Alana menghampiri Bu Rista yang sibuk memasak di dapur. Hari ini Bu Rista sengaja memasak berbagai menu tanpa bantuan asisten rumah tangga sebagai bukti kalau kedatangan Diaz dan Bu Maria nanti malam spesial.
"Harum banget ya Ma, aku jadi laper nih," ucap Alana seraya menghirup aroma sup daging yang tengah di masak.
"Harus dong Nak, pertemuan nanti malam harus berkesan di hati Bu Maria dan Diaz. Mama mau semuanya perfect," sahut Bu Rista seraya memotong bawang merah.
"Kalau gitu Aku bantuin ya Ma. Sebentar lagi kan, Aku jadi istri Diaz. So, Aku mau persiapin semua kebutuhan Diaz."
Bu Rista mengulum senyum seraya menganggukan kepala. Alana pun meraih pisau dan memotong wortel, sayangnya jari Alana terkena pisau karena Alana tak pandai memasak.
"Awww," rintih Alana, dia menatap ujung jari telunjuknya yang mengeluarkan darah.
"Itulah akibatnya kalau wanita nggak pernah masuk dapur. Giliran masuk dapur malah kikuk kan," sindir Bu Rista, dia membersihkan luka Alana dan menempelkan plester luka ke telunjuk Alana.
Alana hanya terkekeh menanggapi tanggapan sang mama. Selama ini memang salahnya karena tak pernah masuk dapur, semuanyanya diurus Bu Rista dan asisten rumah tangga. Sementara Alana larut dalam hobinya balapan liar dan pulang larut malam.
"Mama nggak mau tahu, setelah ini kamu harus belajar memasak dan mengerjakan semua pekerjaan wanita. Mama nggak mau Kamu merasa tersiksa saat menjadi seorang istri," seru Bu Rista mantap.
"Ta-tapi kan aku masih kuliah Ma. Toh, Diaz pasti ngertiin Aku yang nggak bisa masak. Apalagi zaman now ini gampang cari asisten rumah tangga."
"Mama tahu Diaz nggak akan maksa Kamu. Tapi, apa Kamu nggak malu dengan keluarga besar Diaz? Gimana kalau mereka ingin mencicipi masakan Kamu? Gimana kalau Diaz sakit dan pengennya dilayani Kamu?" cerca abu Rista, membuat Alana menggigit bibir bawahnya kejam.
"Ternyata ribet juga ya Ma mau nikah. Andai aja nggak seribet ini," keluh Alana.
"Jangan jadikan tanggung jawab istri sebagai beban Nak. Kamu harus berusaha menjadi istri terbaik dan selalu siaga dengan permintaan suami, saat itulah kamu merasakan kebahagiaan sejati di dunia."
Alana tak berkomentar, dia berusaha mencerna ucapan sang mama. Ucapannya memang benar, hal tersebut di buktikan saat Alana selalu ada untuk Diaz di saat Diaz sakit. Alana merasa bahagia karena dirinya bisa menolong orang lain dan hatinya terasa lega.
"Saat Kamu sah menjadi istri Diaz, Kamu akan merasakan berbagai kebahagiaan yang nggak pernah dibayangkan. Untuk itulah, persiapkan diri menyambut segala kemungkinan yang ada."
"Iya Ma, mulai besok ajarin Aku masak ya Ma," ucap Alana akhirnya.
"Pasti sayang, mulai besok Kamu harus sabar dan tekun ya. Nggak ada pulang malam ataupun maen kebut-kebutan," pinta Bu Rista mengulum senyum.
"Pasti Mamaku sayang."
"Ya udah, ayo bantuin Mama angkat sayurnya. Letakkan ke mangkuk saji ya."
"Siap Chef Mama."
Alana tampak sumringah memperhatikan berbagai menu makanan lezat, dia mengambil mangkuk saji dan menumpahkan sup dalam panci secara hati-hati. Walaupun begitu, Alana tetap nervous karena memasak di dapur lebih sulit dibanding balapan liar.
"Awas hati-hati, ntar supaya tumpah," seru Bu Rista memperhatikan Alana gusar.
Alana sengaja tak menjawab karena menahan napas selagi menumpahkan sup ke dalam mangkuk saji. Setelah mencapai ambang batas, Alana meletakkan panci di atas meja dan menghela napas lega.
"Alhamdulilah, butuh perjuangan juga ya Ma," ucap Alana menghapus keringat di atas bibirnya.
Bu Rista terkekeh dengan tingkah laku sang anak gadis. Dia tak menyangka memiliki anak gadis selugu itu, Alana begitu bahagia berhasil memindahkan sup di panci ke mangkuk saji. Padahal untuk wanita lainnya, hal tersebut termasuk kegiatan memasak paling sepele.
"Mama mau ngetawain Aku ya. Mentang-mentang anak gadisnya nggak bisa masak mau di bully," ucap Alana seraya melibatkan tangan di d**a.
"Enggak sayangku, Mama justru bahagia melihatmu seperti ini. Mama lebih tenang dan nggak was-was karena Kamu udah ninggalin dunia balap."
"Iya Ma, Aku udah berdamai dengan Takdir dan udah lupain masalalu kelam. Justru Aku lebih bahagia karena bisa bertemu laki-laki seperti Diaz yang berhasil menggetarkan hatiku dan move on."
"Mama juga percaya Diaz bisa membahagiakanmu Nak. Walaupun dari penampilannya nggak meyakinkan, tapi hati Diaz lembut dan penyayang. Makanya Mama setuju dengan pernikahan kalian."
"Aku juga berpikiran sama kayak Mama. Aku emang awalnya menyukai Kak Brian, tapi hatiku berpaling ke Diaz setelah bertemu dia."
"Iya Nak. Ayo bantu Mama bawa makanannya ke meja makan," pinta Bu Rista lembut.
"Iya Ma."
Bu Rista membawa piring saji berisi makanan ke meja makan, Alana pun melakukan hal yang sama. Mereka mengangkat aneka menu ke meja makan, Alana memandangi menu makan malam yang lezat di meja makan. Dia mengarahkan pandangannya ke dinding dan menatap jarum jam yang menunjukkan pukul 18.30 WIB.
"Lama banget ya jam 8 malamnya," seru Alana dalam hati.
"Alana, Kamu ganti baju dulu gih. Yang cantik ya," ucap Bu Rista lembut.
"Oke Mamaku sayang. Aku ke kamar dulu ya."
Alana berjalan ringan menuju kamarnya di lantai atas. Namun, saat membuka pintu dia dikejutkan dengan pintu lemari yang terbuka. Sementara pakaiannya berserakan di atas tempat tidur. Alana terkejut dan masuk ke kamar, memandang geram Kayla dan Vita yang tengah mengacak-acak meja riasnya.
"Heiii… Maksudnya apa ini?" tanya Alana geram.
"Tenang ya My Dear. Aku sama Keyla bisa jelasin semuanya." Vita buru-buru menghampiri Alana karena tak ingin Alana salah paham.
"Jelasin apanya? Jelasin nggak sengaja berantakin kamar Aku?!" ketua Alana.
"Alana cantik, Aku sama Vita lagi cari dress yang pas buat Kamu. Kami mau pertemuan pertama kalian di acara penting berjalan lancar," seru Keyla mengulum senyum.
"Gitu aja ribet. Tinggal pakai kaos sama celana kayak biasa," sahut Alana enteng.
"Eits, nggak bisa gitu dong Alana. Kamu harus tampil perfect di hadapan Diaz dan Bu Maria, Kami nggak mau mereka menganggap Kamu nggak serius," seru Keyla yakin.
"Iya Alana. Pokoknya Kamu harus tampil sempurna."
Alana terdiam, dia mencoba mencerna ucapan kedua sahabatnya. Sampai akhirnya, Alana mengangguk-anggukan dan menyetujui keinginan Vita dan Keyla.
"Oke, tapi dress nya nggak boleh norak. Aku nggak mau yang warnanya terang ya, yang soft aja," pinta Alana mengulum senyum.
"Siap Princes Alana," sahut Vita dan Keyla kompak.
"Oke, Aku tunggu."
Alana memilih duduk di tepi ranjang seraya memainkan ponselnya, sementara Keyla dan Vita sibuk mencari dress yang cocok untuk Alana. Alana sampai dibuat pusing karena kamarnya semakin berantakan, dia pun kesal dan memilih mandi. Alana ingin menghilangkan kegelisahan dan kepenatan yang dia alami.
Setelah 10 menit mandi, Alana keluar dari kamar mandi dengan wajah ceria. Kini, giliran Keyla dan Vita yang tertunduk lesu di atas tempat tidur Alana.
"Kenapa malah kalian yang lesu, kayaknya kalian butuh air deh," ledek Alana seraya terkekeh.
"Kita butuh air buat nyiram Kamu. Mandi kok lama banget sih," gerutu Vita.
Alana terkekeh. "Ya habis berendam. Bukannya kalian yang nyuruh Aku tampil perfect pas ketemu Diaz dan Mamanya?! Makanya Aku berendam dan menikmatinya biar ketenangan terseram di pikiran."
"Dasar," lanjut Keyla kesal.
"Yaudah, ini dressnya." Vita menyerahkan desa berwarna cream dengan payet dan desain elegan pada Alana.
"Aku sih nggak PD sebenarnya, malu. Gimana kalau Diaz dan Maminya ngetawain Aku," ucap Alana tak percaya diri.
"Udah, pakai aja. Urusan make-up Aku sama Vita yang handle," sahut Keyla percaya diri.
"Oke."
Alana pun menjauh untuk mengenalkan dress, tak lama kemudian kembali berdiri di hadapan Keyla dan Vita. Keyla dan Vita sampai tak berkedip melihat kecantikan Alana mengenakan dress, namun tingkah mereka membuat Alana kesal dan menjewer keduanya.
"Nggak usah sok kaget! Cepetan make-up," perintah Alana.
"Iya."
Alana mempersiapkan dirinya di make-up, dia duduk di kursi riasnya yang elegan. Sementara Keyla dan Vita mulai menorehkan perlengkapan make up di wajah Alana. Hal tersebut membuat Alana gelisah dan debaran jantungnya berdegup kencang.
"Jangan cepet-cepet ya," lirih Alana.
"Beres Princes," sahut Keyla dan Vita mantap.