Elang duduk di ruang kerjanya, dikelilingi tumpukan laporan perusahaan yang sejak beberapa hari terakhir terbengkalai. Dari luar, ia tampak serius — jas hitam terpasang rapi, wajah tegang, alis berkerut di bawah sinar lampu putih dingin — namun sebenarnya pikirannya melayang jauh. Tidak ada satu pun angka di hadapannya yang mampu menarik perhatiannya lebih lama dari beberapa detik. Yang terus menari di kepalanya hanya satu nama: Keira. Wanita yang dulu dicintainya, yang seharusnya menjadi bagian masa lalunya, kini justru mengikat kehidupannya dalam cara yang paling tak terbayangkan. Keira sedang mengandung. Dan anak yang ia kandung… adalah adiknya. Sebuah kenyataan yang terdengar nyaris mustahil, namun terlalu nyata untuk dihindari. Rasanya seperti hidup sedang mempermainkannya — lucu

