"Sayang, ayo." Ah, Mas Hanan bisa-bisanya panggil sayang di depan Budhenya. Dan meraih tanganku dengan lembut. "Iya, Mas." "Aduh mesranya, Budhe jadi iri. Nganan saja lah." Godanya pada kami. Mama tertawa lirih. "Hanan awas ya, kau punya hutang sama Budhe kita makan malam bersama kalau enggak kita liburan bersama." "Siap. Apa sih yang enggak buat Budhe." "Asyik." Wanita itu sangat ramah sekali. Apa dia lupa jika aku pernah dilabraknya. Ya wanita itu yang terang-terangan yak suka padaku dan pernah mengancamku. Apa dia pangkling melihatku. Tanpa kata-kata, Mas Hanan meraih tanganku kembali, lalu mengajakku berjalan ke arah pelaminan dimana banyak dari rekan dokter yang mengantre untuk menyalaminya. Rasanya masih sama. Dadaku terasa sesak, aku tak tahu bagaimana dengan hatiku

