Bomerang

1299 Kata

Aku baru sadar saat menatap Khalisa. Ternyata keahlian Khalisa make up nggak kalah dengan penata rias profesional. Aku sampai pangling melihat wajahnya. Riasan wajah natural sangat serasi dengan rambut panjang yang dikerli. Mengenakan celana jeans dan kaos putih saja membuatnya sangat anggun. Pantas saja Mas Alan tak henti menatapnya. Tapi bukan si Alan namanya kalau nggak memaksa, sekali lagi aku harus mengalah demi Muna. "Papa please." Rengek Muna. "Ya boleh," kekehku. "Ye makasih, pa." "Ya," sungutku nggak enak hati. Mengekor mereka kini si Alan beneran masuk ke ruangan untuk bermain bowling. Entahlah. Tiba-tiba merasa kesepian di tengah keramaian? itulah suasana hatiku saat ini gara-gara si Alan. Kini aku malah merasakan kekosongan di dalam sini. "Udah, buruan ayo masuk, t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN