“Hai sayang.” Sapaan Elios terbisik tajam di telinga Aini. Aini dengan canggung membalasnya, “Hai ….” Sekali lagi, Elios mencium bibir istrinya. Lelaki itu mengambil kursi untuk duduk di sebelah Aini lalu mengelupasi beberapa buah-buahan. “Buah-buahan segar baik untuk kandunganmu,” Elios tersenyum. Irisan apel dimasukkannya ke mulut Aini. Aini menerimanya dengan canggung. Perempuan itu mengunyah pelan dan memasang senyum palsu yang begitu manis. “Oh ya, tadi aku ke luar untuk mempersiapkan acara besar-besaran atas kehamilanmu. Baru dipersiapkan, acaranya akan diselenggarakan setelah Fadli sadar. Tidak mungkin kita menyambut bahagia sang adik tanpa kakaknya ‘kan?” Elios berkata dengan senyuman. Aini balas tersenyum agar lelaki itu tidak tersinggung. “Aku sangat tidak sabar bayi itu kel

