Damar hanya diam saja saat Wulan bicara lantang di depannya. Entah kenapa keberanian Damar selama ini menjadi surut saat melihat Wulan marah. "Kenapa diam, ayo bicara padaku, apa yang aku katakan itu salah?" "Dik, kamu benar." Damar hanya menjawab singkat pertanyaan Wulan, dirinya lebih memilih untuk tidur meringkuk di atas tempat tidur dari pada meladeni kemarahan Wulan. Melihat Damar yang pergi berbaring tanpa memperdulikan dirinya yang sedang emosi, Wulan pun akhirnya duduk bersimpuh di samping dipan tempat ia tidur. "Kenapa sekarang kamu selalu mengabaikan aku," suara Wulan bergetar menahan kesedihann, derai air matanya mengalir deras tanpa bisa di bendung lagi. Damar masih tidak berkutik dari posisi meringkuk, ia tidak berani bergerak agar Wulan tidak curiga kalau dirinya masi

