“Maaf,” ujarku padanya sambil menelan ludah. Seharusnya tidak ada yang salah dari diriku, haid adalah sesuatu yang wajar dan hanya Tuhan yang berhak memberikan rezeki kehamilan, tapi mendapati Mas Eli yang begitu kecewa mendengarnya hanya dengan minta maaf aku bisa menenangkan lelaki itu. Atau … sedikit pelukan dan ciuman? Aku tidak berani melakukannya karena merasa itu berlebihan. “Kamu tidak seharusnya sekecewa itu,” pintaku padanya yang diam total. “Aku juga belum siap jika harus hamil lagi dan memiliki anak kedua,” sambungku dan sedetik kemudian menyesal telah mengatakannya. Di dalam hati aku hanya bisa berharap semoga Mas Eli tidak marah karena aku salah bicara. “Apa masakanmu sudah selesai? Aku ingin langsung makan siang dan berangkat ke kantor, setelah itu menjemput Fadli di seko

