Gladys menghela napas berat, dadanya terasa sesak sejak pagi. Rasa tidak nyaman di perutnya juga turut andil membuat wanita itu semakin kehilangan moodnya. Gladys memutuskan untuk menutup mata sejenak, guna meredakan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Pintu yang diketuk membuatnya harus membuka matanya kembali. Wajah Anggreni yang sedang tersenyum memasuki ruangannya. “Kamu sakit ya, kok pucat banget?” tanya Anggreni berubah khawatir. Wanita itu bergegas mengecek suhu tubuh Gladys. Suhunya normal, sama sekali tidak panas. “Perasaan kamu gimana? Kita ke rumah sakit aja, ya,” ajak wanita itu semakin khawatir. Gladys menggeleng pelan. “Gak apa-apa kok, Gren. Nanti juga istirahat bentar udah pulih lagi,” tolak Gladys mencoba tersenyum. Anggreni tentu saja tidak percaya begitu saja. Se

