Dua hari telah berlalu setelah pertemuan keluarga Dimas dan Rehan, namun Alea dan Arka masih juga belum mempunyai nomor satu sama lain. Alea tidak mungkin memintanya kepada Lyla adik Arka, tapi begitu juga dengan Arka dia malu kalau harus meminta kepada Lyla.
Namun meskipun begitu Lyla sangat membantu dalam proses pendekatan Alea dan Arka. Sebab Lyla selalu menceritakan segala sesuatu tentang Arka saat sedang bertukar pesan dengan Alea.
Untungnya saat acara pertemuan keluarga tempo hari, Lyla tidak lupa meminta nomor Alea. Jadi sekarang cita-cita Lyla untuk mendekatkan Alea dan kakaknya akan segera terwujud.
“Ma, Alea berangkat dulu ya,” kata Alea kepada Kristi yang masih ada di dalam kamar mandi.
“Iya Sayang, kamu hati-hati ya di jalan,” jawab Kristi dari dalam kamar mandi.
“Pa, Alea berangkat dulu ya,” pamit Alea kepada Rehan.
“Iya Sayang, kamu hati-hati ya di jalan. Ingat kamu sebentar lagi akan menikah,” ujar Rehan.
“Iya Papaku Sayang.”
Seperti biasa Alea mencium tangan mama dan papanya sebelum berangkat ke kampus. Namun karena kebetulan Kristi sedang diare dan masih di dalam kamar mandi, pagi ini dengan terpaksa Alea tidak mencium tangan sang mama, dia hanya berpamitan saja.
Alea langsung menaiki motor maticnya, mengenakan masker dan helm juga seperti biasa lalu berangkat menuju kampus tercintanya.
Tidak pernah ketinggalan, setiap dalam perjalanan menuju kampus Alea pasti akan menyanyi. Bahkan Alea menyanyi cukup keras lagu-lagu melow kesukaannya. Mungkin orang yang ada di samping Alea kalau tidak mengenakan helm pasti telinganya akan keriting sebab mendengar suara Alea saat menyanyi dengan nada yang sumbang.
“Hari ini aku masih bisa bernyanyi dengan ceria seperti ini, tapi tidak tahu untuk hari-hari berikutnya. Apakah masih bisa seperti ini terus? Atau semuanya akan berubah setelah aku menikah nanti?”
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dipikiran Alea disaat dia tengah asik mengendarai motornya sambil bernyanyi.
“Usiaku dan dia bertaut tujuh tahun, dia seorang direktur sedangkan aku masih seorang mahasiswa. Apakah aku pantas untuk dia? Sedangkan perbedaan kami saja sangat terasa seperti ini.” kata Alea dalam hatinya.
“Cukup Alea, kamu harus fokus dengan kuliah kamu, fokus sama skripsi kamu supaya kamu bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.”
Alea menyemangati dirinya sendiri yang tengah bimbang karena teringat dengan rencana pernikahannya dengan Arka yang ada dilaksanakan bulan depan.
Seperti biasa Sari dan Bunga sudah menunggu kedatangan Alea di tempat parkir. Karena dari mereka bertiga memang Alea lah yang sering datang paling terakhir.
“Lama banget, Neng,” kata Bunga menghampiri Alea yang tengah melepaskan helm yang ia pakai
“Sebenarnya aku itu enggak lama, Bung. Kamu sama Sarinya aja yang terlalu pagi datangnya,” jawab Alea sambil tersenyum santai.
“Malah nyalahin kita yang datang lebih awal,” tukas Sari.
“Kita langsung ke taman aja yuk, aku mau lanjut skripsinya nih,” ajak Alea.
“Ya sudah, ayo. Aku juga pengen cepet-cepet selesai, rasanya bosen konsultasi sama dosen terus,” sahut Bunga.
Mereka bertiga langsung pergi ke taman kampus, seperti biasa mereka duduk melingkar dan mengeluarkan laptop mereka masing-masing.
Sebenarnya dulu target kuliah Alea adalah tiga setengah tahun saja untuk mendapatkan gelar S1. Namun keinginan itu tidak dapat ia capai sebab dulu Kristi pernah sakit lumayan parah. Dan kala itu Kristi juga sampai harus dioperasi karena usus buntunya yang sudah parah.
Saat itu sebenarnya Alea sedang semangat-semangatnya kuliah, mengambil banyak jam untuk setiap mata kuliah demi lulus sesuai target yang ia inginkan. Namun sayangnya Tuhan berkehendak lain, kuliah Alea harus terhambat karena dia harus mengurus ibunya yang dioperasi di rumah sakit.
Memang ada sang papa, tapi kalau Rehan terus-terusan merawat Kristi tentu saja dia jadi tidak bekerja. Lalu kalau Rehan tidak bekerja mereka harus menghidupi kebutuhan sehari-hari dan biaya rumah sakit Kristi dari mana. Makanya Alea mengalah, dia merelakan cita-citanya untuk lulus lebih awal demi merawat sang mama tercinta.
“Al, hari minggu kita pergi ke tempat wisata baru yuk. Aku lihat di sosial media banyak yang ngepost foto di sana, kayaknya bagus banget tempatnya. Ada balon udaranya juga, tapi sayangnya di sana kalau kita mau naik ke atas harus pakai tangga manual. Belum ada alat bantu entah itu eskalator atau lift mungkin,” kata Bunga.
“Iya gila kali Bung, di tempat wisata terbuka mau dikasih eskalator. Nanti kalau hujan bisa konselet itu eskalatornya, bukannya aman malah bisa jadi bahaya untuk pengunjung tempat wisata itu nanti,” ujar Alea.
“Iya Bung, benar apa kata Alea. Lagi pula kamu ini ada-ada saja, masa minta eskalator atau lift sih,” sahut Sari.
“Kalau yang lebih mungkin itu gondola menurut aku. Naik kereta gondola untuk sampai ke sana,” tambah Sari.
“Iya mana bisa Sari, kan tempatnya tinggi. Bisa-bisa gondolanya ngak mau naik ke atas saking tigginya,” sergah Bunga.
“Naik gondolanya dari tempat parkir, di sana tempat parkirnyakan tinggi. Terus kalau kita mau ke tempat balon udara harus turun dulu dari tempat parkir, habis itu kita baru naik ke tempat yang ada balon udaranya. Kalau kaya gitu belum naik balon udara aja udah darah rendah, pingsan duluan,” jelas Sari.
“Kamu tahu dari mana Sar, aku aja ngak tahu loh,” ucap Bunga.
“Kamu tahu sendirilah Bung, Sari itukan orang paling gabut diantara kita bertiga jadi wajar aja kalau dia tahu tentang hal itu. Iyakan, Sar?” sindir Alea.
“Bukan gitu, aku juga sebenarnya pengen ke sana juga. Cuma lumayan mahal naik balon udaranya, jadi mau nabung dulu. Rencananya nanti kalau habis wisudah mau ngajakin kalian ke sana,” kata Sari.
“Ngak usah nunggu setelah wisuda, kita ke sana minggu ini juga. Aku yang traktir, kalian tinggal ikut aja,” kata Bunga dengan wajah penuh percaya diri.
“Kamu itu ya Bung, tratir kita terus kaya gini. Kita ngak enak sama ayah kamu tahu, nanti takutnya ayah kamu jadi mikir kalau kita berteman sama kamu cuma mau manfaatin kamu aja. Ngak usahlah, lain kali saja kita ke sananya, sekalian aku juga mau nabung dulu,” kata Alea.
“Kalian ini pada kenapa sih, iya enggak apa-apalah. Ayah itu tahu bukan kalian yang minta, tapi akunya emang yang ingin. Lagi pula kaya belum kenal saya ayahku saja kalian ini. Sudah ah jangan menolak, pokoknya kita agendakan minggu ini ya.”
“Oke deh, kalau aku siap sih buat healing juga,” kata Sari.
“Kalau kamu, Al?” tanya Bunga.
“Oke, nanti aku ijin sama Mama dan Papa dulu ya,” jawab Alea.
“Jadi semuanya setuju ya, kita minggu ini liburan.”
Memang seperti itulah Bunga, dia sangat loyal kepada teman-temannya. Tidak hanya kepada Alea dan Sari saja, tapi kepada semua orang Bunga juga sangat loyal. Dari cerita Bunga, dia penah mengatakan kepada Alea dan Sari kalau waktu masih SMP dulu Bunga pernah dimanfaatkan oleh seseorang.
Dari seorang laki-laki sampai perempuan juga ada. Kalau yang laki-laki dia adalah mantan pacar Bunga, dia sempat mita dibelikan ponsel sama Bunga dan dengan bodohnya dia belikan begitu saja saat itu atas dasar cinta. Kalau utuk perempuan, banyak sekali yang mendekati Bunga dengan dalih ingin menjadi sahabatnya. Namun ujung-ujungnye mereka selalu mengajak Bunga pergi ke mall, beli make up sampai pakaian dan pada akhirnya yang bayar adalah Bunga.
Sejak saat itu Bunga jadi lebih selektif lagi, dan saat masuk ke SMA, Bunga berusaha berpura-pura menjadi rakyat biasa. Dia tidak menunjukkan kemewahan yang dimiliki oleh orang tuanya, dan berpenampilan sangat sederhana. Saat ditanya di mana tempat tinggalnya Bunga selalu memberikan alamat salah satu apartemen miliknya yang dibelikan oleh sang ayah.
Saat ditanya apa pekerjaan orang tuanya, Bunga menjawab kalau ayahnya menjadi salah satu office boy di perusahaan ternama yang tidak lain adalah perusahaan ayahnya sendiri.
Demi menemukan teman yang benar-benar tulus Bunga sampai rela berbohong seperti itu. Tapi pada akhirnya sekarang Bunga jadi mendapatkan sahabat yang baik seperti Alea dan Sari. Mereka juga tidak marah saat Bunga menceritakan yang sebenarnya tentang siapa dirinya. Bahkan Alea dan Sari justru memaklumi dan ikut prihatin dengan apa yang Bunga alami di masa lalunya.
“Minggu ini? Minggu inikan aku mau fiting baju pengantin? Aduh gimana ini?”
Alea baru ingat kalau minggu ini dia hars fiting baju pengantin bersama Arka. Namun dengan bodohnya dia mengiyakan begitu saja ajakan dari Bunga.