Bab 23: Haid

1003 Kata

Pagi pertama di rumah ini lagi, aku begitu grogi saat kumpul bertiga. Mas Eli terlihat begitu bahagia saat sarapan, lelaki itu rapi dengan setelan kemeja putihnya untuk berangkat bekerja dan Fadli terlihat murung saat menyantap makanan yang kusajikan di atas meja. “Kamu yang masak, ya?” Mas Eli menanyaiku, lalu memuji. “Hem, enak banget, loh.” Aku hanya tersenyum mendengar pujian lelaki itu. Sedikit ada rasa senang di hatiku, tapi rasa kecewa lebih mendominasi. “Fadli mau berangkat ke sekolah ‘kan?” Mas Eli menanyai Fadli yang mendadak berhenti menyuap. Fadli mengangguk ragu, “I-iya, Pa.” “Nanti biar Papa yang antar,” Mas Eli menawarkan dengan lembut. Sekilas mereka terlihat seperti ayah dan anak pada umumnya. Sifat Mas Eli jauh berbeda dari dahulu, entah itu memang sifat barunya atau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN