Bab 22: Fadli Yang Berubah

1102 Kata

Mataku mengedar ke pelayan-pelayan yang menghadang pintu utama. Kutarik kembali tanganku yang dicekram erat oleh Mas Eli, namun dengan gesit lelaki itu menangkapnya lagi, kali ini dengan begitu kuat meremuknya agar aku tidak bisa menarik tanganku kembali. “Akan kulakukan segalanya demi segelintir kesempatan Aini, kumohon … aku sangat merindukan kehadiranmu di rumah ini,” Mas Eli menatap mataku, tiba-tiba lelaki itu memelukku erat, membuatku tidak nyaman. “Lepaskan, Mas!” Berontakku dengan suara sinis, “Aku ingin pulang.” Aku membuang muka karena takut menatap matanya. Awalnya, raut wajah Mas Eli berubah. Sekilas membuatku percaya kalau lelaki itu memakai ekspresi memelas yang palsu. Tapi sedetik kemudian wajah dinginnya kembali memohon seperti sebelumnya. Seperti tadi lelaki itu merund

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN