TERLAMBAT DI HARI PERTAMA

1011 Kata
mataku terbuka ketika seseorang menggedor pintu kamarku "iya iya sebentar" buru buru aku menghampiri pintu, "kenapa kak??" "kamu bukannya hari ini mulai kerja ya" seorang pria berdiri di depan pintu menatapku heran ku lirik jam waker yang ada di atas meja, pukul 07.30.. WHAT!!! aku segera mengambil handuk dan sabun lalu berlari ke kamar mandi, tak lupa aku keluar lagi lalu menutup pintu dan menguncinya "gila kok aku bisa telat bangun, apa alarmnya mati ya" aku ngomel ngomel sambil terus menyiram tubuhku dengan air dingin, ku percepat semua gerakan ku menjadi seperlunya saja, make up tipis hanya bedak dan lipstik, lalu seragam dan sepatu aku berlari ke bawah sambil merapikan rambutku yang hanya ku sisir atasnya saja, sungguh awal yang menyedihkan kakiku berhenti saat melihat pria yang tadi membangunkanku tengah duduk di atas jok sepedanya "ayo ku antar, udah telatkan" aku masih melongo, antara bingung dan senang "buruan dek.. tar telat beneran loh" kakak yang kamarnya di samping kamarku berbicara dari balkon lantai dua aku menyadarkan diriku dan naik ke sepeda, kurang dari 5 menit, tanpa babibu aku langsung masuk ke area hotel, tentu saja setelah absen di sekuriti nafasku masih memburu saat seorang laki laki paruh baya menyapaku "sandrina ya??" ..loading... .. masih loading ... "iya pak, saya dina" bapak itu tersenyum ramah "sekarang kamu keruangan HRD dulu ya, sudah di tunggu bu lana" aku pergi menemui bu lana seperti yang di arahkan bapak tadi, dua tahun sudah berlalu dan hampir semuanya masih sama, hanya letak tanaman hiasnya saja yang berubah. ku ketuk pintu ruangan bu lana, namun tak ada suara yang terdengan dari dalam ruangan, "lagi pada kemana ya kok sepi banget?" tanpa sadar aku memasuki ruangan yang kosong, tidak ada seorang staff pun di ruangan ini "kamu sandrina?" aku menoleh ke arah datangnya suara "iya saya sandrina bu" ucapku sopan, beliau adalah bu lana yang sedang ku cari "bagus, kamu ikut saya sekarang ya, saya ada urusan mendesak" bu lana mengambil tas dan kunci yang tergeletak di meja dengan cepat "ayo! tunggu apa lagi" aku segera mengikuti langkah bu lana dengan cepat, kami menuju ke parkiran mobil, bu lana memencet kunci mobil dan kami pun pergi menginggalkan hotel. tiga puluh menit kemudian kami sampai di salah satu rumah sakit, lagi lagi bu lana berjalan dengan langkah cepat, kakinya yang jenjang membuatku berlari lari kecil untuk menyamakan jarak kami, berjalan melewati lorong rumah sakit yang panjang, naik beberapa lantai dan sampailah di lantai tiga yaitu poli ibu dan anak aku bertanya tanya kenapa kami ada disini? seorang laki laki muda keluar dari ruangan yang di dalamnya ada banyak bayi mungil tengah tertidur, dia berbicara serius dengan salah satu perawat bu lana mendekati pria itu lalu membungkuk hormat dan pria itu pun membalas dengan sebuah senyuman, sejurus kemudian bu lana larut dalam percakapan mereka, aku hanya memperhatikan dari jauh tanpa berani mendekat dan tak berencena mendekat. setelah lama berbincang pria muda itu pergi menuju tangga, sosoknya hilang bersama likukan tangga yang tadi kami lalui saat naik. bu lana menghampiriku, nampak beban berat memikul pundaknya terlihat dari langkahnya yang sempoyongan "apa ibu baik baik saja?" tanyaku khawatir. aku hanya mendengar helaan nafas panjang untuk beberapa menit berikutnya, hening membungkus kami untuk waktu yang cukup lama, ke sunyian itu terhentak saat suara tangis terdengar dari ruang yang isinya bayi bayi mungil seorang perawat memangil bu lana untuk menemuinya, aku mengekor di belakang hanya untuk memastikan bu lana baik baik saja "apa anda bisa menggendongnya??" tanya perawat itu tangan bu lana bergetar hebat, wanita dengan wajah ayu dan senyum ramah itu terlihat pucat pasi, kakinya tampak melemas dan keringat dingin membanjiri leher serta keningnya "dia baru bisa tenang setelah minum s**u tapi begitu bangun pasti menangis tanpa henti" jelas perawat itu. saat ini pun bayi mungil itu masih menangis meski perawat sudah berusaha menenangkan "boleh saya coba gendong" aku menawarkan diri, entah berhasil atau tidak yang penting di coba dulu. perawat itu memindahkan si mungil ke tanganku perlahan, aku coba menenangkannya dengan senandung yang biasa ku pakai untuk menidurkan leo dan benar saja caraku berhasil, semua menghela nafas lega, begitu pula aku yang masih menimang si kecil dalam dekapanku, tidak lama kemudian seorang dokter datang, beliau memeriksa kondisi sang anak "akhirnya bisa tenang ya" ucap dokter itu ikut lega di sambut anggukan kami bersamaan "suster, tolong siapkan ruang perawatan ya, sebaiknya di dipisahkan dari ruang NICU, agar tidak menganggu yang lain" *Ruang NICU (neonatal intensive care unit) merupakan tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis. Biasanya bayi yang dirawat di ruang NICU lahir dengan gangguan kesehatan, misalnya lahir prematur atau lahir dengan cacat bawaan. "baik dok, sudah kami siapkan, kami juga sudah memberi tahu walinya" lalu perawat itu membawa kami ke ruang perawatan, sampai di ruangan, perawat menjelaskan beberapa hal, salah satunya memintaku agar tetap membuat si kecil nyaman, yang kalau di artikan secara kasar, aku harus menggendongnya supaya dia tidak menangis lagi dan membuat heboh semua orang setelah perawat itu pergi bu lana merebahkan punggungnya di sofa, rasa tegang dan gemetar sepertinya belum hilang, wajahnya masih saja pucat meski tak separah tadi "ibu baik baik saja?" lagi lagi aku bertanya dengan pertanyaan yang sama untuk ke dua kalinya "untung ada kamu din, kalau nggak bisa mati lemas aku" nampak senyum tersungging di sudut wajahnya, aku bahkan bisa melihat kepuasan di balik senyumannya itu "saya tidak melakukan apa apa kok bu" ucapku menenangkan "jangan merendah kamu, suster suster tadi aja kewalahan, apa lagi aku? aku nggak pernah megang anak kecil seumur umur, apa lagi yang sekecil itu" yah.. seingatku dua tahun yang lalu bu lana masih single alias belum menikah, dia adalah wanita karir yang sangat mencintai pekerjaannya, banyak pria yang terpesona dengan kecantikannya, bagi anak magang sepertiku bu lana adalah idola dan panutan karena itulah aku sangat kagum dan takjub "kondisinya cukup rumit din, nanti aku jelasin, untuk sekarang tolong bantu jagain si kecil dulu ya" aku hanya bisa mengangguk, ada banyak tanya terbesit di benakku yang harus ku abaikan untuk saat ini, tapi yang paling membuatku resah dan gelisah adalah... apa kabar pekerjaanku???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN