Setelah mengantar Kirana ke kamarnya, aku mengikuti Dokter Heru ke ruangan pribadi pria yang sebaya dengan Paman Sam itu. Begitu tiba di ruangannya, Dokter Heru mempersilahkanku duduk sementara dirinya sibuk menyeduhkan kopi sachet untukku di pantry kecil yang terletak di ujung ruangannya. “Di telepon tadi, kamu bilang ada yang ingin kamu bicarakan tentang Kirana. Sepertinya itu kurang bagus jika melihat dari tampang kamu sekarang. Apa keluarga korban mau mengajukan banding?” tanya Dokter Heru sambil meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di hadapanku. Dalam hati aku menggagumi Dokter Heru. Kadang aku tidak perlu repot menceritakan apa-apa pada Dokter Heru, tapi pria itu bisa menebak benar apa yang sedang menjadi bahan pemikiranku. “Sayangnya kemungkinan besar beg

