“Kusarankan kamu untuk mengikuti programnya,” di bangku setir, Mas Eli berkata. Aku yang duduk di sebelahnya semakin menyandarkan tubuh ke jendela mobil, kami di perjalanan untuk berangkat pulang. Helaan napas lelahku terdengar, “Mas dengar sendiri dokter bilang, rahimku sedikit bermasalah.” Alasanku membuat wajah lelaki itu mendingin. “Tidak usah terlalu dipaksakan. Kita lakukan programnya kapan kita siap saja, aku belum mau punya anak kedua. Aku masih ingin fokus pada Dli dulu, sudah berapa kali kukatakan padamu?” “Dli sudah SMP, dia sudah cukup besar untuk punya adik,” Mas Eli dengan keras kepala menyahutiku. “Sayangnya di sini aku yang belum siap,” jawabku. “Kenapa kamu tidak siap?” Mas Eli menatapku dingin. “Aku punya banyak uang untuk menyewa orang untuk mengurus anak itu nanti

