Kemarahan Wulan Memuncak

1397 Kata

Mbok Ijah pergi ke dapur menyiapkan air gula hangat pesenam Wulan, sedangkan Wulan masih duduk di sofa. Damar nampak dingin saat melihat Wulan baru bangun tidur, ia dengan santai duduk di samping Wulan. "Kau sudah, baikan?" "Mas, aku minta maaf kalau aku melakukan kesalahan." "Aku yang minta maaf, aku bersikap kasar kemaren." Wulan mencoba mendekat ke arah Damar, ia memegang tangan Damar, sudah lama mereka tidak duduk berdua seperti itu. Damar menyentuh perut Wulan dan mengelus dengan lembut. "Akhirnya aku akan punya anak sendiri, tapi sayang, aku besok harus pergi ke Surabaya." "Besok?!" Wulan terkejut dengan keputusan Damar yang akan pergi ke Surabaya secepat itu. Wulan menggenggam erat tangan Damar, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. "Sudahlah jangan menangis,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN