Hari yang kulalui benar-benar melelahkan. Padahal tidak banyak tamu diundang, tapi di gedung kami menghabiskan waktu sampai seharian. Entah bagaimana kondisi riasanku saat ini setelah tengah malam, karena terlalu lelah meski Mas Eli kularang keras menyentuhku kami benar-benar menginap di salahsatu kamar hotel. Fadli yang juga tidak mungkin pulang sendirian menginap di gedung hotel yang sama tapi beda kamar. “Kamu duluan membersihkan diri,” ujar Mas Eli yang nampak lelah di atas ranjang. Lelaki itu terbaring terlentang sambil melonggarkan dasinya dari leher. Aku yang sejak tadi kesusahan melepaskan gaun putih yang membalut tubuhku mengangguk. Tiba-tiba Mas Eli mendekat lalu membantuku menurunkan rasleting gaun yang ada di punggung. “Capek, ya? Mau Mas pijitin dulu sebelum kamu mandi?” Lel

