"Terus kenapa ngintilin terus?" "Emm, takut, Non kabur lagi." "Astaga enggak. Minggir." Kataku kesal. "Iya, Non." Aku mengguyur tubuhku rasanya sangat segar apalagi setelah aktivitasku seharian ini. Selesai aku mengikat rambut dengan handuk, keramas membuatku lebih segar. Saat aku keluar kamar mandi, Mbak Tun sudah menungguku di sofa dan memberikan makanan. Mbak Tun dengan setia menungguku, sampai aku selesai makan, ada kecemasan dalam kedua netranya saat menatapku. Aneh sekali ini, membuat selera makanku jadi berkurang. "Kenapa sih?" "Mbokya kalau pergi bilang to, Non. Kami semua dimarahi sama, Den Hanan lo." Dan aku tak peduli. "Masa." "Non Khalisa." "Iya-iya, Mbak Tun." Lama kami dilingkupi sunyi, hanya suara sendok dan piring terdengar. Kami diam bersama pikiran yang ent

