BAB 40. Depresi

1227 Kata

Anggasta menatap wajah polos yang tengah tertidur pulas itu. Bagaimana kalau dia mengetahui bahwa dia telah kehilangan calon bayi yang sangat dia perjuangkan. Apa yang harus Anggasta katakan pada wanita itu. Anggasta mendekat, mengelus pipi Anggreni, seandainya malam itu dia tidak lepas kendali, tentu sekarang semua masih baik-baik saja, mereka tidak akan kehilangan calon bayi mereka. “Maafkan aku Gren, maaf,” lirihnya. Dia benar-benar khawatir dengan Anggreni. Betapa hancur dan terpuruknya wanita itu saat terbangun nanti. “Angga, kamu sudah pulang,” gumam Anggreni, netra itu perlahan terbuka, menatapnya penuh rasa bersalah. “Greni, kamu sudah bangun, ada yang sakit?” tanya Anggasta berniat memanggil dokter untuk memeriksa wanita itu. Anggreni menggeleng. “Maafin aku, Angga. Aku bena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN