, Aku kebelet nih. Ke toilet sebentar ya," sahut Diaz berbohong. "Tapi wajah kamu….. " Alana tak melanjutkan ucapannya karena Diaz malah pergi. Dia heran melihat Diaz yang dipenuhi keringat dan wajahnya pucat. "Kayaknya dia memang sakit, tapi kenapa harus bohong," ucap Alana heran. "Alana." Bu Rista dan Bu Maria menghampiri Alana seraya mengulumkan senyum, membuat Alana membalas senyuman mereka. "Mama, Tante Maria. Hm… tadi Diaz ke toilet," ucap Alana mengulum senyum. "Kami tidak mencari Diaz, Kami justru ingin berbincang denganmu," sahut Bu Maria ramah. "Iya boleh Tante." Bu Maria menggenggam tangan Alana, sorot matanya penuh kebahagiaan. Namun Alana bisa melihat ada luka yang terpendam, Alana yang penasaran memilih menanyakannya pada Bu Maria. "Maaf Tante, kalo ada yang ingin Tante bicarakan boleh kok. Dengan senang hati Aku akan mendengarkan cerita Tante," ucap Alana hati-hati. "Tante bahagia sekali Kamu menerima Diaz menjadi tambatan hatimu Nak. Sudah lama Tante sedih dan selalu memanjatkan doa untuk jodoh Diaz. Bertahun-tahun Diaz terpuruk karena cinta dan enggan menerima wanita menjadi kekasihnya, namun Kamu berhasil menghadirkan cinta di hati Diaz." Alana bergeming, namun dia menjadi pendengar yang baik. Alana semakin penasaran dengan masa lalu Diaz, sebenarnya apa yang Diaz alami sampai keukeuh tak menerima cinta. Hal tersebut serupa dengannya, namun Alana sadar yang bersalah dalam masa lalunya adalah si laki-laki yang pengecut yang meninggalkannya. "Maaf Tante, kalau boleh tahu ada masalah apa di masa lalu Dia?" Alana berkata hati-hati karena khawatir menyakiti hati Bu Maria. "Loh, memangnya Diaz nggak pernah cerita apa yang dialami dulu?" Alana hanya menggeleng, mencoba mengingat-ingat apakah Diaz menceritakan masa lalunya atau tidak. "Sebenarnya sih nggak penting Alana. Tante nggak mau ada masalah diantara Kamu dan Diaz akibat Tante menceritakan masa lalu Diaz." "Tante nggak usah khawatir, Aku berjanji nggak akan mencampuradukkan masa lalu dan masa depan. Aku mencintai dan menerima Diaz dengan segala kekurangan dan kelebihannya, untuk itulah Aku siap mendengar masa lalu Diaz." Alana berkata lembut, dia penasaran apa yang terjadi dengan Diaz di masa lalu. "Baiklah, kalau Kamu memang siap. Tante akan menceritakan semuanya." Bu Maria pun menceritakan masa lalu Dia mengenai cintanya yang kandas lantaran sang wanita pergi entah kemana. Bahkan, Bu Maria memberikan penjelasan secara detail mengenai nama, alamat pujaan hati Diaz saat itu. Tentunya hal itu membuat Alana shock, dia akhirnya mengetahui kalau Diaz adalah cinta pertamanya di masa lalu. Diaz adalah laki-laki yang membuat Alana terpuruk dan menolak semua cinta yang datang, ternyata laki-laki itu adalah Diaz yang kini menjelma menjadi tunangannya dan kembali Alana cintai. "Nggak mungkin Tante." Mata Alana langsung berkaca-kaca, sementara tubuhnya lunglai seketika. Dia menggelengkan kepala. "Maksud Kamu apa Alana?" tanya Bu Maria heran. Alana merasa dipermainkan Diaz. Diaz kembali menyakiti hatinya, bahkan Diaz tak jujur padanya. Padahal Diaz selalu bilang tak ada yang ditutupi, nyatanya ada rahasia besar yang disembunyikan. "Nggak mungkin Tante," ucap Alana frustasi. "Tante nggak bohong Nak, tapi Diaz selalu bilang dalam pencarian mantan kekasihnya itu. Diaz ingin menjelaskan sekaligus meminta maaf, sayangnya wanita itu belum ditemukan." Alana semakin terkejut dengan ungkapan Bu Maria. Sebenarnya Diaz sudah mengetahui Alana cinta masa lalunya atau belum, mengapa Bu Maria belum mengetahui semuanya? Ya Tuhan, apa yang tengah terjadi? Skenario apa yang Diaz mainkan sampai bersedia bertunangan tanpa ada kejujuran. "Alana sayang, Kamu kenapa." Bu Rista menggenggam lengan Alana, dia menyalurkan energi positifnya untuk Alana. Sebagai ibu, Bu Rista mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya. Bahkan Bu Rista mengetahui Diaz adalah masa lalu Alana yang selama ini membuat Alana terpuruk. "Ya Tuhan, kenapa rahasia ini baru terungkap? Seharusnya terungkap jauh hari sebelum pertunangan dilakukan. Semuanya udah terlambat, apa yang harus kulakukan," ucap Alana dalam hati seraya menitikan air mata. "Ya Allah Alana, kenapa Kamu menangis sayang." Bu Maria khawatir karena mendapati Alana menangis, namun Alana menanggapinya dengan senyuman. "Aku nggak papa kok Tante. Aku permisi dulu ya." "Kalau Tante ada salah kata, Tante minta maaf ya sayang." "Nggak ada kok Tante." Alana merasa kebahagiaan sirna karena mengetahui fakta tentang Diaz. Mengapa harus Diaz laki-laki di masa lalu yang membuatnya terpuruk? Mengapa Diaz tidak menceritakan apapun tentang masa lalunya? Lalu, mengapa Diaz menjadikan Alana menjadi kekasihnya kembali setelah dulu hilang tanpa kabar? Apakah ini luka kedua yang Diaz berikan untuk Alana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN