BAB 41. Putri Kecil Nabila

1188 Kata

Terhitung sudah tiga hari sejak Anggreni masuk rumah sakit, kondisinya belum juga membaik. Dia masih sering bengong dengan tatapan kosong. Terkadang Anggreni berbicara seolah dia tidak mengingat kalau dia telah kehilangan calon bayinya. Kondisinya yang demikian membuat Anggasta semakin khawatir, takut kalau Anggreni akan semakin memburuk. Apalagi akhir-akhir ini Anggreni sering melewatkan waktu untuk melakukan dialisis. “Kita gak bisa biarkan Anggreni seperti ini terus, Pa. Kita harus ambil tindakan,” ucap Minara “Kita pikirkan pelan-pelan ya,” sahut Faresta. Tidak ada yang menduga kalau masalahnya akan sebesar ini. Semua terjadi karena Anggreni sudah sangat berharap bisa melihat bayinya terlahir ke dunia. “Apa gak sebaiknya kita bawa Greni ke psikiater saja, Ma?” usul Gladys tidak te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN