"Sialan mereka berdua sudah sejauh itu ternyata, tapi ngapain di depan pintu mereka kom gak masuk ke belakang aja kan biar lebih lega, eh tapi Leli juga gak ada, jangan-jangan Leli sama Gara ya"kata Dera dalam hati antara marah dan penasaran itu.
Sejenak kemudian, Dera melihat Fikri dan Nira beranjak dari tempatnya dan kembali ke kamar mereka masing-masing. Dera yang melihat dari kegelapan pun tidak terlihat oleh mereka berdua.
"Lho kok mereka kabur, apa udah selesai yang di dapur, ah Leli ini ngapain, gak mungkin kan sama Gara gituan, mereka kan baru dekat beberapa hari ini, masak sih"kata Dera yang memang tidak terbiasa dekat dengan cowok lalu melakukan hal lebih, butuh beberapa lama baginya.
Beberapa menit kemudian, tentu saja Leli dan Gara keluar dari pintu dapur. Mereka saling melempar senyum dan mengecup bibir masing-masing sebelum Gara masuk ke dalam kamar.
Leli pun menuju kamar yang di depan dimana di depan kamarnya sudah ada Dera di sana.
"Ngapain kalian berdua di dapur hah?pasti elu"kata Dera
"ssst...eh kemarin Fikri sekarang elu mergokin gw deh Der"kata Leli
"eh Fikri juga tahu, pantesan dia tadi di depan pintu"kata Dera
"eh dia denger tadi"kata Leli
"kayaknya sih iya, ketagihan berarti denger elu desah kalau kemarin tahu juga"kata Dera
"ah biarin aja deh, gw udah bodo amat, elu rahasiain ini ya Der"kata Leli
"iya aman, mana ada rahasia elu yang bocor"kata Dera
"iya ya, kamu sahabat aku paling baik deh, eh elu ngapain di sini sejak tadi?"kata Leli
"kebelet gw, terus kaget karena pintu dapur tertutup dan ada Fikri di sana"kata Dera
"owh gitu kenapa elu gak dengerin juga kegiatan kita hihi"kata Leli
"enak aja, udah ah gw mau ke kamar mandi dulu aja, kebelet nih"kata Dera
Dera lalu pergi ke kamar mandi melewati kamar para lelaki yang sudah ngorok, terutama Halim. Dia melihat ke dalam dan mendapati Fikri yang berpura-pura tidur di sana.
"ah sialan, udah ah gw ke kamar mandi dulu deh"kata Dera.
Dera pun pergi ke kamar mandi. Dia selama beberapa saat di sana dan bertemu dengan Nira yang mengira bahwa Fikri sedang di kamar mandi.
"Eh Dera"kata Nira
"iya Nir, elu mau ke kamar mandi?"kata Dera
"iya Der, kebelet juga nih, malam-malam maunya pipiss terus "kata Nira
"owh gitu, ya udah"kata Dera
Dera pun kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamar. Fikri lalu kemudian pergi ke dapur setelah mengetahui Gara sudah lelap.
Fikri pun duduk di kursi dapur sambil menunggu Nira yang sedang di kamar mandi meskipun Fikri meragukan yang di mamar mandi adalah dia
"Nira apa sedang di kamar mandi ya"kata Fikri
Beberapa saat kemudian Nira pun keluar dari kamar mandi dan di sambut senyuman oleh Fikri dan di balas oleh Nira.
"Hai sayang, udah lama ya"kata Nira lalu duduk di pangkuan Fikri sambil mengalungkan tangannya ke leher Fikri
"belum kok, baru saja tiba"kata Fikri
"tadi tuh aku kira kamu yang ke kamar mandi, ternyata Dera deh, untuk gak gw panggil tuh"kata Nira
"hmm gitu ya sayang, kamu hampir ketipu ya"kata Fikri
"iya sayang"kata Nira
"lanjutin yang tadi yuk sayang"kata Fikri
"ih kamu maunya, tapi aku kasih tahu dulu ya, aku gak pakai beha"kata Nira
"eh serius, wah aku bisa nikmatin dong"kata Fikri
"tentu saja aku akan memberikan kamu punya aku ini malam ini sayang, tapi di tutup dulu ya malu hihi"kata Nira
Nira pun kemudian bangkit dan menutup pintu dapur itu. Nira pun langsung menaikkan kaosnya memberikan sesuatu yang tidak terduga bagi Fikri, sebuah benda kenyal yang imut dan mungil serta menggemaskan.
"wah bagus banget sayang, aku suka deh"kata Fikri
"ah gombal aja kamu"kata Nira yang kembali ke pangkuan Fikri dan memberikan bendanya untuk di nikmati oleh Fikri.
Fikri jelas tidak menolak hal seperti itu. Apalagi sudah lama dia tidak menikmati sebuah benda yang kenyal dan nikmat itu
"aaaah...sayanggg ough.... enak banget hisapan kamu sayanggg"kata Nira
Fikri begitu menikmati hisapan pada benda Nira itu. Kenikmatan yang luar biasa yang dia dapatkan dari cewek yang bukan pacarnya itu.
"ssssshhh...enak banget sayang hisapan kamu ough...."kata Nira terus menikmati hisapan Fikri.
Fikri pun terus menghisap dan meremas benda itu bergantian. Lalu tangan Nira pun mulai meraih kepunyaan Fikri yang tentu saja sudah mengeras di balik penutupnya.
"punya kamu udah keras aja sih sayang, kamu sangat kepengen banget ya"kata Nira
"tentu saja sayang, ada kamu kok"kata Fikri
"hhmmm mau di keluarin gak nih sayang"kata Nira
"keluarin aja sayang, bikin dia bebas"kata Fikri
"baik sayang, aku keluarkan ya"kata Nira
Nira pun meraih benda kesayangan Fikri yang juga di sukainya itu. Lalu dikeluarkannya dengan menurunkan celana Fikri yang menutupinya.
"wow besar punya kamu sayang, lebih besar dari pacar aku, pasti pacar kamu puas maininnya ya"kata Nira
"mana ada, adanya gw di putusin mulu sayang"kata Fikri
"sayang sekali benda kamu kaya gini di sia-siakan, udah aku hisap aja deh"kata Nira
Nira pun lalu berjongkok di depan Fikri. Dia lalu memasukkan benda idamannya itu ke dalam mulutnya yang begitu menggoda.
"hmm penuh banget sayang aku suka deh"kata Nira
Nira yang begitu anggun itu menjadi seseorang yang berbeda ketika di hadapan benda kesayangan Fikri itu.
Wajahnya mulai berubah menjadi bersemangat dalam hal menikmati benda kesayangan Fikri itu.
Hisapannya begitu enak sehingga Fikri seolah bisa terbang melayang ke angkasa.
Begitu lama Nira menghisap benda kesayangan Fikri itu seolah tanpa lelah. Dia menikmati semuanya yang ada di sana tanpa tersisa satupun, semuanya basah oleh bibirnya.
"kalau mau keluar bilang ya sayang"kata Nira
"iya sayang"kata Fikri
Fikri sebenarnya sedikit kecewa karena Nira hanya berani sampai menghisap benda kesayangannya padahal ingin sekali Fikri memasukkanya ke dalam lubang milik Nira yang membuat Fikri penasaran.
"masih lama ya sayang, kuat sekali kamu"kata Nira yang menghisap sambil mengocok benda kesayangan Fikri itu
"iya sayang, masih lama sekali ini kayaknya"kara Fikri
"kalau kelamaan aku tinggal ya sayang, aku udah mau capek nih"kata Nira
"iya sayang, kocok terus aja bentar lagi keluar"kata Fikri
"Hmm kamu perhatian banget ya sayang"kata Nira
Nira kemudian bangkit dan memberikan bendanya untuk di hisap kembali oleh Fikri supaya Fikri bisa cepat keluar.
Tidak lupa tangannya terus mengocok dengan cepat hingga Fikri pun merasakan akan keluar
"aku mau keluar sayang"kata Fikri
"hmm mau keluar juga ya sayang, iih penasaran seberapa banyak, eh tapi kemarin baru keluar juga ya sendirian di kamar mandi"kata Nira yang melepaskan bendanya dari hisapan Fikri
"iya sayang, aku keluarrrr aaaah..."
Fikri pun keluar menyemprotkan cairan ke perut rata Nira yang memang sengaja untuk menahannya.
"wah banyak juga ya,padahal kemarin udah, udah berapa lama gak ngocok gini sebelum kemarin"kata Nira
"usah lama kok sayang"kata Fikri
"ah perut aku jadi belepotan gini deh sayang"kata Nira
"ini bersihkan pakai tisu aja ya"kata Fikri sambil memberikan beberapa lembar tisu dapur kepada Nira
"wah kamu baik banget deh, suka sekali cowok kayak kamu, sayang aku udah ada cowok"kata Nira
"iya sayang, udah kamu giniin aja udah senang kok akunya, kapan-kapan kalau di masukin lebih enak nih"kata Fikri
"ssst...kamu ini jangan berlebihan ya, aku udah baik hati nih ngasih kamu keluar, coba kalau sendiri, gak seru kan"kata Nira
"iya sayang, makasih ya"kata Fikri
"udah selesai, yuk"kata Nira menurunkan kaosnya dengan cepat setelah perutnya bersih dan Nira pun kembali rapi.
Tapi sama dengan kelakuan meraka tadi waktu melihat Leli, di tempat yang sama di balik pintu, Dera melihat mereka berdua sedang seperti itu.
"ah sialan punya Fikri besar juga ya, gw jadi pengen deh, dasar mereka ini main enak aja di dapur malam-malam, gak Fikri gak Leli, bikin pengen aja"kata Dera sambil meremas bendanya yang kenyal dan berukuran cukup besar itu.
"udah ah nanti ketahuan, kalau ketahuan enak banget Fikri pasti minta jatah ke gw deh, tadi mau minta ke Nira tapi untungnya dia gak mau"kata Dera
Baik Dera maupun Nira masih belum siap memberikan enak seperti yang dilakukan oleh Leli dan Gara mengingat mereka baru dua minggu saja kenal meskipun selama itu juga mereka tinggal bersama.
Fikri pun akhirnya bisa tidur sangat nyenyak karena hal yang di lakukannya bersama Nira barusan. Bagaimana pun meskipun hanya pakai tangan, tetapi tangan Nira lebih baik daripada pakai tangan sendiri.