Sudah lama Aini tidak menginjakkan kaki ke sini. Mobil mewah yang tadi dilajukan oleh Elios sudah sampai di sebuah rumah luarbiasa besar nan megah yang Aini ketahui sebagai rumah mertuanya. Aini turun dari kendaraan beroda empat tersebut dibantu oleh Elios. Elios yang menyambut tangan Aini mencium lembut wanita itu dengan haru lalu membawanya masuk. “Nanti kita pinjam kamar ke Papa,” ujar Elios sudah berencana besar dengan malam yang hendak mereka lalui. “Fadli dimana?” Aini yang sangat mengkhawatirkan anaknya bertanya. “Mungkin sedang mengobrol dengan kakek dan neneknya, Liam tadi menelponku mereka sudah sampai ke sini duapuluh menit yang lalu.” Mendengar penjelasan Elios, Aini menghembuskan napasnya dengan lega. Wanita itu mengikuti langkah Elios yang hapal seisi rumah. “Yam, Fadli d

