Obrolan basa-basi terpaksa harus terputus sementara karena makanan utama sudah datang. Semua anggota keluarga Rehan dan Dimas sama-sama memakan hidangan yang di atas meja sampai habis tidak tersisa.
Selena sengaja memesan makanan utama tidak terlalu banyak sebab mereka masih harus memakan dessert yang sudah ia pesan. Apa lagi dessert di restoran ini sangat Selena suka, menunya bisa dibilang kreatif dan unik pula.
Setelah makanan utama sudah habis beberapa menit yang lalu, kini saatnya Dimas memulai lagi pembahasan tentang perjodohan Arka dan Alea.
“Han, seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, kita sepakat akan menjodohkan anak kita yaitu Arka dan Alea. Lalu sekarang aku ingin mendengar apa tanggapan dan jawaban Alea secara langsung. Bolehkan Alea?” kata Dimas.
“Iya Om, boleh,” jawab Alea malu-malu.
“Sebenarnya Om sendiri sudah mendengar apa jawaban kamu dari papa kamu. Tapi sekarang Om ingin mendengarnya langsung dari kamu supaya Om bisa lebih yakin,” tambah Dimas.
“Coba sekarang Alea katakan apa jawaban Alea dan tanggapan Alea tentang perjodohan ini,” ujar Dimas.
“Papi ini apa-apaan sih, kenapa juga harus ada sesi tanya jawab seperti ini. Sudah seperti pelajaran ilmu pengetahuan alam saja, disuruh memberikan pendapat dan penjelasan. Heran banget aku,” kata Lyla dalam hatinya.
“Si Papi ngapain nyuruh Alea memberikan pendapat si? Ngak tega jadinya melihat calon menantu aku seperti itu,” batin Selena.
“Jawaban saya sendiri itu setuju, Om. Saya setuju dan menerima perjodohan ini tanpa adanya paksaan dari Mama ataupun Papa, atau bahkan dari pihak manapun itu. Alasan saya mengapa menerima perjodohan ini saya juga kurang mengerti sebenarnya. Tapi hati saya mengatakan kalau saya harus menerimanya, dan setelah saya pikirkan kenapa saya harus menerimanya jawaban itu muncul. Mungkin ini sudah ketetapan dari Tuhan, dan mungkin ini sudah jalan hidup saya. Apa lagi ini Papa yang memilihkan langsung untuk saya, dan itu yang membuat saya yakin,” jelas Alea.
“Sebab Papa tidak mungkin menjerumuskan anaknya atau saya ke hal yang buruk. Dan jika Mas Arka adalah pilihan Papa, itu artinya Mas Arka adalah laki-laki yang baik. Tidak mungkin juga Papa akan menjodohkan saya dengan laki-laki yang tidak baik,” tambah Alea.
“Semoga aku tadi tidak salah bicara ya Tuhan,” batin Alea.
“Lagi pula Om Dimas kenapa harus tanya hal seperti ini sih? Lalu kalau aku menolak perjodohan ini aku juga harus memberikan penjelasan dan alasan juga. Ya Tuhan, apakah calon papa mertuaku itu mantan dosen killer dulu?” kata Alea dalam hatinya.
“Tunggu, apa tadi aku bilang? Calon papa mertua? Yang benar saja kamu Alea, ya ampun secara tidak langsung kamu sudah berharap akan segera menikah dengan Arka?” kata Alea dalam hati lagi.
“Alea, kamu tidak apa-apakan?” Kristi langsung menyadarkan Alea dari pikirannya yang sibuk.
“Iya Ma, Alea tidak apa-apa,” jawab Alea.
“Kalau kamu tidak apa-apa, terus kenapa baru saja kamu melotot seperti itu?” tanya Kristi lagi.
“Melotot? Tapi Alea tidak melotot sama sekali, Ma. Memangnya kapan Alea melotot?” kata Alea bertanya kembali kepada Kristi.
“Kamu ini bagaimana sih, baru saja setelah kamu memeberikan jawaban kepada Om Dimas,” bisik Kristi.
“Tapi Alea memang tidak melotot sama sekali, Ma. Mungkin tadi Mama hanya salah lihat saja, mata Alea kan memang lebar, Ma,” jawab Alea.
“Ya sudah kalau kamu memang tidak merasa melotot, tapi jangan diulangi lagi ya. Malu kalau sampai Om Dimas dan Tante Selena melihat kamu seperti itu tadi,” tutur Kristi memberikan nasihat.
