Hati Wulan terluka, sikap Damar yang begitu acuh dan dingin membuat dirinya memutuskan untuk diam di sudut rumah itu sambil menangis. "Apa salahku, kenapa Mas Damar berubah dingin dan acuh tak acuh padaku?" Derai air matanya mengalir deras, Bu Gatot datang entah dari mana, ia yang melihat Wulan menangis di sudut ruang keluarga, segera mendekati anaknya itu. "Bukankah itu Wulan? Kenapa ia duduk di bawah begitu? Apa dia sakit?" Bu Gatot mendekat dan jongkok di depan Wulan, tangannya menyibak rambut putri kesayangannya itu. "Wulan, kamu kenapa, Nak?" "Aku tidak apa-apa, Bu!" "Lalu, kenapa kamu menangis di sini?" Wulan mengusap pipinya yang dipenuhi genangan air mata, ia tidak ingin ibunya tahu tentang masalah yang menimpa dirinya. "Gak ada apa-apa, aku cuman menangis karena bahagia

