Bertahun-tahun menikah, baru kemaren aku melihat buku nikahku sendiri. Kusandingkan keduanya di depan mataku, milikku dan milik Mas Eli. Jika dilihat-lihat mereka serasi, aku tidak bisa berhenti memandanginya sejak tadi. “Pagi,” Mas Eli menyapa, dari belakang memeluk dan mengalungkan lengannya ke leherku. Napasku tertahan karena punggung telanjangku menempel erat di dadanya, sapaan lelaki itu benar-benar merusak pagiku yang indah setelah melalui malam yang buruk. “Pagi,” aku mengecup sekilas bibirnya, agar lelaki itu bisa lebih jinak. Tidak, ternyata aku salah. Dia malah menjadi buas. “Fadli kamu kemanakan setelah sembarangan masuk ke sini?” Tanyaku saat lelaki itu menelusupkan kepalanya ke ceruk leherku. “Dia tidur di kamar kita, salahmu lari tidak bilang-bilang.” Kenapa lelaki itu ti