“Iya Ma, maafin Alea mungkin tadi Alea tidak sengaja,” ucap Alea.
Alea memang tidak sadar kapan tepatnya ia melotot tadi, tapi Alea yakin kalau dirinya melotot saat dia sadar kalau dirinya menyebut Dimas dengan sebutan calon papa mertua.
“Kalau kamu sendiri Arka? Bagaimana jawaban dan pendapat kamu?” tanya Dimas kepada putra sulungnya.
“Seperti yang sudah Arka katakan kepada Papi sebelumnya, kalau Arka akan menerima apapun keputusan Alea. Arka hanya mengikuti keputusan Alea saja, sebab seperti yang sudah Alea katakan sebelumnya. Tidak mungkin kalau Papi dan Mami ingin memberikan sesuatu yang tidak baik untuk Arka, untuk putranya sendiri. Jadi Arka yakin kalau Alea adalah yang terbaik dari semuanya, sebab Mami dan Papi juga berfikir hal yang sama,” ujar Arka.
“Maaf Arka, Om mau tanya sama kamu. Kenapa kamu tidak memberikan keputusan yang mutlak dari diri kamu sendiri? Kenapa kamu harus mengikuti keputusan Alea? Maaf sebelumnya kalau saya lancang,” tanya Rehan.
“Tidak Han, itu sama sekali bukan hal yang lancang. Kamu pantas menanyakan hal itu, karena ini menyangkut putri semata wayang kamu. Jadi Arka, sekarang kamu jawab pertanyaan dari Om Rehan ya,” kata Dimas.
“Sebelumnya maaf Om, jadi alasan saya kenapa mengikuti keputusan Alea saja karena saya tidak mau perjodohan ini atas dasar paksaan. Baik itu dari keluarga sendiri atau dari pihak luar. Karena dari diri saya sendiri sudah yakin dan mau menerima perjodohan ini, jadi saya tinggal menunggu jawaban dari Alea saja. Dan kalau saja Alea mengatakan tidak mau menerima perjodohan ini saya juga akan menerimannya, Om. Sebab saya tidak ingin memaksakan siapapun di sini, terutama Alea.”
Penjelasan dari Arka nampaknya cukup membuat Rehan yakin dan semakin percaya kalau Arka adalah laki-laki yang penuh tanggung jawab dan dapat dipercaya.
“Iya Arka, terima kasih atas jawabannya. Dan terima kasih juga sudah mau menerima Alea,” ucap Rehan.
“Iya Om sama-sama, terima kasih juga sudah percaya dengan saya,” jawab Arka dengan sangat dewasa.
“Ya Tuhan, kenapa Arka begitu dewasa? Kenapa dia bisa mengatakan hal seperti ini di depan Mama dan Papa dengan begitu lancar tanpa gerogi sih?” kata Alea dalam hatinya.
“Gila, Kak Arka kelihatan sangat dewasa kalau sudah membicarakan hal yang serius seperti ini. Padahal kalau di rumah suka banget ngusilin aku, sumpah sih ini berbeda sembilan puluh derajat,” batin Lyla melihat sosok Arka yang berbeda ketika di sana dan ketika berada di rumah.
“Jadi sekarang semuanya sudah jelas ya, baik dari Arka ataupun dari Alea mereka berdua sama-sama menerima perjodohan ini tanpa adanya paksaan. Dan sekarang kita hanya tinggal menentukan kapan kiranya pernikahan mereka berdua akan dilansungkan. Kalau menurut kamu sendiri kapan kiranya waktu yang tepat untuk acara pernikahan mereka, Rehan?”
Alea hampir tersedak salivanya sendiri saat mendengar Dimas mengatakan tentang pernikahannya dengan Arka.
“Kalau aku ikut apa kata mereka saja, Dim. Tapi lebih cepat akan jauh lebih baik sih, tapi kalau untuk waktunya sendiri aku serahkan semuanya kepada mereka.”
Rehan tidak mau memberikan keputusan kapan harusnya mereka akan menikah, sebab Alea yang lebih tahu kapan dia bisa melangsungkan pernikahannya tanpa harus mengganggu jadwal kuliahnya.
“Kalau menurut kalian bagaimana, Arka, Alea? Kapan kiranya pernikahan ini sebaiknya dilaksanakan. Apakah satu minggu lagi, atau satu bulan lagi? Mau kapan kira-kira?” tanya Dimas.
“Kalau Mami boleh memberikan pendapat, bagaimana kalau satu bulan lagi? Kata Om Rehan lebih cepat lebih baikkan. Bagaimana menurut kamu Alea? Arka? Apa kalian setuju?” timpal Selena.
“Kalau Arka setuju-setuju saja, Mi. Tapi ngak tahu kalau Alea sendiri seperti apa jawabannya,” ujar Arka.
“Sel, kami juga ikut saja apa keputusan Arka, Alea pasti mau. Iyakan Alea?” kata Kristi.
“Iya Tante, saya ikut apa kata Arka saja,” jawab Alea.
“Kalau begitu pesta pernikahan akan kita gelar tanggal lima bulan depan. Untuk segala urusan, keperluan serahkan semuanya kepada kami. Nanti Alea tinggal memilih saja seperti apa konsep pernikahan yang Alea inginkan dan di mana kiranya pernikahan akan dilangsungkan,” jelas Dimas.
“Maaf Om sebelumnya, ada satu permintaan dari saya dan harap untuk dikabulkan,” potong Alea.
“Oh iya Alea silahkan saja, apa yang kamu inginkan. Selama masih bisa kita lakukan pasti akan kami kabulkan. Katakanlah apa yang kamu inginkan,” ujar Dimas mempersilahkan.
“Saya mau pernikahan ini digelar secara sederhana saja, pesta pernikahan yang cukup privat namun sakral. Dan hanya dihadiri oleh beberapa tamu penting dari sahabat dan kerabat saja. Dan satu lagi saya tidak ingin ada foto preweding, mohon maaf sebelumnya,” kata Alea.
“Kalau hanya itu tentu saja akan Om kabulkan Alea, kamu tenang saja ya. Nanti kita bisa mendiskusikan lagi untuk detail acara resepsinya seperti apa nanti,” jawab Dimas menyetujui permintaan Alea.
“Iya Om, terima kasih,” jawab Alea.
Alea mengatakan apa yang memang menjadi impiannya sejak dulu. Dia memang ingin saat menikah nanti pestanya digelar secara sederhana namun sakral. Pesta pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, serta sahabat.
Selain membutuhkan banyak biaya, pesta pernikahan yang mewah juga kurang skral menurut Alea. Terlebih lagi Alea menikah dengan laki-laki yang belum ia cintai, laki-laki yang dijodohkan dengannya oleh papanya sendiri.
“Kalau Arka sendiri bagaimana? Apakah Arka juga setuju dan tidak keberatan dengan permintaan yang diajukan oleh Alea?” tanya Rehan kepada Arka.
“Tentu saja tidak Om, saya tidak keberatan sama sekali. Saya justru setuju dengan ucapan Alea, pesta pernikahan yang sederhana namun begitu sakral,” jelas Arka.
“Semua orang pasti ingin menikah sekali seumur hidup mereka, tapi tidak semua orang menginginkan pernikahan yang terlalu mewah. Mungkin ada banyak orang yang seperti itu, tapi tidak semua,” imbuh Arka.
“Kenapa dia berkata seperti itu? Apakah Arka benar-benar ingin menjadikan aku wanita terakhir di hidupnya? Apakah itu mungkin? Arka seorang CEO, tidak mungkin kalau tidak ada wanita yang mau menjadi istrinya?” batin Alea.
“Saya juga setuju dengan ucapan Arka, menikah memang seharusnya sekali seumur hidup,” sahut Kristi.
“Iya Tante.”
“Meskipun aku sendiri masih belum tahu seperti apa tepatnya perasaanku ini kepada kamu Alea. Tapi sejak aku mengatakan kalau aku menerima perjodohan ini, aku bertekad untuk menjadikan kamu wanita terakhir dan satu-satunya di hidup aku. Entah seperti apa nanti perjalanan kita berdua ke depannya, namun yang pasti aku akan berusaha menjadikan kamu yang terakhir di hidup aku,” kata Arka dalam hatinya.
Arka sudah yakin dan mantab kalau dia akan berusaha menjadikan Alea wanita terakhir di hidupnya. Arka ingin mencontoh kedua orang tuanya yang selalu hidup rukun dan menghargai satu sama lain dan menerima pasangan kita dengan apa adanya.
Kristi dan Rehan hanya bisa diam sambil memandang ke arah sang putri, mereka tidak bisa melarang Alea mengatakan apa yang menjadi keinginannya itu. Apa lagi pernikahan Alea ini hasil dari sebuah perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri.